Dj Kesayanganku

Dj Kesayanganku
DJK PART 83


__ADS_3

“Luis sayang, kamu kenapa?”


“Tidak apa-apa ma,”


Lia hanya tersipu malu melihat kakaknya, kakaknya juga tidak bisa berkata apa-apa, tidak lama akhirnya Luis duduk di depan kakak, adik serta pamannya.


“Sayang kamu kenapa? Sakit kalau sakit ayo kita ke rumah sakit,”


“Sakit cinta ma,”


Pearl yang mendengar itu ketawa sedangkan Ivano hanya diam dan merasa posisinya terancam tidak lama, Ivano mendekap tangan Luis dan menarik jauh dari mereka.


“Lu ketemu sama wanita?”


“Iya ka, maaf ya kak,”


“Haha kenapa minta maaf adik, gua tidak apa-apa kok cantik tidak cewenya kalau cantik kenalin ke gua sekalian, siapa tau dia lebih suka gua daripada lu?”


“Dih! Lu itu ya masa calon adik sendiri mau lu embat emang lu kakak gila,”


Ivano ketawa sembari mengusap kepala Luis, balik ketempat duduk semula, sepanjang perjalanan Luis hanya diam dan memikirkan guru cantik.


“Kak, aku ada nomornya bu Elina loh, kakak mau tidak?”


Lia yang senang iseng kepada kakaknya, Luis menolak dengan lembut tidak lama, Lia bingung mengapa Luis menolak.


“Tidak baik kalau punya nomor orang, orangnya tidak tahu lebih baik minta langsung, biar sopan,”


Lia hanya tersenyum mendengar perkataan kakak keduanya, sontak Lia terus melihat ke arah muka Luis.


“Cantik, kenapa kamu melihat wajah kakak terus sih, ada yang aneh ya sama wajah kakak?”


“Tidak, kakak lucu ya kalau lagi salah tingkah,”


“Lucu gimana sih sayang tidaklah,”


Sontak sampai di kafe mereka hanya diam dan memesan makanan yang ingin mereka makan, setelah pesan handphone Pearl berdering.


“Halo sayang, ada apa?”


“Kamu lagi apa?”


“Aku lagi sama anak-anak ada apa Theo?”


“Aku rindu kamu,”


Pearl bingung ada apa dengan Theo, tidak lama Pearl pergi dari pandangan anak-anaknya, ketiga anaknya bingung ada apa dengan orangtuanya.


“Sayang, kamu kenapa? Kamu baik–baik aja kan?”


“Iya sayang, aku baik-baik aja kok,”

__ADS_1


“Terus kalau baik-baik saja kenapa suaranya kayak lemes gitu sayang?”


“Iya mungkin karena aku capek aja jadinya begitu, yaudah aku kembali rapat lagi ya bye sayang, titip anak-anak ya sama hati kamu juga biar selalu sama aku, bye,”


Pearl mengakhiri telepon bersama Theo, merasa aneh namun tidak bisa berkata apa-apa, karena Pearl sendiri bingung dengan apa yang terjadi.


“Mi, kenapa?”


“Tidak apa-apa Lia, ayo kita  pulang ayo sudah tidak kemana-mana lagi kan?”


“Iya mi,”


Semuanya jalan kecuali Ivano, Luis dan Lia bersama sontak Ivano merangkul mamanya, sembari jalan.


“Mama, kenapa?”


“Tidak apa-apa sayang, emang mama kenapa?”


“Mama pucat, mama kepikiran papa ya?”


“Iya sayang,”


Ivano sontak meminta pengawal yang jagain papanya untuk mengabarkan papanya lagi apa, masuk ke mobil Pearl masih diam dan tidak tenang, tidak lama ada kabar serta video, Ivano memberi ke mamanya.


“Ma, ini coba mama liat tentang papa,”


Pearl melihat dan merasa lebih tenang, Ivano mikir selama 10 tahun kemarin apa kabar mama lebih parah dari ini ya, Ivano mendekap mamanya.


“Makasih ya sayang kamu udah mengerti mama jadi merasa tidak enak dan bebani kamu,”


“Tidak ma, tenang aja, mama tidak pernah ngebebanin aku kok, aku malah senang kalau mama selalu minta tolong ke aku, terkesannya aku berguna aja untuk mama,”


Pearl hanya tersenyum mengecup kening Ivano, tidak lama sampai dirumah Ivano membawa Pearl ke kamarnya.


