Diratukan (Mantan) Mafia

Diratukan (Mantan) Mafia
68. Who Are You


__ADS_3

"Jessica!" panggil Nabila. Dia sedikit heran saat melihat Jessica berada di ruangannya. Ada masalah apa sampai wanita ini rela masuk ke ruangannya padahal mereka tidak cukup dekat. Terlebih Jessica tidak memiliki pekerjaan yang bersangkutan dengannya.


"Bu!" sapa Jessica. "Saya membuatkan Ibu teh camomile, barangkali Ibu suka!"


Nabila tersenyum, dia menarik kursinya kemudian duduk di sana, memeriksa dokumen dan laptop untuk persiapan meeting siang itu. "Terima kasih, lain kali tidak perlu seperti ini. Kau juga pasti sangat sibuk. Saya tahu, menjadi sekertaris Pak Bara tidak mudah. Bukankah dia terlalu perfeksionis?" tanya Nabila dengan senyumannya. Jessica ikut tersenyum.


"Tidak juga, Bu. Tapi iya sih, akh sudahlah, nanti saya malah membicarakan Tuan. Saya permisi, Bu!" pamit Jessica. Dia membungkuk ke arah Nabila kemudian keluar dari sana.


Kening Nabila mengkerut melihat punggung Jessica yang mulai menjauh, dia mengambil teh camomile yang Jessica buatkan, sedikit menghirupnya dan mencicipi teh tersebut. Tidak ada yang salah, tapi kenapa dia merasa ada yang janggal.


Tok! Tok! Tok!


"Masuk!" sahut Nabila.


Maurin berdiri di depan temannya seraya melirik-lirik ke arah luar, dinding ruangan Nabila terbuat dari kaca. Jadi dia bisa melihat keadaan di luar ruangan itu dengan leluasa.


"Kenapa, Rin?" tanya Nabila pada temannya itu.


"Bil, kamu kayaknya harus hati-hati sama si Jessica ini. Aku denger dari karyawan lain kalau dia sebenarnya suka sama suami kamu!"


Nabila tertawa kecil saat mendengar apa yang Maurin katakan. "Jadi, aku juga harus berhati-hati sama kamu!" ujarnya bercanda. "Bukannya kamu juga suka sama suami aku?" ucapnya lagi.


"Eishhhhhhh ... bukan kayak gitu. Aku gak tahu kalau Pak Bara udah punya istri. Terlebih istrinya kamu!"

__ADS_1


Nabila tidak mengindahkan apa yang Maurin katakan. Dia lebih memilih membereskan berkasnya dan berjalan keluar dari ruangan. "Sudahlah Rin. Orang suka sama orang itu gak bisa kita apa-apain. Yang penting, kita jangan sampai kayak gitu!" ucap Nabila. Dia tahu jika saat ini Maurin mengikutinya di belakang. Bibirnya tersenyum tipis kemudian membungkuk saat Bara dan juga kliennya berjalan melewatinya. Mungkin suaminya hendak keluar untuk membahas sesuatu.


"Iya juga sih, diliat dari sisi manapun, suami kamu itu memang sempurna. Siapa yang gak akan tergoda!" jawab Maurin tanpa melepaskan tatapannya dari Bara meskipun laki-laki itu sudah mulai menjauh. "Apa kamu gak risih karena orang-orang ini!" tunjuk Maurin pada dua bodyguard Nabila.


Nabila menghentikan langkahnya. "Asal suamiku tenang, aku tidak keberatan. Lagipula ...!" Nabila mendekatkan bibirnya ke telinga Maurin. "Mas Bara sudah menanamkan chip di tubuh orang-orang ini. Jika mereka ketahuan berkhianat, chip itu akan langsung meledak!" bisik Nabila dengan senyum menyeringai.


Maurin membulatkan matanya. Dia menatap Nabila dengan wajah terkejutnya. Nabila yang melihat itu malah tertawa. "Kau tidak mungkin mempercayai ku 'kan!" Suara tawa Nabila semakin memudar. Dia menelisik wajah Maurin yang sudah mulai kembali normal.


"Eishhhhhhh ... aku percaya. Kau tahu, suami mu itu memiliki senjata!" balas Maurin. Kini giliran Nabila yang menunjukkan wajah terkejut, agak bingung karena dia memang tidak mengetahui hal tersebut. Nabila tersenyum kecil.


"Sudahlah! Aku harus ke ruang meeting sekarang. Bukankah kau juga harus ikut!" kata Nabila yang langsung di angguki oleh Maurin.


"Aku akan mengambil bahan punyaku dulu!" ucapnya seraya berlari. Nabila menggelengkan kepalanya. Dia tersenyum menetap punggung Maurin.


"Apa mungkin yang dia bicarakan!" gumam Nabila penuh tanya. "Kalian tahu?" tanyanya pada dua bodyguardnya. "Eishhhhhhh, aku salah karena berbicara dengan patung!" gerutunya kesal.


....


"Kenapa, Sayang?" tanya Nabila pada anak laki-lakinya. Dia mendekap tubuh mungil itu setelah selesai membacakan dongeng.


"Kata Nana! Kalau nanti Mama punya bayi lagi, Mama gak akan sayang sama Ezla. Apa itu benelan, Ma? Kalau iya, Ezla gak mau punya adik bayi. Ezla gak mau Mama jauh dali Ezla."


Nabila mengerutkan kening, pertanyaan macam apa ini. Kenapa bisa anak sekecil mereka membahas masalah yang sangat sensitif. "Nak ... kalau adik bayi sudah ada di perut Mama gimana?" tanya Nabila sambil mengusap kepala anaknya lembut.

__ADS_1


"Kembalikan aja sama Allah. Bilang aja kalau Mama belubah pikilan. Ezla yang gak mau adik bayi. Bukan Mama. Allah pasti mengelti, Ma. Kata Mama, Allah sayang banget sama Ezla."


Rasa-rasanya Nabila ingin tertawa saat mendengar apa yang anaknya itu katakan. Agak lucu memang, tapi. "Za ... mama itu sayang sama Ezra! Ezra juga tahu bagaimana sayangnya mama sama Ezra. Jikapun mama punya bayi lagi, Ezra tetep anak mama. Mama gak mungkin lupa sama Ezra. Qodarullah, karena Ezra juga mama bisa sampai di titik ini. Ezra adalah hal terindah yang pernah mama miliki. Mama sayang sama Ezra. Jangan takut, Sayang!"


Bibir itu menyunggingkan senyum saat mendengar napas teratur sang anak. Dia mengecup kening Ezra kemudian menyelimutinya dan keluar dari kamar itu.


....


Tok! Tok! Tok!


Bara mendongak saat mendengar meja kerjanya di ketuk seseorang, dia tersenyum, memutar kursinya kemudian menepuk pahanya. Mengerti akan apa yang suaminya minta, Nabila menaruh teh herbal di atas meja kemudian duduk di pangkuan sang suami.


"Ezra udah tidur?" tanya Bara, dia melepaskan kaca mata bacanya, memijat tulang hidungnya kemudian mendekap sang istri. Nabila hanya menganggukkan kepalanya.


"Mas!"


"Hmmm!" jawab Bara seraya menghirup curuk leher istrinya.


"Mas ikh, geli! Jangan dulu! Bila lagi halangan!"


"Aku tidak akan melakukan itu, Honey! Ada apa?"


"Mas janji gak boleh marah ya!"

__ADS_1


"Hmmm!"


"Kata Maurin, Mas punya senjata! Apa itu benar? Mas gak bunuh orang 'kan?"


__ADS_2