
Bara memperhatikan setiap mobil yang ada di atas lantai khusus. Mobil-mobil itu adalah mobil contoh untuk versi terbaru dari mobil yang akan perusahaan Bara luncurkan tahun ini. Jenis mobil Hybrid yang memiliki body sedan sport terlihat sangat elegan dan mewah. Mobil ini adalah mobil listrik pertama yang akan Bara luncurkan. Jika kebanyakan mobil listrik memiliki harga di bawah 300 juta dengan bodi mobil yang agak kecil, mobil ini agaknya lebih istimewa karena semua komponen yang Bara gunakan adalah komponen yang dia kirim langsung dari pabrik asalnya di Prancis.
Kapasitas kabin yang lebih luas dan memiliki lebih dari satu mesin penggerak. Satu hal yang harus di acungi jempol dari mobil ini adalah beberapa sparepart mobil yang bekerja sebagai panel surya. Motor bahan bakar konvensional juga di gunakan kalau-kalau mobil ini dibutuhkan untuk jarak tempuh yang jauh. Poin utamanya tentu saja adalah motor listrik yang akan membuat mobil ini lebih ramah lingkungan.
"Apa aku bisa mencobanya?" tanya Bara kepada kepala pabrik di sana. Pabrik ini bukan pabrik inti. Hanya pabrik perakitan sebelum mobil terbaru Bara bisa diluncurkan.
"Sangat bisa, Pak. Jika Anda tidak keberatan, akan ada orang kami yang mendampingi, Bapak!"
Bara mengangguk, dia masuk kedalam mobil itu dan seseorang menutup pintu mobilnya. Pintu besar di ruangan itu terbuka ke atas. Sinar matahari mulai nampak, dan lapangan besar terlihat sangat menggiurkan untuk bara melakukan tes drive.
"Gunakan sabuk pengaman mu, Durant!" kata Bara mengingatkan. Awalnya Bara menginjak gas pada kecepatan paling rendah, semakin naik dan semakin naik lagi sampai, lutut kedua orang-orang yang ada di mobi tersebut bergetar karena ketakutan. Oh ayolah, mobil ini sudah di uji coba untuk beberapa hal. Kekuatan bodi mobil, juga keganasannya dalam menaklukan landasan. Namun, jika yang mengendarai mobil ini adalah Bara, mereka seperti akan dibawa untuk menemui malaikat kematian. Orang yang tadinya hendak memberikan arahan pun terdiam karena ternyata Bara sudah sangat memahami mobil tersebut.
Kitttt!
Suara decitan ban dan landasan yang bergesekan membuat orang-orang yang memperhatikan mobil itu dari layar monitor mengerutkan wajah. Oh sungguh, bos besar mereka ini benar-benar sangat gila.
"Aku suka performa nya!" kata Bara tanpa melihat ke samping dan kebelakang. Orang-orang itu langsung keluar dari mobil, mencari tempat aman untuk mengeluarkan isi perut mereka.
"Astagaaa ... habislah sudah makan siang ku," ucap Durant dengan suara yang sangat menyedihkan. Dia ingin menenangkan diri terlebih dahulu, tetapi, Bara sudah memberikan isyarat kalau mereka sudah harus masuk ke mobil itu lagi.
"Aku sudah tidak kuat," ucap salah satu pegawai yang tadi hendak memberikan arahan kepada Bara. Dia benar-benar sudah sangat pusing. Kepalanya terus bergoyang membuat isi perutnya bergejolak meminta untuk dikuras.
__ADS_1
"Sudahlah! Kita kembali atau kau haru berjalan di landasan ini sampai ke pabrik!"
Pabrik itu berada pada jarak sejauh mata memandang. Oh, mereka harus ikut naik ke mobil itu jika tidak ingin pulang ke rumah dengan keadaan kaki gempor.
Bara tersenyum ketika melihat Nabila sedang merapikan pakaian pada walk in closet miliknya. Laki-laki itu sengaja menaruh beberapa CCTV agar dia bisa tetap memantau wanitanya. Puas melihat Nabila, dia pun kembali menginjak gas dan memasukkan mobil itu ke tempat asalnya.
"Siapakan acara peluncuran mobil ini Minggu depan, Durant. Katakan pada 'wanita itu' agar dia mempersiapkan semuanya tanpa ada kesalahan. Saya ingin acaranya tidak terlalu berlebihan, tetapi, harus terkesan mewah dan mahal."
