
Seorang wanita menatap laki-laki di depannya dengan wajah bingung. Dia tahu laki-laki ini siapa, dia adalah orang yang mengaku sebagai suami wanita yang sangat dia benci.
"Jadi apa yang Anda inginkan?" tanya Adel menatap Bara tanpa ada rasa bersalah sama sekali.
Bara tidak langsung menjawab, dia hanya menggerakan kepalanya, Durant pun mendekat, menyodorkan ponsel yang dimana dalam ponsel tersebut ada sebuah video yang membuat kening Adel mengkerut.
"Bisa jelaskan, kenapa Anda menghina istri saya seperti itu?" geram Bara. Dia menatap Adel dengan wajah dingin juga sorot mata membunuh.
Wanita di depannya tertegun. Dia benar-benar sangat terkejut saat mendengar kata istriku, apa mungkin laki-laki memang benar suaminya Nabila. "Maaf, Tuan. Jika memang Anda adalah suami perempuan itu, sebaiknya Tuan ceraikan dia sekarang juga. Dia bukan wanita baik-baik. Dia mendekatimu hanya untuk mengambil keuntungan. Aku adalah korbannya." Kening Adel semakin mengkerut saat melihat Bara tersenyum.
"Dengar! Siapa pun, kau. Saya tahu, wanita seperti apa istri saya. Mulut mu itu memang tidak ditakdirkan untuk mengucapkan hal-hal yang baik. Tadinya saya berpikir untuk memberikan mu kesempatan, tapi ... mulai sekarang, terimalah apa yang harus kau terima!" ujar Bara, laki-laki itu beranjak dari duduknya. Durant mengambil ponselnya, menjauh dari Adel yang kini hanya mengangkat kedua bahunya acuh. Dia masih tidak mengerti siapa yang sedang dia hadapi. Dia masih belum tahu jika Bara itu adalah orang dengan kekayaan luar biasa yang bisa membuat orang lain takluk pada perintahnya.
"Blacklist dia, Durant. Hancurkan bisnisnya dan jangan biarkan dia bangkit. Satu hal lagi, jangan sampai saya melihat wajah menjijikkan itu lagi!"
"Baik, Bos!"
Durant sedikit loyo. Sebenarnya dia lebih suka jika menggunakan kekerasan alih-alih membunuh orang secara perlahan. Namun, apa yang bisa dia lakukan, mungkin ini memang cara terbaik untuk membalas wanita tidak tahu malu itu.
"Halo! Iya. Apa? Oke, saya ke sana sekarang," panik Adel berlari keluar dari restoran itu.
....
"Bos!"
"Hmmm!"
"Nyonya Bos lolos seleksi untuk pendaftaran tahap satu san dua. Nyonya Bos akan ikut sesi wawancara besok pagi!"
Bara hanya tersenyum, dia tidak mengatakan apa-apa. Dia percaya Nabila bisa melakukan ini. Wanita keras kepala itu terlalu percaya diri. Bara sudah menawarkan untuk membantu, tapi dia selalu menolak dengan alasan tidak ingin bermain curang.
"Saya mengerti, Durant!"
Tok! Tok! Tok!
"Masuk!" sahut Bara.
Wanita yang menjadi sekertarisnya masuk seraya tersenyum ke arah Bara. Dia tidak menghiraukan Durant yang saat itu menatapnya tidak suka.
"Buaya betina ini benar-benar terlalu," batin Durant menggelengkan kepala saat melihat setelan yang Jessica kenakan. Rok span dan kemeja bayi yang dia pakai mebuat mata Durant ternodai.
__ADS_1
"Pak, saya butuh tanda tangan Anda di sini," kata Jessica, dia menunduk, menunjuk ke arah dokumen yang tadi dia sodorkan.
"Saya akan menandatanganinya nanti!"
"Tapi saya membutuhkannya sekarang, Pak!"
Bara mendongak, dia bertemu tatap dengan wanita di depannya. Helaan napas terdengar keluar dari mulutnya. Dengan perasaan dongkol dia mengambil dokumen itu, membacanya sekilas dan membubuhkan tanda tangannya dengan cepat.
"Jangan masuk ke ruangan saya lagi! Jika ada sesuatu, kau bisa memanggil, Durant!"
"Lah, aku," batin Durant. Ya salam, dia terlalu muak melihat wanita jadi-jadian di depan mereka.
"Baik, Pak!" jawab Jessica tanpa protes.
Wanita itu mengepalkan kedua tangannya di samping tubuh. Lagi-lagi Jessica hanya bisa patuh untuk mengamankan posisinya.
....
