Dj Kesayanganku

Dj Kesayanganku
DJK PART 67


__ADS_3

“Ivano mana?” tanya Theo.


“Pulang kerumah dia habis berantam sama aku,” jawab Pearl.


“Mama berantam sama kaka,” ujar Luis.


“Iya sayang tapi tidak apa-apa kok, nanti mama minta maaf sama kakak kamu ya,” kata Pearl.


Luis hanya diam tidak lama handphone Pearl berdering dari Rachel, Pearl keluar dan mengangkat telepon Theo hanya mengeleng kepala melihat Pearl.


“Mama kamu selama papa masuk rumah sakit, selalu sibuk sayang,” tanya papa Theo.


“Iya pa, makanya aku kasihan dan tidak tega sama mama,” jawab Luis.


“Ingat apa pesan papa ya,” ucap papa Theo.


“Selalu jaga mama dalam keadaan apapun,” sahut Luis.


Theo tersenyum sembari mendekap Luis dengan erat, tidak lama Pearl merasa ada yang aneh dengan Rachel ada apa telepon tidak biasanya dirinya telepon.


“Halo Rachel, ada apa?” tanya Pearl.


“Lu itu sadar tidak sih suami gua terus ganggu lu! Lu itu tau kan kalau gua orang udah berkeluarga bisa tidak sih berhenti ganggu keluarga gua,” ucap Rachel.


“Maksud lu apa ya maaf? Gua ganggu keluarga lu, emang ada gua ganggu keluarga lu, gua aja fokus sama keluarga sejak kapan gua ganggu keluarga lu?” tanya Pearl.


“Tidak usah pura-pura polos deh, Andi sekarang berubah pasti karena lu, kalau bukan lu siapa lagi yang bisa buat dia berubah,” pekik Rachel.


Pearl yang mendengar itu menanggis dan menjelaskan dengan jelas hingga Rachel tidak peduli dan tetap merasa Pearl adalah saingganya.


“Gua kira kita bisa jadi sahabat ternyata emang, rasa kita sampai sini aja berhenti jadi sahabat gua, gua udah tidak mau anggap lu lagi kecewa gua sama lu,” tutur Rachel.


Pearl mengakhiri teleponya setelah itu masuk jalan-jalan mengelilingi rumah sakit, tidak lama balik ke dalam ruangan Theo dengan bunyi suara yang mindeng seperti habis nangis.


“Kamu kenapa?” tanya Theo.


“Tidak apa-apa,” jawab Pearl.


Pearl masih bisa tersenyum palsu di depan Theo, sedangkan Luis sedang tidur tidak lama akhirnya Pearl mengendong Luis, Theo hanya diam melihat.

__ADS_1


“Oh ya Theo, kamu hari ini sendiri dulu ya banyak hal yang harus aku kerjain, kalau ada apa-apa telepon aku aja ya pasti aku ke sini kok, tenang aja ok aku mau antar Luis dulu besok dia sekolah, kasihan kalau dia telat,” ujar Pearl.


Theo menahan tangan Pearl, Pearl hanya diam tidak mau balik badan sampai akhirnya Pearl balik badan dan menanggis.


Theo mengambil Luis dengan lembut dari dekapan Pearl dan tidur di kasurnya, tidak lama Pearl duduk pelan di atas kasur Theo.


“Kamu kenapa nangis, cerita siapa tau aku bisa bantu,” ucap Theo.


“Tidak usah Theo, tidak apa-apa aku lagi mau nenangin diri aku sendiri aja, boleh kan aku tidak bisa tunjukin kesedihan aku di depan kamu,” ujar Pearl.


Theo sontak mendekap Pearl dalam dekapanya, tidak lama Pearl merasa hangat dan nyaman serta tenang di saat orang yang tepat.


“Makasih ya Theo, walau kamu belum ingat aku tapi kamu selalu baik sama aku, aku nyesal pernah jahat sama kamu,” tutur Pearl.


“Asal kamu tidak sedih lagi itu udah cukup untuk aku, sini tidur sama aku muat kok kamu tidak usah pulang, besok pagi aku minta pengawal antar baju buat Luis dan kamu, biar besok langsung ke sekolah lagian Ivano ada bibik yang bisa siapin kamu tenang aja ya,” ujar Theo.


