
Sampai di negara yang mereka tuju, akhirnya mereka tinggal dirumah yang sudah di beli Theo dari jauh-jauh hari, sontak Theo dan juga Pearl tidur di sanah.
"Sayang, aku tau kamu capek kamu tidur aja duluan, biar aku yang beresin barang-barang," ucap Theo.
"Makasih sayang," ujar Pearl.
Andi sontak menelpon Pearl dan bingung apa maksudnya sementara perusahaan di tangan Andi dan juga Rachel, Pearl hanya menghela nafas.
"Gua lagi ada masalah di sanah, satu-satunya harapan gua cuman lu jadi gua minta tolong ke lu, maaf gua tidak bisa jelasin apa masalah gua tapi intinya gua cuman percaya sama lu, lu paham kan maksud gua apa?" tutur Pearl.
"Tapi ini terlalu terburu-buru gua ngerasa, lu kayak mau tinggalin perusahaan dan membuat perusahaan lain, apa gua harus mengundurkan diri biar lu bisa handle semuanya," ucap Andi.
"Lu bicara apa sih, jangan gegabah deh tidak semua masalah karena lu, ini semua salah gua dan bukan karena lu, gua cuman minta tolong karena gua tidak tau kapan gua balik itu aja sih," ucap Pearl.
Andi merasa ada yang tidak beres dengan Pearl, sampai akhirnya mereka mengakhiri telepon mereka dan Andi mencaari tau masalah apa yang di alami Pearl.
Pearl selesai tutup telepon sontak membawa susu kepada Ivano, setelah selesai akhirnya mereka hanya diam setelah diam, Theo menghampiri Pearl.
"Sayang, kamu kenapa?" tanya Theo.
"Tidak, tadi Andi telepon aku dan tanya kenapa aku tiba-tiba minta dia sama Rachel untuk bantu di perusahaan," ucap Pearl.
"Terus, kamu bilang apa," ujar Theo.
"Yah aku tidak bilang apa-apa cuman minta aja, mereka jaga udah sih sayang itu aja, kenapa emang?" kata Pearl.
Theo hanya diam, tidak lama Ivano menanggis karena susunya kurang sontak Pearl mengendong Ivano, Theo hanya keluar dan telepon orangnya untuk mematai Andi dan juga Rachel.
Selesai menangani Ivano akhirnya Pearl keluar dari kamar Ivano dan mendekap Theo dari belakang, Theo kaget saat melihat Pearl tiba-tiba mendekapnya seperti bukan Pearl, namun kenyataan itu memang Pearl mau bagaimana lagi.
"Sayang, aku kaget aku kira siapa, udah tau aku lagi melamun tadi," ucap Theo.
__ADS_1
"Kenapa kamu melamun, apa yang bikin kamu melamun sayang," ujar Pearl.
"Tidak ada, aku pergi dulu yah mau coba kembangin perusahaan baru aku dulu, nanti kalau kamu butuh bantuan bilang aja sayang, ada bibik di sini kamu boleh minta dia untuk masak apa aja dan apa yang kamu butuhin ok sayang," kata Theo.
Pearl hanya menganggukan kepala, setelah itu Theo pergi dari hadapan Pearl, tidak lama Pearl merasa ada yang aneh dengan Theo.
Sepuluh tahun berlalu Pearl masih di negara yang sama dengan kedamaian yang sama di buahkan sebuah anak kedua yang masih kecil bernama Luis sedangkan Ivano sudah berumur 10 tahun, sekarang ivano sudah kelas 4 sd di karenakan Ivano pintar dan selalu belajar hal-hal yang belum di ajarkan gurunya kepadanya.
"Sayang," panggil mama Pearl.
"Iya ma, ada apa?" jawab Ivano.
"Mama antar ke sekolah ya sayang," ucap Mama Pearl.
"Tidak mau ah, aku udah gede aku malu sama teman aku dan aku juga tidak suka papa-papa yang lain liat mama, kayak mau menikahi mama Ivano tidak suka! mama cuman boleh jadi mama Ivano dan juga mama Luis." ketus Ivano dengan nada tingggi.