"Baik Bos!" jawab Durant dengan wajah pucat pasi.
Bara mengerutkan kening, dia melihat Durant dengan alis tertaut. "Kalau kebelet buang air besar ke toilet, Durant. Kau itu sangat jorok!" ingat Bara seraya menyentuh hidungnya.
Asistennya itu ingin berbicara, tetapi Bara sudah melengos begitu saja. "Bos, kau benar-benar sangat tega!" lirihnya.
Kali ini, Bara pulang agak malam. Mungkin sekitar jam setengah 7 malam. Ternyata pekerjaan membuatnya sedikit kurang nyaman. Rasanya kurang bersemangat karena dia tidak bisa melihat wanitanya untuk waktu yang cukup lama.
Pintu apartemennya terbuka. Durant masuk ke sana dengan harapan jika Nabila sedang menunggunya untuk makan malam. Namun, harapan itu musnah saat dia tidak melihat anak kelinci itu.
"Kau benar-benar pembangkang, Nabila!" geram Bara sembari mengepalkan kedua tangannya. Laki-laki itu menarik dasinya secara paksa dan melemparkan dasi itu sembarangan. Dia kembali keluar dari apartemennya. Menggedor pintu apartemen Nabila dengan emosi yang membeludak. Bara terpaksa membuka apartemen itu dengan sandi yang dia tahu. Kaki panjangnya membawa Bara melangkah dengan sangat cepat. Tangannya terangkat hendak menggedor pintu kamar Nabil, tetapi tidak jadi.
Gendang telinganya mendengar alunan suara yang sangat merdu. Laki-laki itu mematung. Dia bergeming tidak lagi bisa untuk berkata-kata. Benarkah ini suara Nabila? Kenapa Bara baru mendengarnya. Lagu apa yang sedang dia nyanyikan. Kenapa emosinya mendadak hilang seketika? Sihir apa yang Nabila miliki hingga dia bisa luluh dalam sekejap mata.
__ADS_1
Lantunan itu terus terdengar, Bara mendudukkan dirinya di samping pintu, bersandar pada dinding dengan mata terpejam. Bibirnya menyunggingkan senyum. Tiba-tiba, setitik air mata menetes dari pelupuk matanya. Bara terkejut, tentu saja. Kenapa dia tiba-tiba menangis. Nyanyian apa yang Nabila lantunkan. Apa yang terjadi dengan dirinya.
Usapan tangan Bara pada matanya membuat mata itu kembali terpejam. Suara Nabila semakin lama semakin merdu dan sangat menengkan.
"Shadaqallahul-'adzim'." Nabila menutup Al-Qur'an nya kemudian memeluk Al-Qur'an itu untuk beberapa saat. "Maha benarlah Allah yang Maha Agung."
"Mama!" panggil Ezra yang sejak tadi duduk bersila mendengarkan ibunya.
"Kenapa, Sayang?" tanya Nabila mengecup kening sang anak sekilas.
"Ezla lapal. Pelut Ezla nabuh gendang telus!"
Nabila tersenyum, dia membuka mukenanya kemudian beranjak sembari menggandeng tangan Ezra.
"Astaghfirullah!" Nabila terlonjak kaget saat melihat seseorang tertidur di samping pintu kamarnya. Buru-buru dia kembali untuk mengambil kerudung dan memakai kerudung itu dengan cepat. Ezra tersenyum. Dia berjongkok kemudian menusuk-nusukan jari telunjuknya ke pipi Bara. Laki-laki itu sangat pulas jika sudah tidur, atau mungkin dia memang tidak merasakan tusukan jari Ezra yang dia anggap seperti kuman air yang selalu mengganggunya.
"Ezra!" panggil Nabila sembari menggelengkan kepala. Nabila ikut berjongkok, dia menepuk pundak Bara beberapa kali untuk membangunkan laki-laki itu.
"Nabila!" gumam Bara seraya tersenyum. Nabila mengangguk, melihat Bara tersenyum seperti ini membuatnya ikut tersenyum. Untuk pertama kalinya Nabila melihat laki-laki menyebalkan ini tersenyum tulus.
"Kenapa Bapak tidur si sini?" tanya Nabila.
__ADS_1
"Saya suka lagu itu, Nabila. Saya mau mendengarnya lagi."
"Lagu?" tanya Nabila bingung.