
“Halo Kat, ada apa?” tanya Ivano.
“Kamu gimana mallnya, udah jalan, apa belum?” tanya Katy.
“Udah kok lancar, makasih ya kamu udah tanya,” ucap Ivano.
“Hmm sama-sama oh ya apa kabar mama kamu, maaf aku nyinggung mama kamu ya, kamu tidak marah kan,” jawab Katy.
Ivano hanya diam dan mengakhiri telepon Katy merasa tidak enak dan balik ke papa lalu Luis, sembari merangkul ke arah meja makan.
“Ayo makan, aku kangen sama adik dan juga papa aku,” ucap Ivano.
“Meja ini kurang ya tanpa mama kamu, papa minta maaf ya semua salah papa kalau bukan karena papa, pasti mama kamu masih ada di sini karena salah paham merusak semuanya,” kata papa Theo.
“Papa bicara apa sih, jangan bicara gitulah pa, mama tidak benci papa kok dan lagian mama juga rindu papa,” jawab Luis.
Seketika kakak dan papanya melihat Luis, Luis hanya diam dan menutup mulut saat itu, Ivano menahan kakaknya, dan papanya melihat dengan tatapan tajam.
“Kenapa kamu bisa bicara begitu, emang kamu ketemu mama kamu? Dimana,” tanya papa Theo.
Luis hanya melihat ke arah lain, Ivano melihat dengan tatapan sinis, sontak Luis memberontak dan melihat papa dan juga Ivano.
“Tidak kok, kan aku cuman bilang misalnya bukan benaran kenapa sih pada mikirnya benaran kadang aku bingung deh,” kata Luis.
Theo dan juga Ivano masih melihat ke arah Luis, Luis selesai makan akhirnya Luis bangun dari tempat dudukny lalu tidak berbicara apa-apa sampai dirumah Luis hanya senyum, mengluarkan fotonya di dompet sembari melihat ke arah mamanya.
“Ma, apapun caranya aku bakal bikin mama dan papa balik lagi kok, aku janji,” ujar Luis.
Ivano dan Theo bingung ada apa dengan Luis, semenjak pulang dari luarnegeri sifatnya berbeda banget waktu saat dia pergi.
“Pa, itu benaran adik aku kan, kok dia jadi dewasa dan tidak mudah marah aku jadi takut salah mengenal orang pa,” tanya Ivano.
__ADS_1
“Papa sendiri juga bingung itu benaran dia apa bukan, kadang papa mikir papa harus bagaimana sama dia tapi sifatnya bagus sih jadi untuk apa kita pusingin,” ucap papa Theo.
“Iya sih pa, tapi kadang aku pikir papa butuh pendamping tau, emang papa tidak mau cari wanita lain?” ejek Ivano.
“Kamu itu ya! Yang benar aja kalau bicara, mama kamu itu masih hidup emang kamu kira ini salah siapa, papa sampai sekarang belum bisa maafin diri papa walau mama kamu hidup baik-baik aja tanpa papa, tapi papa tetap merasa tidak nyaman sama mama kamu,” ketus papa Theo.
Ivano hanya menepuk pelan pundak Theo, Theo yang melihat itu mengelus tangan Ivano, Ivano mendekap papany dengan erat.
“Papa tenang aja mama pasti udah maafin papa kok, nanti kalau Ivano udah dapat kabar dari mama, pasti Ivano bawa mama pulang kok pa, Ivano janji,” ucap Ivano.
Theo hanya senyum sontak pergi ke kamarnya, Ivano merasa kasihan kepada papanya sampai di kamar, kebesokan paginya di meja makan.
“Bik, Luis mana?” tanya Ivano.
“Tuan muda Luis udah pergi dari tadi, tuan Ivano,” ucap bibik.
“Hah? Kemana kok dia tidak kasih tau saya, dia kasih tau bibik kemana,” ujar Ivano.
Ivano mangkin merasa aneh kepada Luis, tidak lama Theo datang dengan merapikan jasnya sembari menarik kursi dan duduk di meja yang sama bersama Ivano.
