Diratukan (Mantan) Mafia

Diratukan (Mantan) Mafia
65. Meminta Maaf


__ADS_3

Nabila mengerutkan kening saat mendengar suara ribut di luar kamarnya. Dia melirik jam di atas nakas. Sudah jam 9 harusnya dia sudah kembali ke hotel dan melanjutkan pembahasan pekerjaan mereka yang masih belum selesai. Suaminya juga tidak ada, dia pergi setelah memberikannya sarapan.


"Ada apa sih!" gumam Nabila. Dia yang sedang menikmati pemandangan dari dinding kaca di rumah sakit itu berjalan ke arah pintu.


"Bila!" teriak Maurin hendak mendekati Nabila akan tetapi dua bodyguard di samping kiri dan kanannya menahan Maurin. Sejak kapan dia memiliki penjaga. Apalagi dalam sosok yang lebih menyeramkan dari Durant. Suaminya ini terlalu berlebihan.


"Biarkan mereka masuk saja!" pinta Nabila pada kedua orang itu. Mereka bergeming. Tidak menjawab tidak pula membiarkan Maurin dan teman-temannya masuk. "Baiklah! Biar aku yang keluar!"


Bibirnya menyunggingkan senyum saat orang-orang itu hanya mengikutinya tanpa mau menyentuhnya. Attitude yang jempolan. Nabila mungkin akan mengamuk jika mereka berani menyentuhnya.


"Ada apa?" tanya Nabil pada semua orang yang sedang berdiri di depannya. Saat ini mereka memang beranda di lorong, masih di depan kamar rawatnya karena dia tidak bisa pergi jauh dari sana. Mata Nabila terbelalak melihat orang-orang itu membungkuk dengan serempak ke arahnya. Refleks Nabila mundur sampai dia terpojok ke dinding rumah sakit.


"Maafkan kami, Nyonya Bara! Kami tidak tahu kalau Anda memiliki hubungan sepesial dengan Tuan Bara!"


Wanita itu menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Jadi mereka sudah tahu, tapi ... ya sudahlah! Jika memang sudah tidak ada yang bisa dia sembunyikan lagi, dia bisa apa. Mungkin ini memang sudah waktunya Nabila mengekspos hubungannya dengan Bara.


"Berdiri dengan benar!" pinta Nabila kurang nyaman. Dua Bodyguard nya juga semakin merapat ke arah orang-orang itu. Benar-benar penjagaan yang ketat, padahal ini rumah sakit, tempat umum. Tidak mungkin mereka berani menyakitinya. Lagipula ini adalah karyawan suaminya sendiri.


"Maafkan saya, Nyoya Bara!" ucap Fino menunduk dengan wajah menyesal. Begitupun dengan Maurin dan Jessica. "Kami berjanji, kami akan memperlakukan Anda lebih baik dari sebelumnya."


Nabila hanya tertawa mendengar itu. "Tidak usah sungkan. Saya baik-baik saja dan bersiap normal seperti biasa. Saya tidak nyaman kalau harus seperti ini!" Orang-orang itu ingin kembali menyela, akan tetapi Nabila menaruh jari telunjuknya di depan bibir. " Terima kasih sudah mau menjenguk saya! Tapi maaf, sepertinya tidak bisa masuk ke dalam," ujar Nabila seraya melirik ke arah dua bodyguardnya. Orang-orang itu menggelengkan kepala. Tidak masalah, yang terpenting mereka sudah meminta maaf. "Lain kali kita mengobrol lagi, ya!"


"Lain kali? Tidak ada lain kali!" ucap seseorang tiba-tiba. Mereka semua langsung menoleh ke arah itu. Dan Nabila, dia tersenyum kecil melihat suaminya dan Durant sedang berjalan ke arahnya.

__ADS_1


"Siapa yang mengijinkan kalian untuk mengganggu istri saya! Kembali ke tempat kalian atau saya pecat kalian hari ini juga!"


