Diratukan (Mantan) Mafia

Diratukan (Mantan) Mafia
97. Maaf


__ADS_3

"Nabila! Sayang ... hei! Bangunlah! Tugasmu masih panjang! Ada malaikat-malaikat kecil yang harus kau asihi. Ada suami yang masih membutuhkan bimbingan mu, dan ada banyak orang yang menunggu kebahagiaan mu! Percayalah! Kau masih sangat bermanfaat untuk banyak orang! Bangunlah! Sebarkan kebaikan walau hanya sebesar biji sawi! Banyak orang yang menyayangimu wahai ratu (surga) dan bidadari dunia. "


Kelopak mata itu perlahan terbuka. Sangat pelan juga penuh kehati-hatian. Bulir bening menetes dari sudut matanya. Kepalanya menoleh ke kanan dan ke kiri, tidak ada siapa pun di sana. Hingga, beberapa detik kemudian, pintu di ujung sana dibuka dengan sangat keras. Orang-orang berpakaian biru saling berlari menghampiri keberadaannya. Wajah-wajah ini, Nabila belum pernah melihatnya. Ada satu sampai dua orang yang mungkin dia kenal. Namun, selebihnya, Nabila tidak tahu.


"Masyaallah. Ini adalah keajaiban. Hampir satu minggu kita menunggu. Tanda-tanda pada alat vital pasien sangat baik. Semuanya normal, seperti tidak pernah terjadi apa-apa."


Wanita itu hanya dia dengan mata bergerak ke sana kemari. Dia terlalu bingung. Bau obat terlalu menyengat untuknya. Di sana juga sangat dingin. Tenggorokannya kering dan sakit. Nabila tidak bisa mengeluarkan suara.


"Kita pastikan dulu semuanya! Jika memungkinkan, kita akan langsung memindahkan pasien ke ruang rawat inap!"


"Baik, Dok!"


....


"Sayang! Kau sudah sadar? Apa semuanya masih sakit? Bagian mana yang sakit, hmm? Mau aku panggilkan dokter? Apa yang kau butuhkan? Kau!"


"Shutttt!" Nabila menaruh jari telunjuknya di atas bibir. Dia tentu tidak kuasa ketika melihat laki-laki yang biasanya tegar menitikkan air mata. Tangannya terulur, meminta Bara untuk mendekatkan telinganya. "Anak kita, anak-anak kita mana, Mas?" Suara itu terdengar sangat lirih dan samar. Bara tersenyum, membelai wajah sang istri kemudian mengecup istri cantiknya itu sekilas. Wajah ini masih sangat pucat. Agak sedikit kurus dari terakhir kali. Namun, dia tetap wanita yang sangat cantik untuk suami dan juga untuk anak-anaknya.


"Mereka baik-baik saja, Sayang! Mereka masih menginap di inkubator, tapi aku yakin, mereka bisa melewati ini dengan mudah. Sekarang, fokus pada pemulihan mu. Ada Mbak Aisyah yang mendonorkan ASI-nya untuk para malaikat kecil kita," ujar Bara. "Kamu gak usah khawatir, saya sudah melakukan banyak pemeriksaan. Akhlak Mbak Aisyah juga sangat baik, sama sepertimu."


Nabila hanya mengangguk. Syukurlah jika seperti itu. Tapi tunggu, kenapa, kenapa Bara langsung mencari pendonor, bukankah dia hanya tidur sebentar.


"Sekarang tanggal berapa, Mas?" tanya Nabila lagi.


"Tanggal 30. Satu minggu setelah kau melahirkan!"


Kening Nabila mengerut. Satu minggu, kenapa bisa? Dia merasa jika dirinya baru tidur kemarin. Kenapa sudah satu minggu, selama itu kah? Untuk sesaat Nabila terdiam. Bayangan dimana saat dia bertemu dengan kedua orangtuanya kembali melintasi pikirannya. Nabila tersenyum kecil, mungkinkah orang-orang ini yang memanggilnya dan memintanya untuk kembali.


Helaan napas pelan keluar dari bibir wanita itu. "Mas kenapa semakin kurus? Mas juga tidak bercukur!" Nabila berujar seraya mengusap wajah suaminya. Membelai jenggot sang suami yang tumbuh lebih panjang dari biasanya. Sepasang mata laki-laki itu terpejam. Menikmati setiap sentuhan yang dia berikan. Tangannya digenggam dengan erat seolah-olah ingin mengatakan jika dia tidak ingin kehilangan. Wajah ini sedikit berbeda. Binar yang sering dia lihat di mata suaminya juga tidak ada. Satu minggu, baru satu minggu Nabila meninggalkan laki-laki ini, tetapi keadaannya sudah sangat kacau.