“Ivano, kenapa muka kamu aneh gitu kamu ada masalah sayang?” tanya papa Theo.
“Tidak pa, itu sih Luis pagi-pagi udah pergi cari kampus, emang papa tidak merasa aneh bukannya waktu kita suruh pulang dia tidak mau dan malah betah di luarnegeri,” jawab Ivano.
“Yah semua orang bisa berubah Ivano, kenapa kamu begitu banget sih sama adik kamu harusnya kalau adik kamu niat, kamu support dong jangan malah di curigain nanti gimana dia mau percaya dan terbuka sama kamu, udah ah papa kenyang papa jalan dulu ya kamu hati-hati pakai mobil jangan ngebut-ngebut,” ujar papa Theo.
Ivano hanya diam selesai makan, Ivano pergi naik mobil sampai di lampu merah ada kafe di pinggir jalan, Ivano melihat Luis sedang suapin wanita makan dan bingung siapa wanita itu, sampai akhirnya Ivano menepi dan di klakson orang belakang, sampai di perusahan.
Tok tok tok.
“Masuk,” kata Ivano.
__ADS_1
Langkah kaki yang masuk ke dalam ruangan Ivano, sembari mendekap Ivano dari belakang Ivano yang melihat ke arah jendela hanya senyum dan mengecup tangan yang bersamanya.
“Sayang, kamu kenapa kok melamun terus karena perkataan aku yang berlebihan ya, apa kamu masih marah sama aku,” ucap Katy.
“Tidak kok, aku mana bisa benci sama kamu lagian aku lagi mikir soal adik aku,” jawab Ivano.
“Adik kamu? Luis ada apa sama dia, dia baik-baik aja kan kenapa jadi beban pikiran kamu,” ujar Katy.
“Semenjak dia pulang dari luarnegeri sifatnya aneh dan tadi aku liat dia supain wanita, setau aku dia hanya lakuin itu ke mama aku doang, bahkan semua wanita aja anggap dia tidak normal tapi dengan wanita itu dia bisa kenapa ya,” kata Ivano.
Katy membalikan badan Ivano sontak mendekap kedua pundak Ivano, melihat Ivano dengan jarak dekat sembari Ivano juga membalas menatap Katy.
“Sayang, bagus dong kalau adik kamu udah bisa mulai menerima wanita, kenapa tidak ya kan semua orang bisa berubah,” ungkap Katy.
Ivano melepas dekapan Katy, sampai akhirnya Ivano pergi untuk rapat, selesai rapat Ivano mencoba telepon Luis.
“Luis, kamu dimana?” tanya Ivano.
“Lagi cari kampus kak, ada apa kak,” jawab Luis.
“Kakak mau ketemu kamu di dekat kampus yang kamu berhenti sekarang, bisa kan,” ucap Ivano.
“Ok kak,” sahut Luis.
Ivano mengakhiri teleponya bersama Luis, sontak Luis bingung ada apa tidak lama Pearl mengenggam erat tangan Luis.
“Sayang, segala sesuatu yang kamu sembunyiin tidak akan bisa bertahan jadi lebih baik ketawan aja sama kakak kamu, mama tau kok sifat kakak kamu pasti masih sama,” ujar mama Pearl.
“Sama darimana kak, kak Ivano itu sekarang jadi sok serius dan bikin emosi,” jawab Luis.
Pearl hanya senyum dan ketawa tidak lama, akhirnya Ivano datang saat Pearl menghelus kepala Luis, Ivano bingung apa yang dia lihat ini mimpi atau bukan, Pearl berdiri dari tempat duduknya membuka lembar tanganya untuk di dekap oleh Ivano.
__ADS_1
Ivano jalan ke Pearl sembari melihat ke arah Pearl tanpa berkata apa-apa, Pearl masih senyum Luis melihat itu sontak mendorong Ivano ke dalam pelukan Pearl tidak lama Pearl juga menghelus kepala Ivano, Ivano ingin menanggis tetapi tertahankan karena tempatnya yang tidak mungkin.