
Nabila terus bergerak gelisah dalam duduknya, wanita itu mengigit kuku-kuku di jari tangannya saat bayangan tatapan Bara yang seolah ingin membunuhnya terpang-pang dengan sangat jelas. Nabila tahu, dia sudah melakukan kesalahan, tapi ... dia tidak pernah menganggap lebih hubungan antara dia dan juga direktur keuangan di perusahaan itu.
Dengan segala keresahannya, Nabila beranjak dari duduknya. Dia melirik jam di pergelangan tangan, sudah waktunya untuk pulang, dia bisa menenangkan diri di rumah memasak dan mungkin dia bisa menjelaskan semuanya pada Bara nanti.
Sementara Nabila masih dengan kegelisahannya, Bara ternyata sudah sampai di apartemennya lebih dulu. Laki-laki itu masuk ke dalam seraya mengucapkan salam.
"Wa'alaikumssalam, Papa!"
Ezra berlari menghampiri papanya itu. Bara tersenyum kecil, dia berjongkok kemudian membiarkan Ezra memeluk lehernya. Entah kenapa, saat dia merasa gelisah, pelukan bocah ini selalu memberikannya sedikit ketenangan.
"Tumben Papa pulang cepet, Papa gak sakit 'kan?" tanya Ezra. Bocah kecil itu melepaskan pelukannya, mengulurkan tangan mungilnya untuk dia letakan di atas kening Bara.
"Loh, Papa sakit?" tanya Ezra lagi. Suhu tubuh Bara memang agak lebih panas dari biasanya, entah itu karena Bara sedang stress atau tubuhnya memang sedang tidak baik-baik saja karena terlalu lelah memikirkan banyak hal.
"Papa baik-baik aja, Sayang! Ezra udah makan belum?"
Ezra refleks menggelengkan kepalanya. Dia menatap Bara dengan tatapan sendu. "Papa ... Papa jangan sakit ya! Nanti Ezla buatkan makanan yang enak untuk Papa Bala. Papa mau bubul atau sup?"
Bara terkekeh kecil, dia mengacak rambut anak laki-laki itu gemas. Ingin rasanya Bara mencubit pipi tembem anak sambungannya itu, tapi kasian juga kalau Ezra kesakitan.
"Gak usah bikin apa-apa. Biarkan Mbak nya istirahat, Papa mau mandi dulu! Ezra main lagi ya!"
Bocah kecil itu mengangguk, dia mengecup pipi Bara sekilas kemudian berlari menuju kamar sekaligus tempatnya bermain.
__ADS_1
"Dasar anak kecil!" ucap Bara, dia lekas beranjak dan melakukan ritual yang memang biasa dia lakukan.
....
"Assalamu'alaikum!" ucap Nabila membawa sekantong belanjaan berisi sayur mayur. Dia meletakan kantong itu di atas meja lantas mencari keberadaan pangeran kecilnya.
"Wa'alaikumssalam, Mama!" teriak Ezra tiba-tiba.
"Apa kabar anak mama hari ini? Sekolahnya lancar Nak?"
Ezra mengangguk yakin. Bocah kecil itu mengusap wajah Nabila menatap mamanya dengan tatapan sendu.
"Kenapa? Anak mama kok sedih?" tanya Nabila membalas belaian pada wajah anaknya.
"Papa Ma, Papa sepeltinya sakit? Badannya panas? Sudah satu jam Papa masuk kamal, tapi Papa gak kelual juga!"
"Ya sudah, nama liat Papa dulu sebentar ya. Ezra main sama Mbak."
"Mbak pulang agak malam gak papa?" tanya Nabila dengan suara yang sangat pelan, dia merasa kurang nyaman pada pekerjanya itu. Meskipun dia bisa saja membayar lebih, rasanya agak kurang pantas jika kita menyita waktu istirahat orang lain.
"Nggak papa, Bu! Silakan saja!"
Nabila tersenyum, dia mengusap wajah Ezra kemudian berlalu dan masuk ke kamarnya dan kamar sang suami.
__ADS_1
"Assalamu'alaikum!" ucap Nabila. Tidak ada yang menyahut, kamar itu kosong, hanya menyisakan pakaian suaminya yang berantakan di mana-mana. Nabila melirik ke arah pintu balkon kamar mereka, sang suami ternyata ada di sana! Dalam keadaan hanya memakai kaos putih yang agak tipis, padahal sore itu angin yang berhembus cukup kencang.
