
Bara menatap Nabila yang sedang melakukan persentasi tanpa menoleh kanan kiri. Wanita ini memang ditakdirkan untuk memiliki mulut yang pandai berbicara juga memiliki bisa yang mampu membuat orang-orang disekitarnya terpaku akan apa yang dia katakan. Kesopanan yang dia tunjukkan dari gerak tubuhnya, juga kalimat - kalimat manipulatif yang dia katakan pasti akan membuat orang yang ada di sekitarnya memiliki kesan yang positif tentang apa pun itu. Sebenarnya cukup sederhana, akan tetapi mebuat kalimat manipulatif yang mampu membuat pemikiran orang berubah itu tidaklah gampang. Selain belajar, kita juga harus memiliki pengalaman dan jam kerja yang tinggi untuk bisa sampai ke titik ini.
Giliran Nabila sudah selesai, kini beralih ke pimpinan divisi lain, laporan grapik kenaikan saham perusahaan juga pemasukan yang sepadan menjadi acuan. Namun, saat orang lain yang melakukan persentasi, Bara justru tidak tertarik, dia lebih tertarik akan sosok istri cantiknya. Wanita yang menjadi hantu dalam otaknya. Kapan dia muncul, dan kapan dia menghilang Bara tidak pernah bisa memprediksi itu. Tangan besarnya menggeser sebuah gelas saat sang istri sedang membuka tutup botol air mineral tanpa disadari siapa pun termasuk istrinya sendiri.
Sudah hampir 2 jam mereka ada di ruang rapat. Ini sudah hampir ashar akan tetapi masih belum ada tanda-tanda jika rapat akan selesai. Nabila tersenyum, meskipun dia harus mengepalkan tangan di bawah meja. Perutnya mulai tidak nyaman. Dan itu membuat wajahnya semakin pucat dan mengeluarkan keringat.
Fino yang sejak tadi ikut memperhatikan Nabila mengerutkan kening, dia jelas tahu jika ada yang tidak beres dengan wanita di depannya. Namun, dia juga bisa apa karena saat ini, Bara sedang membahas inti dari apa yang mereka rundingkkan.
"Apa Bu Nabila baik-baik saja?" tanya Fino akhirnya. Dia merasa sangat tidak tega karena wajah Nabila menunjukan kesakitan yang tidak biasa.
Semua orang yang ada di ruangan itu menatap ke arah Nabila, mereka semua mebuat Nabila merasa kurang nyaman. Hingga akhirnya Nabila hanya menggelengkan kepala seraya tersenyum. "Saya baik-baik saja. Lanjutkan saja meeting-nya!" ujar wanita itu.
Bara yang saat itu ada di depan semua orang menatap Nabila dengan mata memincing. Oke, ini bukan hanya dugaannya. Namun benar, ada yang janggal dengan wanita ini.
"Rapat kita akhiri sampai di sini! Untuk kepastiannya, saya akan berikan melalui surel karena pembahasan ini masih harus dievaluasi! Kalian semua bisa bubar!"
Para petinggi dan juga karyawan yang ada di ruangan itu cukup terkejut mendengar apa yang Bara katakan. Bara adalah orang yang sangat disiplin, juga seorang yang sangat perfeksionis. Dia tidak pernah meninggalnya rapat atau mengakhiri rapat jika apa yang mereka bahas belum rampung sampai ke inti. Namun, sekarang Bara malah menggantung rapat penting ini.
"Kalian tidak mendengar apa yang saya katakan?" tanya Bara dengan suara dinginnya.
"Baik, Pak!"
"Tolong antar mereka ke hotel, Durant!" tunjuk Bara pada perwakilan petinggi dari perusahaan inti.
"Baik, Bos!"
__ADS_1
Hampir semua orang sudah keluar dari ruangan itu. Memang belum semua, karena masih ada beberapa dan juga Fino yang sedang mencoba untuk membantu Nabila.
"Bu Nabila ... saya antar ke rumah sakit, ya!" tawar Fino di dekat meja. Nabila yang sedang Merapikan barangnya tersenyum meskipun dengan senyum yang agak dipaksakan.
"Kerjakan tugas Anda Pak Fino, biar saya yang antar Nabila ke rumah sakit!"
"Bapak?" tanya Fino tidak percaya.
"Ya ... memangnya kenapa, Nabila adalah karyawan saya. Anda keberatan?"