Nabila tidak banyak bersuara ketika Bara tiba-tiba memangkunya begitu saja, dia mengibaskan tangan ke arah orang-orang itu dengan senyuman.


"Kalian dengar? Istri saya!"


"Gila sih, kenapa kita gak tahu kalau Bu Nabila udah nikah sama Tuan Bara. Sejak kapan juga mereka bersama!"


"Astagaaaa!" gumam Maurin menepuk keningnya. "Gue bego, gue pernah minta dia nyomblangin gue sama Tuan Bara!"


Orang-orang itu menatap Maurin dengan tatapan tidak percaya. Bagaimana mungkin Maurin menyukai laki-laki yang jelas-jelas kastanya jauh di atas dia. Jika itu Nabila, Mungkin ada hal lain yang tidak mereka ketahui.


"Gak ketolong Lo. Untung Bu Bos baik. Kalau enggak, dipecat lo sama dia!" Jessica bergidik negeri.


Berbeda dengan orang-orang yang terus berceloteh, Fino terlihat paling diam diantara mereka semua. Kecewa, tentu saja. Dia sudah sangat berharap untuk bisa bersama dengan wanita cantik itu. Namun, baru memulai, dia sudah menerima kenyataan pahit yang tidak terelakkan. Nabila adalah wanita yang baik. Dia juga pantas menerima laki-laki yang baik.


...----------------...


"Mas Bara!" ucap Nabila menatap suaminya dengan tangan yang memeluk leher suaminya erat. "Mas Bara!"


"Hmm!"


"Kenapa ada bodyguard di depan kamar?"

__ADS_1


"Untuk menjagamu. Kau pikir untuk apa? Tidak mungkin untuk pajangan."


"Mas Marah? Kenapa? Aku membuat kesalahan lagi?" Nabila tidak melepaskan pelukannya saat Bara menurunkan dia di atas ranjang. Tatapan mereka bertemu. Wajah teduh ini, mata abu-abu suaminya, Nabila tidak bisa membiarkan singa jantannya terus merajuk seperti ini. Sangat sulit baginya untuk menerima sikap dingin yang Bara tunjukan. Mungkin Nabila sudah terbiasa, tapi dia tetap merasa tidak nyaman kalau harus diabaikan.


"Jangan nakal lagi!" ucap Bara masih tidak mengalihkan matanya dari mata sang istri. "Jika aku menyuruh mu untuk tinggal, jangan pernah membantah! Aku tahu kau sangat cerdas. Kau harusnya mengerti meskipun aku tidak menjelaskan alasannya."


Nabila tersenyum, dia menarik tengkuk suaminya hingga bibir itu menempel dengan sempurna di atas bibir hangat sang suami. Perasaan menggelitik ini sangat dia sukai. Dan dia tahu, suaminya juga sangat menyukainya, mungkin lebih suka daripada dia. Respon yang Bara tunjukkan selalu membuat Nabila menginginkan hal yang lebih dari ini.


"Mas!" gumam Nabila saat suaminya itu kembali memangkunya dan membawanya masuk ke kamar mandi dengan pasilitas selengkap pasilitas kamar mandi hotel.


"Kau yang memintanya! Jangan salahkan aku, Baby!" bisik Bara ketika dia sudah mendudukkan istrinya di atas meja wastafel di kamar mandi tersebut.


.....


"Tunggu!" ucap Durant saat melihat dokter dan perawat hendak masuk ke kamar rawat Nabila.


"Ada apa?" tanyanya bingung.


"Jangan masuk dulu! Tuan sedang membahas masalah penting!" ucap Durant seenaknya. Dia yang terpaksa keluar dari ruangan itu saat melihat Nabila dan Bara sedang bersilaturahim tentu tidak boleh mengulang kesalahan untuk kedua kalinya.


"Ya sudah, saya akan kembali lagi nanti!"


"Tidak usah!"

__ADS_1


"Hah?" cengo dokter itu semakin menunjukkan wajah bodohnya.


__ADS_2