Diratukan (Mantan) Mafia

Diratukan (Mantan) Mafia
30. Ancaman


__ADS_3

Nabila menunduk menahan kesal saat melihat Bara duduk didepannya bersama dengan yang lain. Mungkin, jika dia tidak memiliki hubungan apa-apa dengan laki-laki ini, rasanya tidak akan seperti ini, tetapi, mengingat jika Bara adalah suaminya, dia takut laki-laki ini akan melakukan hal yang bisa saja merugikannya.


"Bagaimana, Pak? Apa Bapak ada pertanyaan?" tanya yang lain kepada Bara. Laki-laki itu mengangkat salah satu alisnya, dia menarik diri kemudian bersandar pada sandaran kursi.


"Saya hanya punya satu pertanyaan? Kau yakin kau bisa menjawabnya?" tanya Bara tersenyum menyeringai.


Nabila gelagapan, tetapi dia berusaha untuk tidak memperlihatkan hal itu. "Silakan saja, Pak!" ujar Nabila.


"Apa Anda memiliki orang dalam?" tanya Bara yang mana itu membuat para staf yang lain menatap ke arahnya kemudian menatap ke arah Nabila. Wanita itu diam, dia membalas tatapan Bara dengan tatapan bengis yang mampu membuat keduanya lupa jika saat ini ada orang lain di antara mereka.


"Terlepas dari itu, saya hanya bisa mengatakan jika saya masuk ke perusahaan ini karena kemampuan saya sendiri. Andai pun ada jalur belakang, saya rasa kemampuan yang saya miliki tidak akan merugikan perusahaan Anda, Pak Bara yang terhormat!"


Senyum kecil tersungging di bibir laki-laki itu. Sesuai dugaannya, tidak mudah untuk memprovokasi wanita ini. Dia sangat tangguh dan kekeuh pada keyakinannya. Bara senang karena Nabila tidak berubah sedikit pun.


"Kau boleh mulai bekerja, hari ini!" kata Bara. "Apa ada yang keberatan?"


"Iya, tidak, Pak. Bu Nabila memang kandidat yang pas. Selain berpengalaman, tidak ada yang minus!" jawab staf di ruangan itu.


....


Nabila mengembuskan napas panjang setelah keluar dari ruang interview. Jujur saja, dia merasa ini agaknya terlalu cepat. Akan tetapi, jika memang dia dibutuhkan qdjei, apa boleh buat. Nabila akan dengan senang hati menerima job ini.


"Nyonya Bos!"


"Nabila melotot, dia menaruh jari telunjuknya di atas bibir ketika melihat Durant berdiri di depannya. Wanita itu menoleh kanan dan kiri, memastikan jika tidak ada siapa pun di sana. "Panggil nama aja, atau Mbak, apa kek jangan panggil Nyonya Bos, kamu mau saya dikeroyok orang satu kantor?"

__ADS_1


Durant membungkuk cukup dalam. "Maaf, Bu. Bos memanggil, Anda. Tuan Bos menunggu Anda di ruangannya!"


"Mau apa lagi?" tanya Nabila agak malas.


"Biar saya tanyakan dulu!" jawab Durant seraya berbalik.


Nabila menepuk keningnya melihat kelakuan absrud tangan kanan suaminya. Apa Bara tidak bisa mencari orang yang lebih pintar dari orang ini.


"Tidak usah! Saya akan pergi ke sana!" ketus Nabila berjalan dengan tergesa. Sementara Durant, laki-laki itu hanya bisa menatap Nabila dengan wajah bingungnya. "Apa aku melakukan kesalahan?" tanya nya pada diri sendiri. Bukankah tadi istri bosnya itu bertanya. Apa salahnya jika mencari jawaban lebih dulu.


"Assalamu'alaikum!" Nabila masuk ke ruangan suaminya dengan wajah ditekuk masam. Dia ingin langsung menanyakan banyak hal, akan tetapi, perempuan yang sedang berdiri di depan meja kerja sang suami membuat Nabila tidak bisa melakukan apa yang dia inginkan.


"Wa'alaikumssalam!" jawab Bara, dia menyodorkan sebuah dokumen kepada Jessica kemudian mendongak menatap istri cantiknya yang sekarang sudah menahan kekesalan. "Keluarlah!"


"Eishhhhhhh, ngapain nyuruh ke sini kalau di suruh keluar lagi," gerutu Nabila.


"Baik, Pak!"