“Tapi kasur kamu jadi sempit karena aku, emang tidak apa-apa,” ucap Pearl.


Pearl hanya diam tidak lama Theo melihat ke arah Pearl sembari mengecup kening Pearl, Pearl melihat ke arah Theo.


“Pearl, kamu boleh nangis kok sampai kamu merasa puas, biar perlu sampai baju aku basah jadi biar kamu lega aja ya tidak,” tutur Theo.


“Iya sama-sama emang siapa yang berani buat istri aku nangis,” tanya Theo.


Pearl dengan bahasa yang sangat akrab denganya membuat dirinya hilang kendali dan mengecup Theo, Theo diam membalas itu semua seketika kepala Theo merasa sakit lalu Pearl menjauh dari Theo.


“Maaf Theo, aku pergi dulu,” ujar Pearl.


“Jangan kamu jangan pergi justru aku butuh kamu, kamu peluk aku aja sekarang nanti rasa itu juga akan hilang,” jawab Theo.


“Kalau aku panggil dokter gimana, biar rasa sakit kamu cepat reda,” ucap Pearl.


“Tidak perlu aku cuman perlu kamu di sisi aku itu udah cukup, turutin aja ok,” kata Theo.


Pearl menurut kepada Theo, tidak lama Theo tidur sembari mendekap Pearl, Pearl melihat ke arah Theo dengan senyum tidak lama tidur.


Kebesokan paginya mereka bangun bersama setelah itu akhirnya, Theo melihat Pearl dan Pearl tidak lama bangun udah ada baju mereka di sanah.


“Pagi sayang,” panggil Theo.

__ADS_1


“Pagi Theo, maaf aku bikin kamu sempit ya,” ucap Pearl.


“Tidak kok tenang aja ya,” ujar Theo.


Tidak lama ada yang masuk keruangan Pearl hanya diam dan berdiri dari situ, sontak Pearl mendekap Luis dan setelah itu melihat ke arah dokter dan juga Theo.


“Semuanya boleh keluar kecuali pasien ya,” kata dokter.


Pearl dan Luis keluar dari ruangan sembari membawa baju mereka, setelah masuk ke dalam mobil mereka ganti baju di dalam mobil.


“Mama, kenapa kok pucat gitu?” tanya Luis.


“Mungkin karena mama belum sarapan,” ucap mama Pearl.


Luis hanya diam dan mobil berjalan ke arah sekolah, sedangkan Ivano di sekolah hanya diam sembari menyantap sarapan sendiri.


“Bik, mama sama Luis kemana?” tanya Ivano.


“Di rumah sakit tuan muda temanin bapak,” ucap bibik.


Ivano merasa kesal dan makan dengan lahap hingga tersedak, setelah selesai makan Ivano di antar oleh supir ke sekolah, tidak lama Pearl pulang dengan muka lelah.


“Ibu,” panggil bibik.


“Iya bik ada apa, Ivano udah ke sekolah kan bik?” tanya Pearl.


“Sudah ibu, tapi sepertinya tuan Ivano sedang marah bu,” ucap bibik.


“Marah? Marah kenapa, kayaknya itu anak marah terus,” ketus Pearl.


Bibik menjelaskan apa yang terjadi selama tidak ada bapak dan nyonya dirumah, Pearl hanya mengerutka dahi.


“Iya bik, tidak apa-apa urusan Ivano biar saya yang tangani sekali lagi makasih ya bik, bibik emang paling baik pokoknya,”ujar Pearl.


Pearl ke kamar dan tidur sejenak, sampai suatu ketika sudah sore dan saat keluar dari kamarnya udah ada Ivano lalu Luis.


“Ivano! Mama mau bicara sama kamu,” panggil mama Pearl.


“Aku sibuk ma lagi mau kerjain pr,” sahut Ivano.

__ADS_1


Pearl tidak peduli sontak ke kamarnya Ivano, Luis yang melihat itu semua hanya bisa diam tanpa berkata apa-apa.


__ADS_2