“Kak Luis,”


“Iya Lia sayang, ada ap?”


“Mami kenapa, kok sampai di bawa gitu sama kak Ivano,”


“Kecapean aja sayang ayo kamu juga masuk ke kamar kamu ya sayang, kakak teman,”


Lia hanya menurut serasa dirinya tidak perlu tau apa-apa, sampai di kamar Pearl, Ivano membawa minuman teh hangat untuk mamanya.


“Ini ma, minum,”


“Makasih sayang,”


Ivano membantu Lia menaruh minuman di atas meja sembari Pearl mengusap tangan Ivano, Ivano melihat ke arah mamanya.


“Mama udah dong jangan tidak tenang gitu, papa kan baik-baik saja,”

__ADS_1


“Iya mama tau tapi mama tidak bisa bohongin perasaan mama sendiri sayang,”


Ivano mengambil handphonenya dan menelpon papanya, papanya bingung ada apa sontak mengangkat.


“Ivano, kamu kenapa?”


“Ada yang kangen sama papa tapi gengsi cari duluan,”


Ivano mengarahkan handphonenya kepada mamanya, mamanya merasa malu sontak mengambil handphone Ivano, Ivano yang melihat itu sangat senang sampai akhirnya keluar sebentar melihat adik-adiknya.


“Luis, Lia mana?”


“Udah tidur kak, kenapa emang kak?”


“Oh baguslah kalau gitu,”


Ivano jalan ke arah meja makan sembari mengambil gelas untuk minum air, Luis terus melihat ke arah Ivano.


“Kenapa adik, kamu mau nanya apa?”


“Kok kakak tau aku mau nanya,”


“Keliatan dari wajah kamu penuh dengan tanya,”


Ivano duduk di depan Luis sembari pegang gelas yang habis dirinya minum tadi, Luis menghela nafas.


“Mama kenapa kak?”


“Mama? Baik-baik aja emang mama kenapa?”


“Mama diam aja semenjak dapat telepon dari papa, papa baik-baik aja kan?”


Ivano hanya senyum sembari mengusap kepala Luis, Luis diam tanpa melawan kepada Ivano yang ada di depannya.


“Tidak apa-apa adik, mama itu lagi puber biasalah udah pisah dari papa 10 tahun, terus sekarang pisah lagi wajar kan kalau mama khawatir sama papa,”


“Oh, aku kira mama kenapa aku kira, mama mau ninggalin kita lagi kak,”


“Loh kok kamu gitu bicaranya tidak dong adik tenang aja, mama itu cinta banget sama papa sekarang daripada kita pusingin mereka, gimana kalau kita main game yang kalah harus pesan makan, kakak lapar banget adik kurang makanya beli cemilan gitu, kan kamu tau dirumah tidak ada cemilan,”


“Kakak mau apa aku beliin pake online, daripada kakak kelaparan aku tau daritadi kakak udah jagainmama pasti kakak sampai lupa sama diri kakak sendiri,”


Ivana Hanya senyum tidak lama Ivano mengusap kepala Luis sembari itu, Luis juga diam aja melihat ke arah Ivano.


“Makasih ya adik kamu udah perhatian sama kakak, kakak tidak menyangka orang kayak kamu bisa perhatian juga ya, gimana kalau sama perempuan?”


“Aduh kak, apaan sih tidak lucu bercandanya seriusan kakak mau apa ini kak? Mumpung aku lagi baik mau pesanin kakak makanan,”


“Apa ya yang enak adik, biasa kamu yang pintar pesan makan, apa itu yang enak,”


“Kalau makanan itu pedas, emang kakak bisa makan pedas yang ada kakak nangis nanti,”

__ADS_1


Ivano hanya diam tidak lama, akhirnya saat Ivano mau pesan baru ingat handphonenya ada di mamanya, Ivano ke kamar mamanya dan mamanya udah tidur bersama papa lewat telepon, Ivano hanya senyum dan mengambil pelan handphonenya dari genggaman tangan mamanya.


__ADS_2