
Durant merenung di depan pintu apartemen wanita yang sangat dia sukai. 6 bulan dia mengejar wanita ini, selama itu juga Durant selalu mendapatkan penolakan. Durant tidak ingin melepaskan Jessica. Mau ratusan kali pun dia ditolak, Durant tidak akan pernah berhenti dan tidak akan putus asa. Jessica harus menjadi istrinya karena dia harus menjaga wanita itu.
Tok! Tok! Tok!
Jessica membuka pintu setelah melihat layar interkom. Dia melesat meninggalkan Durant tanpa mau menyapa laki-laki itu. Sudah menjadi kebiasaan jika Durant akan memaksa dan membuat keributan kalau-kalau dia tidak membuka kan pintu.
"Kali ini apa lagi?" tanya Jessica yang sudah duduk di sofa dengan kedua tangan tersilang di depan dada. Wanita itu mengerutkan kening karena Durant yang tiba-tiba berlutut di depannya seraya menyodorkan sebuah kunci. Bukan kunci mobil, dan ... tak berselang lama setelah itu, Durant mengeluarkan kertas dari saku jas yang dia kenakan.
"Apa?" tanya Jessica kebingungan.
"Ini, aku sudah membeli sebuah rumah untuk kita. Aku sudah bilang, aku sangat mencintaimu, Jessica! Aku ingin kita menikah. Terima kunci ini dan akta rumah ini. Aku tidak akan memiliki hak atas apa yang aku miliki. Mobil, rumah, semuanya untuk mu! Jangan menolak ku lagi ... ayo nikah, Baby!"
__ADS_1
Jessica mendongakkan wajahnya ke atas. Dia menarik napas panjang dan menghembuskannya kasar. Wanita itu beranjak. Menarik jas yang dikenakan Durant lalu menyeret laki-laki dari sana.
"Gue udah bilang, gue gak mau nikah! Lo ngapain sih masih deketin gue! Gue gak mau sama lo, Durant! Keluar dari rumah gue!"
"Tunggu!" pinta Durant menahan kakinya agar Jessica tidak bisa mengusirnya dari sana. "Please, kasih aku alasan yang logis. Aku butuh jawaban pasti kenapa kamu gak mau nikah sama aku. Aku tahu, Jess. Kamu juga memiliki rasa yang sama. Iya ... meskipun bibir kamu menolak, hati kamu gak bisa bohong! Please, kasih aku jawaban yang pasti. Jangan seperti ini? Apa yang kurang dariku, apa karena aku bukan Boss Bara? Jadi kau enggak untuk menikah dengan laki-laki seperti ku?"
Jessica kembali mengembuskan napas kasar, dia berbalik meninggalkan Durant karena tidak ingin berdebat untuk yang kesekian kalinya. Jessica tidak bisa jika harus melayani Durant yang menurutnya sangat mengganggu.
"Jess! Please!" Durant masih berusaha mengikuti Jessica.
Jessica tidak melanjutkan kalimatnya ketika Durant tiba-tiba menyerangnya begitu saja. Laki-laki itu memojokkan Jessica ke dinding apartemen tersebut hingga Jessica yang terus memberontak tidak dia hiraukan. Pukulan-pukulan yang Jessica lakukan malah semakin membuat Durant memperdalam ciumannya, semakin ganas dan menuntut.
__ADS_1
"Eumh!" Jessica memukul dada Durant sangat kencang. Namun, semakin lama, pukulan itu malah semakin melambat dan pada akhirnya, Jessica mengalungkan kedua tangannya di leher Durant seraya membalas apa yang laki-laki itu lakukan padanya. Keduanya terhanyut dalam kobaran api yang mereka nyalakan di tengah badai. Durant, laki-laki itu berinisiatif membawa Jessica masuk ke kamarnya dan membaringkan wanitanya di sana dengan sangat perlahan.
Jessica meremas selimut yang membalut tubuh polosnya. Setelah bergulat cukup lama, mungkin dia tertidur dan saat di luar sudah gelap, dia baru membuka mata. Kepalanya menoleh, tidak ada siapa pun di sana. Tidak mungkin ini hanya mimpi karena dia benar-benar tidak menggunakan apa pun. Belum lagi, area sensitifnya benar-benar terasa sangat nyeri. Baru akan beranjak, Jessica kembali menjatuhkan kepalanya di atas bantal. Matanya terpejam ketika dia mendengar suara langkah kaki dan juga pintu kamar yang terbuka perlahan. Degup jantungnya berdebar tak karuan, apalagi saat dia merasakan ranjang yang menurun karena diduduki seseorang. Matanya dia buka sedikit untuk melihat siapa orang itu, dan tidak lama setelahnya dia kembali terpejam.
"Baby!" panggil seseorang dengan suara yang sangat lembut. Jessica hampir meledak karena panggilan itu. "Baby! Bangun dan mandilah! kau belum makan siang 'kan ini malah sudah malam. Aku sudah membuat pasta untuk mu. Bangunlah!" pinta Durant lagi. Jessica menggeliat, dia pura-pura terganggu padahal dia sudah sangat ingin tersenyum.
"Baby!" panggil Durant lagi. "Aku tahu kau sudah bangun!" bisiknya di samping telinga sang wanita.
Glek! Jessica hampir tersedak air ludahnya sendiri.
"Bangunlah sebelum aku yang menggendong mu ke kamar mandi! Banyak yang harus kita bicarakan. Terlebih soal anak mu. Aku janji, aku akan menjadi ayah sambung yang baik. Aku ingin bertemu dengannya dan meminta ijin agar aku bisa menjadi ayahnya. Bisakah lakukan ini utuk ku?" tanya Durant dengan wajah seriusnya.
__ADS_1
Jessica mulai membuka mata. Dia menatap Durant dengan tatapan tidak percaya. Benar-benar tidak percaya karena, baru kali ini dia melihat Durant berbicara degan sangat serius padahal di setiap harinya, dia selalu menjadi badut penghibur.
"Kau yakin mau bertemu dengannya?"