Pearl hanya senyum mendengar perkataan anak tetuanya yang ganteng nan baik, seperti Theo sikapnya lama-lama sontak Pearl mendekap Ivano dengan erat.
Pearl mencolek hidung Ivano, Ivano hanya diam dan tetap mendengar isi hatinya tidak lama Ivano melihat jam, sontak Ivano mengecup pipi mamanya.
"Ma, aku sayang mama dan aku mau ke sekolah bye ma, kalau ada apa-apa telepon aku, tetap jaga diri ya ma jangan suka memaksa yang mama tidak bisa, ingat mama itu penting buat aku!" ucap Ivano.
Pearl hanya senyum dan tidak lama, akhirnya Pearl ke kamar Luis, sembari jalan ke arah Luis, Pearl iseng kepada anaknya yang masih umur 2 tahun.
"Tok tok tok, apa mama boleh masuk ke kamar Luis," ujar mama Pearl.
"Mama, kan udah masuk, untuk apalagi mama minta izin," ucap Luis.
"Huft, kenapa sih anak mama pada pintar semua, mama jadi iri tapi sekaligus mama senang, tapi kalian jangan pernah lupa cinta pertama kalian, mama kalian ya," kata mama Pearl.
Luis hanya mengecup pipi Pearl dan Pearl senang sontak mendekap Luis dengan erat, tiba-tiba ada yang mendekap mereka dengan erat.
__ADS_1
"Papa! kenapa sih ganggu aku sama mama aku huh!" jerit Luis.
"Pelit banget sih, mamanya bagi dong mama tidak pernah ada waktu loh buat papa emang kalian tidak kasihan sama papa apa," ucap papa Theo.
Luis tidak peduli dan tetap menarik mama Pearl ke dalam pelukannya, papa menanggis di pojokan Pearl hanya senyum sontak memberi Luis makan dan menidurkan Luis.
Selesai itu keluar dari kamar pelan-pelan, Pearl mendekap tangan Theo sembari Theo merasa sedih dengan diusir oleh Luis.
"Sayang, udah ah, itu cuman anak kecil jangan serius, kamu itu apa-apa serius gimana sih kamu," ucap Pearl.
"Hmm aku tau kok, aku juga cuman bercanda sayang, hari ini kamu ada rencana apa kita jalan-jalan ayo sama anak-anak," ujar Theo.
"Iyaudah nanti ya jemput Ivano dulu, biasanya Ivano pasti sibuk belajar dan lain-lain," kata Pearl.
"Soal itu biar aku yang larang, serahin aja semuanya ke papa Theo," ucap Theo.
Pearl hanya menghelus kepala Theo dan percayai semua tugas kepada Theo, tidak lama akhirnya, balik ke Andi dan Rachel yang memiliki anak laki-laki berumur 2 tahun bernama Sam, sedangkan Valen sudah usia 8 tahun.
"Ma, Pa aku pergi ke sekolah ya," ujar Valen.
Andi sontak memberi uang kepada Valen dan Valen merasa kesal saat ingin pergi di tahan hanya untuk diberi uang, bukan di beri kasih sayang.
"Sayang, kalau kurang uangnya bilang papa ya biar papa tambahin buat kamu, ok sayang," ujar Papa Andi.
"Pa, yang Valen mau kasih sayang papa dan mama bukan uang," ucap Valen.
"Valen kamu jangan egois dong, emang kamu tidak kasihan sama papa kamu, papa kamu tidak cuman hidupin kamu tapi adik dan keluarga kita," pekik mama Rachel.
"Udah-udah tidak apa-apa, biar aku antar Valen, sayang papa masak buat kamu dulu ya baru ke sekolah sekalian bikin kamu bekal," kata papa Andi.
Valen hanya tersenyum terkadang orang yang mengerti perasanya hanya papanya, tidak lain dari itu kalau mamanya hanya bisa menuntut dan tidak pernah peduli hanya sayang dengan adiknya, tapi kalau papanya selalu adil dengan semua anaknya.
__ADS_1