
"Cek sendiri, apakah saya sakit atau tidak!" kata Bara semakin menunduk meminta Nabila untuk menyentuh keningnya. Laki-laki itu mengangguk, mengisyaratkan agar Nabila harus segera melakukan itu.
Benar dugaan Bara. Nabila mengulurkan tangan, meletakan telapak tangannya di atas kening. Dan saat Bara sedang menikmati bertemu tatap dengan istri cantiknya, tiba-tiba saja tangan Nabila mendorong kepalanya membuat dia hampir terjengkang ke belakang. Oh sungguh, syukurlah lehernya tidak patah karena dorongan tidak beradab itu. Nabila hanya tersenyum kikuk ketika pintu lift terbuka dan beberapa karyawan hanya mematung saat hendak masuk karena ada Bara di sana.
"Masuklah!" titah Bara. Dia melirik wanita yang ada di sampingnya, agak dongkol, tapi tidak masalah, Bara bisa menerima itu semua. Orang-orang yang tadinya hendak pergi, mulai mengisi lift tersebut meskipun memang agak sedikit canggung. Tidak sedikit, tapi memang benar-benar canggung karena sungkan.
"Pagi, Pa!" sapa orang-orang itu. Mereka memberikan space untuk Bara, tidak berani terlalu mundur untuk mempertahankan kesopanan mereka.
Settt!
Mata Nabila melotot ketika laki-laki di sampingnya menarik pinggangnya begitu saja. Dia kembali bergeser satu langkah agar mereka tidak terlalu berdempetan. Nabila benar-benar masih ingin menyembunyikan pernikahan yang tidak jelas ini. Namun, kening Nabila mengkerut saat jemari tangan suaminya bergerak seperti segerombolan semut di balik punggungnya. Wanita itu hampir tersedak jika dia tidak mencoba untuk tenang. Dalam hati, Nabila terus saja menggumamkan do'a-doa'a agar dia bisa lepas dari jeratan laki-laki brengsek ini.
Ting! Pintu lift terbuka. Semua orang sudah bergegas keluar, akan tetapi saat Nabila melangkah, Bara malah menarik bahunya dan menciumnya begitu saja. Sampai pintu lift itu tertutup lagi, Nabila benar-benar dibuat hilang akal tanpa bisa melakukan apa-apa.
Ting! Pintu lift kembali terbuka.
Durant melotot saat melihat kedua bosnya sedang beradu mulut. Astaga ... Durant menggelengkan kepalanya, membiarkan pintu lift itu kembali tertutup agar Bara dan Nabila bisa melanjutkan pekerjaan mereka.
Bughhhhh!
"Akhhh!" Bara memekik. Dia meringis menatap Nabila dengan tatapan tajam. Dengan tidak beradabnya Nabila menginjak kakinya sangat kuat.
"Kenapa?" tanya Nabila dengan kilatan amarah di matanya. "Dengar Mas Bara, saya tahu Anda suami saya. Tapi ini tempat umum. Jangan pernah berbuat gila seperti ini. Ada adab dan kesopanan yang harus kau jaga!"
"Kau tidak pernah mengajarkan saya!"
"What!" kata Nabila dengan wajah dongkolnya. "Saya harus ngajarin Bapak adab dan kesopanan? Apa Bapak tidak salah? Umur kita beda 10 tahun. Bapak tahu 'kan maksud saya?"
Bara menggelengkan kepala yang mana itu membuat Nabila semakin naik darah. "Terserah! Terserah kau saja Pak! Tanyakan apa yang tidak kau pahami kepada ustadz Faisal. Saya menyerah!" ketus Nabila yang langsung keluar saat pintu lift saat pintu itu terbuka terbuka.
Laki-laki itu tersenyum kecil, melihat Nabila merengut seperti itu agaknya sangat menyenangkan.
"Ah, saya lupa. Saya minta maaf untuk dua hal tadi!" Nabila menunjuk kepala dan juga kaki suaminya yang tadi dia injak. Setengah tubuhnya masuk ke dalam lift dan merubah haluan mengembalikannya ke lantai 1. "Bye!" ucap Nabila melambaikan tangan pada suaminya.
__ADS_1
"Dasar bocah!" kata Bara seraya menggelengkan kepala.
....
"Terserahlah! Mulai sekarang, aku tidak akan mengalah padamu, Tuan Bara!" kata Nabila menggebu-gebu.
Bruk!
Nabila meringis saat bahunya menyenggol bahu seseorang. Wanita itu mengusap bahunya tanpa menoleh ke arah wanita itu.
"Maaf Mbak. Saya tidak sengaja!" ujarnya pada Nabila.
"Tidak apa-apa, Mbak. Saya baik-baik saja!"
Wanita yang tadinya sedang buru-buru itu termenung, dia menunduk, memperhatikan wajah Nabila dengan seksama. "Nabila!" ucap wanita itu dengan mata berbinar.