"Terima kasih, Sayang! Terima kasih karena sudah kembali. Maafkan aku, tapi ... setelah ini, aku berjanji, aku akan semakin mencintaimu. Aku akan lebih sabar dan akan menjadi pendengar yang baik. Jangan ampuni aku jika ada satu patah kata pun yang membuatmu terluka. Aku mohon, cukup kali ini saja aku kehilangan mu. Aku tidak ingin melihatmu kesakitan lagi. Aku akan menjagamu Baby. Apa pun dan bagaimana pun keadaannya, kau akan tetap menjadi prioritas pertama bagiku. Aku mencintaimu, Sayang. Sangat."


Nabila mengangguk-anggukan kepalanya. Tentu, dia akan menerima janji laki-laki di depannya, siapa yang tidak senang saat mendengar janji seperti itu. Melihat keadaan Bara saja, Nabila sudah sangat tahu jika laki-laki ini sangat menyayanginya. Sebegitu kacaunya Bara hingga dia si perfeksionis tidak bisa merawat dirinya sendiri.


....


"Hati-hati, Sayang! Pelan-pelan!" kata Bara membantu Nabila untuk belajar berjalan dan menggerakan tubuhnya yang kaku. Wanita ini masih sangat lemah, tapi dia bersikukuh ingin segera menjalani aktivitas seperti biasa.

__ADS_1


"Akhhh!"


Bruk!


Bukannya takut, Nabila malah tertawa karena tubuhnya oleng. Beruntunglah Bara benar-benar sangat sabar, cekatan dan juga telaten, dia bisa melakukan semua ini dengan perasaan yang lebih baik.


"Mas!"


"Hmmm! Kenapa? Ada yang saki?" tanya Bara menunduk menatap istri cantiknya yang sedang mendongak dalam dekapannya.


Nabila menggeleng-gelengkan kepalanya cepat. Wanita itu menarik tengkuk Bara kemudian mengecup bibir suaminya cukup lama. Dia tidak bisa berjinit karena luka yang ada di perutnya tidak mengijinkan Nabila untuk melakukan hal itu. Bara kembali menarik tengkuk istrinya ketika sang istri hendak melepaskan kecupannya. Dia memangku sang istri kemudian mendudukkannya di atas ranjang dengan sangat hati-hati.


"Makan siang, dulu! Kau harus mendapatkan nutrisi yang baik agar kau bisa menyusui dua pangeran dan satu princess kita. Kau juga harus cepat sembuh! Ada yang ingin saya tunjukkan padamu?" lirih Bara seraya mengusap kepala istrinya dengan usapan yang sangat lembut.


Nabila hanya tersenyum. Dia mengangguk seraya mengedarkan pandangan. "Makan siangnya mana?" tanya Nabila kebingungan. Wanita itu menatap ke arah pintu ketika tangan suaminya melakukan panggilan dari ponselnya. Mulut wanita itu ternganga dengan mata yang membulat sempurna.


Orang-orang bersetelan rapi membawa meja dorong dengan berbagai makanan, lauk pauk dan juga desert. Oh sungguh, di sana juga ada beberapa wanita yang mengenakan jas putih, jangan bilang kalau wanita itu adalah.


"Selamat siang, Nyonya. Saya Maria, dokter ahli gizi pribadi Anda."


"Saya Ratih, kepala perawat yang akan mengurus semua keperluan Anda."


Nabila kembali menoleh ke arah suaminya. Bara, oh sungguh, laki-laki ini benar-benar tidak bisa dipercaya.


"Mas Baraaaaa!" geram Nabila tanpa membuka bibirnya. Matanya melotot menatap sang suami dengan jemari tangan yang mencubit kulit perut suaminya itu.


"Aku juga mencintaimu, Sayang!" jawab Bara tanpa dosa.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


.


The End.


Masih ada satu part epilog ya. Mohon ditunggu. Sekarang kita buat visual mereka lebih dulu.



Ibu negara. Nabila yang tidak suka diekspos.



Bapak Negara dengan karisma sejuta rasa.



Mbak Marlina yang manis nan kalem.



Ezra, si tukang rusuh.



Akang Durant yang ganteng maksimal.



Si Cantik Jess-Jess kesayangannya Om Durian.



Mas Daud (Max) yang paling kalem.


__ADS_1


Triplets nya Mama sama Papa Bara.



__ADS_2