Nabila memejamkan mata menahan gejolak yang ada di dadanya saat mendengar instruksi dari laki-laki di depan sana. Dia hanya mematung untuk beberapa saat, hingga, setelah Jessica keluar, Nabila hendak berbalik akan tetapi seseorang langsung memojonkannya pada pintu. Tangan besar itu terulur, mengunci pintu tanpa mengalihkan perhatiannya dari mata sang istri.


"Selamat untuk mu, Nabila. Saya sangat bangga meskipun sebenarnya saya tidak yakin akan niat aslimu bekerja di sini."


Wanita yang kini mendongak menatap suaminya itu melongo dengan kening mengkerut. Dia tidak bisa mencerna apa yang suaminya katakan. "Maksud Bapak apa?" tanya Nabila ingin memastikan.


Bukannya menjawab, Bara malah tersenyum menyeringai, kaki-laki itu membelai wajah Nabila membuat wanita itu semakin bingung. Kepalanya menunduk, ingin mengecup bibir sang istri akan tetapi wanita itu langsung menoleh, guna menghindari ciuman suaminya.

__ADS_1


"Cih ... punya hubungan apa kamu dengan laki-laki itu, Nabila? Bukankah seharusnya kau tidak berhubungan dengan laki-laki lain? Kau ingin berselingkuh dibelakang ku?"


"What? Apa yang Bapak katakan, kenapa Bapak ...."


Belum sempat Nabila menyelesaikan kalimatnya, Bara sudah membungkam bibirnya tanpa bisa Nabila lawan. Wanita yang pada awalnya tidak merespon itu kini mulai mengikuti apa yang Bara lakukan. Bahkan, ketika Bara memangkunya, menyapu meja kerjanya kemudian mendudukkan sang istri di atas meja itu, Nabila tidak bisa melakukan apa-apa. Lagi dan lagi dia tersihir, Nabila selalu terjebak pada pesona Bara yang membuatnya candu.


"Pak ... tunggu!"


Nabila mendorong dada suaminya ketika laki-laki itu membaringkan dia di atas meja. "Jangan lakukan ini, kurang baik, Pak! Ini kantor, tolong!"


Dengan napas naik turun tak karuan, Nabila berusaha untuk berbicara dan meyakinkan suaminya. Akan jadi apa dia jika sampai Bara menggagahinya di tempat seperti ini. Nabila bukan wanita binal, dia masih tahu adab dan kesopanan meskipun Bara memang suaminya.


Hembusan napas terdengar sangat keras, Bara kembali mendudukkan Nabila, merapikan penampilan istrinya juga mengusap sudut bibir sang istri yang terdapat noda lipstik keluar jalur karena ulahnya tadi. Wanita yang mendapatkan perlakuan seperti itu hanya bisa diam menatap wajah suaminya yang tidak menunjukan ekspresi apa pun. Ada perasaan bersalah, tapi ini memang bukan waktu yang tepat.


"Bapak marah sama saya?" tanya Nabila. Entah kenapa pertanyaan itu tiba-tiba terlontar begitu saja. Nabila tahu, laki-laki ini adalah seorang diktator yang perintahnya tidak bisa dibantah. Namun, kenapa, kenapa dia tidak melanjutkan aksinya. Bukankah Nabila hanya pemuas nafsu nya saja. Kenapa laki-laki ini tiba-tiba mendengar ucapannya.


"Saya marah. Kenapa? Apa kamu tahu?" tanya Bara. "Mungkinkah kau melakukan kesalahan sampai kau menanyakan hal seperti itu?"


Bara meletakan kedua tangannya di sisi kiri dan kanan sang istri. Jarak wajah mereka semakin dekat seolah Bara tidak memberikan celah pada Nabila untuk bisa berlari.


"Saya tidak melakukan kesalahan apa-apa selain menolak ajakan Anda, Pak. Terlebih itu pun karena saya memiliki alasan. Jika itu di rumah atau ...."


"Atau ....!" ulang Bara menetap mata Nabila yang mulai tidak fokus. Wanita itu terjebak akan ucapannya sendiri.


"Atau apa Sayang? Kau mau kita pergi ke hotel? Ke Vila atau ke bulan?"

__ADS_1


"Ekh ...."


"Kita akan melakukannya di mana pun yang kau mau, tapi saya minta satu hal. Jangan mendekati laki-laki lain, Nabila. Jika kau berani berselingkuh, bukan hanya hidupmu yang akan berakhir. Tapi seluruh keluargamu akan habis ditangan saya!"


__ADS_2