"Maurin!" balas Nabila menunjuk wanita di depannya. Kedua orang itu hanya diam dan saling menatap. Namun, beberapa saat kemudian, mereka berdua memekik kegirangan sampai berpelukan dan melompat-lompat seperti Teletubbies.
"Masyaallah. Alhamdulillah. Apa kabar, Maurin? Aku pikir kita gak bakal ketemu lagi."
Maurin, salah satu teman sekolah Nabila saat mereka ada di bangku SMA. Mereka menjadi sangat dekat seiring berjalannya waktu. Awalnya Nabila pikir dia tidak akan memiliki teman, akan tetapi, Maurin dengan baiknya mau menjadi teman dia saat yang lain menjauhinya karena dulu Nabila tidak bisa berdandan. Baru setelah kenal dengan sahabatnya ini, Nabila berani merubah sedikit penampilannya dan merasa lebih percaya diri setelah lama di gembreng ini dan itu.
....
"Jadi gitu, Bil. Orang tua gue yang bikin usaha di Malaysia bangkrut, mereka lagi kesusahan, gue juga gak kerasan di sana. Jadi gue balik ke sini dan lamar pekerjaan di sini. Alhamdulillah gue keterima berkat kepedean gue!"
Nabila tertawa mendengar apa yang Maurin katakan. Sahabatnya ini memang kurang baik dalam akademik, tapi untuk kemampuan berbicara dan juga berpendapat berdasarkan apa yang dia lihat dan dia pahami, Maurin bisa diacungi jempol. Apalagi Maurin memang memiliki wajah yang sangat cantik dengan body gitar spanyol. Jadi tidak mengherankan kalau dia memang memiliki rasa percaya diri yang tinggi.
"Yang sabar ya, Rin, mudah-mudahan usaha orang tua kamu bisa cepat balik kayak dulu! Selamat datang di kota kelahiran kamu. Semoga betah di sini!"
Maurin mengangguk. Dia memperhatikan ruangan Nabila dengan seksama. Tidak terlalu besar, akan tetapi ini cukup nyaman, terlebih dinding kaca yang bisa di buramkan saat di membutuhkan privasi. Cukup untuk standar kerja yang ada di sana.
"Lo gak pernah gagal Bil," kata Maurin. "Ya, selain masalah cinta sih!" gumamnya kemudian tertawa. "Lo belum nikah lagi 'kan?"
__ADS_1
"Uhukkk!" Nabila menepuk dadanya karena dia yang tiba-tiba tersedak air liurnya sendiri.
"Aku harus kerja, Rin. Nanti kita ketemu lagi pas makan siang ya!"
Maurin mengangguk. Dia keluar dari ruangan Nabila meskipun dia agak kurang senang karena tidak mendapatkan informasi yang valid. Dulu, mereka berpisah karena sebuah kesalahpahaman. Tapi sekarang, rasa kesal dalam hati keduanya sudah menghilang. Maurin dulu selalu iri terhadap Nabila yang bisa mendapatkan cinta dari orang yang dia sukai. Sedangkan dia, meskipun dia cantik, orang yang dia cintai selalu memandangnya sebelah mata.
....
"What? Ezra membuat masalah? Kenapa? Oke. Saya akan segera ke sana!" ucap Nabila menutup sambungan teleponnya.
"Lha ... mau ke mana Bila?" tanya Maurin. Mereka baru saja duduk dan baru akan menyantap makan siangnya, tapi wanita itu sudah melesat pergi begitu saja.
"Aku harus balik ke rumah sebentar. Ezra berantem sama temennya. Maaf ya Rin!"
Baru akan menyala, Nabila sudah berlari dari kantin kantor. Wanita itu hanya bisa mendesah pasrah. "Baru juga mau makan Bil, Lo udah mencampakkan gue gitu aja. Mana enak lah makan sendiri."
Maurin mengetuk-ngetukkan sendok ke atas piring. Wajahnya merenggut, tidak senang karena ulah sahabatnya itu.
Tok! Tok! Tok!
Maurin mendongak ketika meja yang sedang dia gunakan diketuk seseorang. Dua matanya tidak dapat berkedip saat dia bertemu tatap dengan laki-laki yang ada di depannya itu.
"Boleh saya duduk di sini?" tanyanya. Maurin hanya mengangguk. "Karyawan baru ya?"
Lagi-lagi wanita itu mengangguk. "Kenapa Anda tahu?"
Senyum simpul laki-laki tunjukan kepada Maurin. Dia menyesap kopi hitam yang ada di cangkirnya kemudian menatap Maurin dengan tatapan penuh arti.
"Saya tahu karena melihat kamu berbincang dengan wanita yang saya sukai!"
"Nabila?" tanya Maurin agak sedikit terkejut.
Laki-laki itu mengangguk tanpa ragu. "Hmmm ... kenalkan! Saya Fino," ucap Fino mengulurkan tangan ke arah Maurin.
__ADS_1