"Mama! Kenapa Mama senyum-senyum telus? Mama gak papa 'kan?" Ezra yang duduk di samping kemudi menatap Nabila. Dia merasa sedikit aneh karena sang mama biasanya tidak seperti ini.
"Mama baik-baik saja, Sayang. Besok Mama mau interview kerja di kantor, Papa. Mama bisa kerja lagi!" hebohnya membuat Ezra tersenyum.
Kittt!
Nabila menoleh ke arah sang anak. Dia menatap Ezra dengan tatapan tidak percaya. "Ezra tahu kata Pelakor dari mana? Bu Guru yang ngajarin Ezra?"
Ezra menggelengkan kepalanya kuat. "Bu Gulu cantik enggak bilang kayak gitu. Papa Ezla yang bilang!"
"Papa?" tanya Nabila dengan kening mengkerut.
"Iya ... Papa bilang di kantol Papa ada pelempuan aneh. Dia kayak talsan. Telus Papa nanya sama Ezla, kalau di sini sebutan untuk wanita pengganggu suami olang apa!"
"Terus?"
"Ya Ezla gak tahu. Ezla bilang, kalau Papa pengen tahu sesuatu, tanya saja sama Google, Ezla juga seling begitu!"
Nabila dibuat melongo dengan jawaban anaknya. Dia menepuk kening seraya menyandarkan punggung dan kepalanya pada sandaran jok. Bara itu benar-benar minta di hajar. Awas aja, kalau sampai Ezra berubah, Nabila tidak akan tinggal diam.
....
__ADS_1
Brak!
Bara yang baru keluar dari kamar mandi menoleh ke arah pintu.
"Pak!"
"Mas!" titah Bara.
Nabila menggelengkan kepalanya. "Bapak itu kenapa selalu melakukan sesuatu yang tidak baik ... saya sudah bilang!"
Bruk!
Wanita itu meringis seraya mengusap keningnya yang baru saja terbentur punggung polos sang suami. "Kenapa tiba-tiba berhenti!"
Bara menarik ujung bibirnya, dia menunduk, meniup kening istrinya membuat Nabila mematung seketika. Jantungnya berdegup sangat kencang, dia menatap Bara dengan mata melebar tanpa berkedip. Dadanya naik turun dengan cepat, desiran aneh itu kembali muncul saat Bara juga menatapnya dari jarak yang cukup dekat. Bau wangi khas yang keluar dari tubuh suaminya seolah menjadi sihir untuk Nabila. Mata itu mengerejap lucu saat tetesan air dari rambut sang suami jatuh mengenai wajahnya.
"Kenapa selalu marah-marah tidak jelas?" kata Bara. Dia meninggalkan Nabila dan masuk ke walk in closet. Wanita itu menggelengkan kepala saat menerima kesadarannya kembali.
"Pak ... ini tentang Ezra ...!"
Dia kembali berbalik saat melihat Bara sedang mengenakan pakaiannya.
"Ada apa dengan Ezra?" tanya Bara lagi. Dia mengambil sesuatu dari dalam laci, memberikan benda itu pada sang istri dan istrinya itu hanya menurut, tanpa sadar Nabila terus mengikuti Bara, hingga ketika laki-laki itu duduk di depan meja rias pun Nabila malah berdiri di belakangnya. Dia terus mengoceh seraya mengeringkan rambut sang suami dengan hairdryer.
"Bapak ...."
"Mas!"
"Iya ... Mas Bara itu jangan mengajarkan hal-hal aneh sama Ezra. Dia masih terlalu kecil, mana boleh Mas ajarin dia hal-hal kurang baik seperti itu. Main bola dalam artian lain, Pelakor, dan masih banyak hal-hal sensitif yang kalian bahas tanpa sepengetahuan saya."
Bara mengerutkan kening. "Saya cuma mau nanya aja. Memangnya salah jika saya ingin menanyakan sesuatu?"
"Eishhhhhhh, bukan itu ... tapi, jangan tanyakan hal-hal yang sensitif. Gak baik untuk Ezra."
"Terus, kalau saya gak nanya sama Ezra, saya harus nanya sama siapa? Kamu?"
"Iya ...!" jawab Nabila tanpa sadar. Bara tersenyum, dia berdiri kemudian berbalik menatap istrinya.
"Baiklah, mulai sekarang, saya hanya akan bertanya pada istri saya!" bisik Bara. "Terima kasih, rambut saya sudah kering!" katanya lagi. Bara tersenyum dan pergi meninggalkan wanita itu.
__ADS_1
"Hah!" Nabila melongo, dia menatap hairdryer yang ada di tangannya dengan kening berkerut. "Apa yang aku lakukan!" ujarnya melempar hairdryer itu ke atas meja.