"Bapak sakit?" tanya Nabila seraya memakaikan sweater pada bahu suaminya. Bara tidak bergerak, bahkan saat Nabila berusaha untuk menyentuh keningnya saja, Bara masih bergeming, tetapi ketika Nabila menarik lengannya, Bara tidak melawan, dia hanya menatap Nabila saat wanita itu menaruh telapak tangannya di atas keningnya.
"Bapak tadi mandi pakai air dingin?"
Bara masih sama, diam dan sekarang malah kembali berbalik seolah abai pada apa yang Nabila tanyakan. Wanita itu terlihat agak kesal, dia menatap Bara dari samping seraya berdecak pinggang.
"Bapak marah sama saya?" tanya Nabila lagi.
Bara tidak menjawab, dia masuk ke kamarnya dan itu malah membuat Nabila semakin naik darah.
"Pak, kalau Bapak marah, Bapak bilang sama saya! Jangan membuat saya bingung seperti ini! Memang kenapa kalau saya bertemu dengan Pak Fino, kami tidak bertemu berdua, ada orang lain di antara kami!"
Brukk!
Nabila sedikit meringis ketika Bara mencengkram kedua lengan atasnya seraya memojokkan Nabila ke dinding kamar. Laki-laki itu menunduk, menatap Nabila tanpa memperdulikan Nabila yang semakin meringis kesakitan.
"Kamu bilang ada orang lain? Lalu, apa yang kamu lakukan dengannya? Kamu bisa tersenyum lebar saat bersama laki-laki lain, tapi tidak dengan saya. Kamu mau makan siang dengan orang lain, tapi tidak dengan saya! Kenapa? Apa saya sangat menjijikan di mata kamu, hah? Saya tidak lebih baik dari bajingan itu?" sentak Bara marah. "Kenapa kamu ingin menyembunyikan saya? Kenapa kamu tidak ingin orang lain tahu tentang pernikahan kita? Kenapa?" Bara menggeram semakin kencang. Dia ingin menarik rahang istrinya, tetapi buru-buru wanita itu tepis.
Nabila melepaskan cengkraman tangan suaminya dengan kekuatan yang dia miliki. Wanita itu menatap Bara dengan mata berkaca-kaca. "Dengar Pak Bara! Saya sudah pernah mengatakan kepada Bapak untuk tidak memberikan harapan kepada saya dan Ezra. Bapak sudah mengatakan jika Bapak hanya ingin saya jadi budak Bapak di atas ranjang, bukan? Lalu apa yang harus saya banggakan? Saya sudah seperti pelacur meskipun saya tahu Bapak suami saya ...!" Nabila menahan air mata yang memaksa untuk keluar. "Bapak tahu, jika semua orang tahu kalau saya sudah menikah dengan Bapak, dan jika suatu saat dalam waktu dekat kita bercerai, siapa yang akan di cap buruk? Saya Pak ... saya!" tunjuk Nabila pada dirinya sendiri.
"Saya itu sudah pernah gagal satu kali, jika kali ini gagal lagi, Bapak tahu dampaknya akan seperti apa? Orang-orang akan berpikir jika saya yang bermasalah. Orang-orang itu tidak akan menyalahkan Bapak, hanya saya yang akan di cap buruk karena sudah gagal berkali-kali. Saya sudah cukup terluka dengan pernikahan pertama saya, Pak! Saya tidak ingin kejadian itu terulang lagi. Tolong ... tolong jangan lakukan ini. Jangan mempersulit hidup saya!" Kini air mata itu lolos tanpa bisa Nabila bendung, netra yang berkabut itu menatap Bara dengan linangan air mata. "Sudah cukup saya menderita dengan cemoohan orang-orang di masa lalu. Saya tidak ingin masa-masa kelam itu kembali lagi! Jangan permainkan saya seperti ini, Pak! Saya minta maaf. Saya mohon, lepaskan saya jika Bapak tidak berniat untuk melanjutkan pernikahan ini."
__ADS_1
Nabila menangis tertahan, wanita itu berbalik meninggalkan suaminya yang masih mematung tanpa mengucapakan sepatah kata pun. Nabila menjadi semakin yakin jika laki-laki ini memang tidak pernah berniat serius dengannya.
"Saya tidak membencimu, Pak! Ini salah saya karena saya terlahir jadi orang miskin!"