
Nabila tersenyum saat para perias itu sedang me make over wajahnya. Dia sesekali melirik ke arah sofa tunggu. Suaminya masih belum kembali. Dia menatap Ezra, bocah kecil itu masih asyik dengan sempoa di tangannya. Karena bosan, wanita itu iseng membuka ponselnya. Namun, ketika melihat sesuatu, keningnya mengkerut. Nabila langsung membuka artikel tersebut dengan mata yang membulat sempurna.
"Astaghfirullah ... Mas Bara," gumam Nabila membekap mulutnya yang menganga. Wanita cantik itu langsung berdiri mengabaikan perias wajahnya. Dia mengangkat baju yang dia kenakan dan berjalan tergesa ke arah arah pintu.
"Mas!" ucap Nabila. Bara menatap ke arahnya dengan wajah bingung. Dia melihat perias itu masih berusaha untuk merapikan dandanan istrinya. Mungkin karena dikejar waktu.
"Kenapa?" tanya Bara.
"Ini, Mas yang udah jebloskan suami Adel ke penjara? Perusahannya terancam bangkrut. Bukan Mas Bara 'kan yang melakukan semua ini?" Nabila memperlihatkan artikel di ponselnya pada sang suami.
"Jika saya melakukannya, memang kenapa? Saya hanya membantu pihak kepolisian."
"Mas!" gumam Nabila memejamkan matanya. "Mbak tolong!" kata Nabila kepada perias wajahnya yang masih memoles meskipun dia tahu jika Nabila sedang berseteru dengan suaminya. "Pergilah!" titah Nabila dengan suara yang semakin melemah. Perias itu pun pergi setelah membungkuk dalam ke arah Nabila dan Bara. "Mas, Adel itu lagi hamil. Bagaimana dengan bayi yang dia kandung kalau ayahnya tiba-tiba masuk penjara? Kasian Adel, Mas!"
Bara tidak langsung menjawab. Dia menuntun istrinya untuk kembali duduk. Bara berjongkok, mengusap wajah sang istri dengan sedikit senyum di wajahnya. "Mas tahu, kamu itu orang yang baik. Mas gak mungkin melakukan hal-hal yang akan membuatmu dan anak-anak kita mendapatkan masalah dunia dan akhirat. Suaminya Adel memang memiliki bisnis gelap. Mas tidak melakukan sesuatu yang melanggar syariat. Mas cuma bantu mereka yang mungkin akan tertipu oleh suaminya Adel agar terhindar dari masalah. Percaya sama saya."
Nabila menelisik wajah suaminya, dia menatap wajah itu lekat, mencari kebohongan yang mungkin saja suaminya katakan. Kini Nabila pun bungkam. Dia tidak bisa berkata-kata. Namun, terbersit di dalam hatinya rasa khawatir akan sosok Adel. Kasihan wanita itu jika nanti dia harus kembali terlunta-lunta.
"Mas!"
"Hmmm! Kenapa, Sayang?" tanya Bara menaruh kepalanya di atas pangkuan sang istri. Dia memejamkan mata dengan tangan yang mengelus perut istrinya perlahan.
__ADS_1
"Bila minta maaf!"
"Kamu gak salah! Wajar jika kamu khawatir. Saya tahu, masa lalu saya membuatmu berpikir seperti ini. Tidak apa-apa. Saya rhido akan itu!"
Senyum simpul tersungging di bibir Nabila tangan kanannya terulur, mengusap kepala suaminya dengan gerakan teratur. Persis seperti seorang majikan yang sedang mengelus anak kucing kesayangannya.
"Bila boleh minta sesuatu tidak?" tanya Nabila. Dia harap-harap cemas. Takut jika suaminya itu tidak akan mengabulkan apa yang dia minta nantinya.
"Apa?" tanya Bara setelah mendongak menatap istri cantiknya lekat.
"Bila bicarakan ini nanti, hmm. Sekarang kita harus menghadiri pernikahan Kang Daud sama Mbak Marlina!" ucap Nabila tersenyum.
"Ezla ikut!" pekik bocah kecil itu seraya berlari menghampiri Nabila dan Bara. "Ezla mau liat Mbak Malina sama Om Daud. Aunty Jess-Jess sama Om Dulian juga!"
....
Nabila menitikkan air mata selepas ijab kabul selesai. Pernikahan ini persis seperti pernikahannya dengan Bara. Wanita di depa sana menikah dengan wali hakim, bahkan ibu dan adiknya saja tidak datang. Kepalanya mendongak menahan bulir bening yang terus menyeruak. Ingin mengatakan jika semua ini terlalu menyakitkan. Namun, Nabila sangat berharap jika ini akan menjadi awal yang bahagia untuk Marlina dan juga Max.
"Tuh, kamu gak mau kayak mereka?" celoteh Durant di samping Jessica. "Enak tahu kalau udah nikah, ada yang merhatiin. Liat aja Boss Bara sama Nyonya Boss. Mereka kayak perangko sama amplop surat. Tidak pernah terpisahkan."
"CK, itu kalau suaminya ngerti dan sayang sama istri. Kalau enggak, ya alamat mati." Jessica mendengus kesal.
__ADS_1
"Tapi aku juga baik, kok. Gak kalah baik sama Boss Bara sama Max. Intinya, aku akan membuatmu menjadi wanita paling bahagia di dunia ini!"
"Gue gak peduli!" Jessica mengeja setiap kata yang dia ucapkan.
"Hahaha! Om Dulian, Om Dulian di tolak lagi ya sama Aunty Jess-Jess. Mangkanya, Om itu halus belajal dali Papa Bala sama Ezla. Ezla bisa, masa Om Dulian enggak. Ikh, gak asik!"
Durant dan Jessica melongo mendengar penuturan bocah kecil di dekat mereka. "Memangnya Boss Kecil udah punya cewek?" tanya Durant tersenyum mengejek.
"Lah ... punya dong!" jawab Ezra mantap.
"Mana? Kalau punya sini tunjukkin sama Om!"
Ezra tersenyum dengan senyum terlebar yang dia miliki. Dia melirik kanan kiri, melihat area itu untuk mencari sosok gadis yang ketatnya sudah menjadi pacarnya. "Itu dia!" tunjuk Ezra pada anak kecil seusianya.
"Kamu Dali mana aja, Zeyeng! Ezla nyali Nana gak ketemu-ketemu!" ujar bocah itu dengan bibir mengerucut.
Nana menghampiri Ezra. Dia menarik Ezra dan memeluknya sebentar. "Papa Nana tadi ada urusan. Jadi datangnya agak telat. Ayang udah nyobain makanannya belum?" tanya Nana.
"Belum. Ezla nunggu Nana. Jadi Ezla belum bisa makan!" ujar bocah kecil itu.
"Ya sudah, ayo, Nana ambilkan makanan untuk Ezra. Kita makan bareng-bareng ya!"
__ADS_1
Durant dan Jessica dibuat melongo untuk yang kesekian kalinya karena tingkah bocah bau kencur yang sudah pergi meninggalkan mereka. Bahu Durant langsung meleleh bak timah yang dipanaskan.
"Gue kalah sama bocah, njir!" gumam Durant dengan wajah dongkolnya.