Fino terdiam untuk beberapa saat, dia ingin mencela akan tetapi dia sangat sadar kalau Bara ini adalah bos-nya. Tidak mungkin dia melawan. Namun, kenapa Bara harus repot-repot mengurus masalah ini sendiri. Agak mencurigakan. Bara tidak mungkin menyukai Nabila, mereka ini berbeda status. Akan sangat tidak seimbang jika Bara sampai mencintai wanita yang sedang menjadi incarannya.
"Biar saya yang antar," kata Bara ingin memapah Nabila, akan tetapi ditolak oleh wanita itu.
Baiklah ... untuk sekarang Bara tidak bisa memaksa, dia hanya mengikuti Nabila. "Pakai lift khusus atau saya seret kamu ke rumah sakit sekarang!" ucap seseorang dari belakang Nabila. Daripada semuanya menjadi semakin rumit. Mau tidak mau Nabila menurut. Keningnya semakin berlipat saat rasa perih, mencubit dan juga perasaan memelintir dia rasakan pada ulu hatinya.
"Saya sudah bilang biar saya bantu! Apa yang terjadi?" tanya Bara seraya menarik pinggang istrinya. Wajah laki-laki itu kembali seperti dulu. Bossy tanpa ada ekspresi. Dia menekan tombol lift yang langsung menuju basement di perusahaan tersebut.
"Bos!" panggil Durant saat melihat Bara keluar dari lift dengan Nabila yang semakin pucat pasi. Bara menyerahkan laptop dan barang istrinya kepada Durant juga meminta Durant untuk menyiapkan mobil segera.
"Telepon rumah sakit, Durant! Siapkan dokter terbaik dan saya mau pelayanan VVIP!"
"Baik, Bos!"
"Astaghfirullah!" gumam Nabila semakin meremas perutnya.
__ADS_1
"Apa yang tadi kau makan? Kenapa bisa sampai seperti ini?" tanya Bara ikut menyentuh bagian yang sekarang sedang diremas kuat oleh wanita di sampingnya.
"Sepertinya asam lambungku naik!" keluh Nabila. Dia melupakan ini, riwayat sakit lambung yang dia derita sejak dia masih gadis membuatnya agak kesulitan. Telat mengisi perut sedikit saja akan membuat lambungnya kambuh seperti apa yang dia rasakan sekarang.
"Kau belum makan siang?" tanya Bara dengan wajah kesalnya.
Nabila menggelengkan kepala.
"Kau sudah gila!" teriaknya membuat Durant yang sedang menyetir terlonjak. Namun, Nabila hanya bisa memejamkan mata. Dia tidak bisa membentak Bara kembali karena perutnya yang semakin sakit. Bulir bening menetes dari sudut matanya.
"Kenapa nangis?" tanya Bara tanpa rasa bersalah sama sekali.
Ingin rasanya Nabila memukul kepala orang yang ada di sampingnya. Namun, entah kenapa dia malah ingin tertawa. Orang lain mungkin akan merasa khawatir saat orang yang mereka kenal sedang dalam keadaan yang kurang baik, tetapi laki-laki ini, dia malah memarahinya dan membentaknya. Sungguh luar biasa.
"Perutku sakit, Mas!" pekik Nabila yang mana itu membuat Bara memundurkan tubuhnya. "Kau sudah tau aku sakit, tapi malah memarahiku seperti ini. Kenapa kau membentakku! Ini semua gara-gara kau juga. Gara-gara meeting dadakan itu aku lupa makan. Kau pikir, dengan membentakku seperti ini, mag ku akan sembuh!"
Bara bergeming, dia dibuat melongo oleh wanita di depannya. Sedangkan Durant, laki-laki itu berusaha mati-matian untuk menahan tawa. Memang, nyonya bos-nya itu adalah kucing yang sangat cerdas, dia selalu tahu, kapan harus menjadi kucing yang disenangi orang, dan kapan harus jadi kucing garang. Sudah layak menjadi istri dari seorang Bara.
"Kau membentak saya?"
"Aku hanya meniru apa yang kau lakukan!"
Bara tergelak, dia menoleh ke depan dengan helaan napas berat kemudian menoleh lagi ke arah sang istri. Baru akan menyahuti apa yang istrinya katakan, Durant sudah menginstruksi mereka bahwa mereka sudah sampai di depan IGD rumah sakit.
"Astaghfirullah ...!" pekik Nabila dengan suara tiga oktafnya. "Apa yang kalian lakukan? Kalian ingin membuatku malu?"
__ADS_1