
“Kak Luis tumben tidak main sama kak Elina?”
“Iya soalnya kakak lagi malas mau main sama Lia aja.”
“Oh gitu,aku kira lagi berantem.”
Luis senyum tidak enak sambil menggeleng kepalanya, tidak lama Elina mengirim pesan kepada Luis, Lia hanya senyum.
“Udah kak, pergi aja sanah Lia tidak apa-apa kok sendirian, kan ada bibik.”
Luis tetap diam di tempat dan mau mengikuti janjinya kepada mama dan papanya, Pearl yang melihat dari jarak cctv jauh hanya diam dan termenung.
“Sayang kamu kenapa?”
“Aku merasa kasihan sama Luis.”
“Kasihan? Kasihan kenapa, kan kamu yang buat dia jadi gini, kenapa tiba-tiba kasihan sayang.”
Pearl hanya diam dan tidak tahu harus berkata apa, sedangkaann Theo hanya mendekap Pearl dalam pelukannya.
“Luis pasti ngerti kok maksud kamu, dia tidak mungkin tidak ngerti, kalau dia tidak mengerti tandanya dia tidak sayang kamu benar tidak.”
“Kamu itu apa sih mikirnya sayang, aku lagi takut malah kamu bikin tambah takut.”
Theo hanya tersenyum kepada Pearl, tidak lama Theo ada rapat Pearl hanya diam dan menunggu, memesan makanan untuk Luis dan juga Lia.
Ting dong ting dong ting dong.
“Itu siapa adik? Kamu ada pesan apa?”
“Tidak ada kak.”
“Yaudah kalau tidak ada, kakak liat dulu ya.”
“Iya kak.”
Handphone Lia berdering dari Pearl, Lia melihat ke arah handphonenya tersenyum sontak menggeleng kepala.
“Sayang, itu makanan dari mami sama kak Luis, jangan kasih tau kak Luis itu dari mami ya sayang.”
Luis membuka pintu dan bingung ini makanan dari siapa, saat si pengantar datang langsung kirim dan tidak berkata apa-apa.
“Itu apakah?”
“Makanan adik, kamu beneran tidak pesan apa-apa.”
“Kakak tidak percaya sama aku.”
“Bukan gitu kakak bingung aja, yang biasa suka pesan makan kan mama, mama aja lagi di luar kok bisa mama pesan makan.”
“Yaudah gak makan aja mungkin rezeki kita juga, harus selalu bersyukur kak.”
__ADS_1
Luis hanya diam, Pearl yang melihat dari cctv tersenyum dan senang melihat Lia makan, tidak lama Luis makan.
“Ini kan makanan yang mama suka pesan, tapi emang mama yang pesan ya?”
“Kak Luis mikir apa?”
“Tidak ada sayang.”
“Ok kak kalau gitu.”
Selesai makan akhirnya mereka juga selesai kerjakan tugas, Luis mengajak Dia pergi ke mall untuk main, tidak lama ketemu Ivano.
“Kak, ngapain di sini?”
“E- eh kerja ada apa?”
“Oh, kok kakak takut gitu kakak lagi pacaran ya, hayo aku kasih tau mama.”
Ivano merasa bingung harus menjawab apa, tidak lama Alice melihat ada Luis sontak pergi dari tempat itu kerumah.
“Mi, Alice pulang.”
Mami menghampiri Alice, bingung ada apa dengan muka Alice yang pucat pasi, sambil mendekap kedua pundak Alice.
“Sayang kamu tidak apa-apa kan, kenapa muka kamu pucat?”
“Aku kecapean aja mi, aku mau istirahat dulu ya mi.”
“Iya sayang.”
Tok tok tok.
Alice membuka pintu kamarnya, saat buka kaget dan tidak nyangka sontak di dekap dengan tamu yang mengetuk pintu Alice.
“Maaf ya sayang.”
“Kamu kenapa di sini? Ada apa?”
“Aku rindu kamu dan mau peluk kamu, boleh kan?”
Alice tidak tahu masalah apa yang dialami oleh Ivano, tapi sepertinya menyakiti perasaan tidak lama, akhirnya mereka duduk berdua di atas kasur.
“Kamu gimana caranya bisa masuk.”
“Aku punya kunci rumah kamu, kamu lupa?”
“Dasar nakal, kamu ada apa?”
Ivano kembali diam lagi saat ditanya memiliki masalah apa, Alice hanya mendekap kedua wajah Ivano.
“Yaudah kalau kamu tidak mau cerita tidak apa-apa, aku ngerti kok tapi jangan lama-lama ya kasihan kamu, jadi merasa dirugikan dengan masalah kamu pribadi, ngerti kan maksud aku apa?”
__ADS_1
Ivano hanya senyum sambil mengusap kepala Alice, sampai dirumah Ivano hanya diam dirumah pada tidur dan Ivano hanya duduk nonton di ruang tv tidak sengaja menemu video mamanya berbicara untuknya.
“Ivano sayang, kalau mama udah pisah sama papa kamu, mama harap kamu tetap jaga diri kamu ya, dan selalu perhatian papa kamu serta adik kamu Luis, mama bukan mamayang baik buktinya papa kamu pisah sama mama, mama cuman bisa berdoa semoga semuanya bahagia, karena mama sayang kalian.”
Ivano yang menonton video itu hanya bisa menangis mengeluarkan air mata, tidak lama Pearl yang melihat cctv ikut menanggis.
“Sayang kamu kenapa?”
“Ivano nonton video yang aku buat, pas aku pisah sama kamu.”
“Maaf ya, aku sembunyikan dari Ivano kamu marah ya sama aku?”
“Kenapa kamu sembunyikan dari dia, harusnya kamu kasih tau dia betapa aku sayang sama keluarga aku, tidak kayak kamu yang percaya dengan gosip luar.”
Theo meminta maaf kepada Pearl sambil mendekap Pearl di dorong oleh Pearl dengan perasaan ekcewa yang tidak terbendung lagi.
“Aku tidak nyangka kamu jahatbanget jadi papanya, aku kira kamu itu percaya sama aku, ternyata butuh waktu bertahun-tahun untuk kamu percaya sama aku, makasih udah buat aku kecewa kesekian kalinya, Theo.”
“Bukan gitu maksudnya sayang, aku waktu itu tidak bisa berpikir jernih.”
Pearl melepaskan dekapan dari Theo, pergi ke kamar yang pisah dari Theo, Theo hanya bisa diam tidak bisa berkata apa-apa.
“Maafin aku Pearl, aku bukan tidak mau percaya kamu, rasa percaya itu susah untuk diungkapkan bukan tidak mau percaya tapi memang tidak bisa percaya, maaf ya sayang.”
Kebesokan paginya di meja makan Theo terus melihat ke arah Pearl, Pearl diam dan tidak lama Pearl bruu-buru makan.
“Syang, kamu masih marah sama aku?”
Pearl tidak peduli, sambil melihat cctv moment langkah di mana tiga anaknya dirumah seharian sambil bicara dan main bersama.
“Mama kalian nak.”
Theo menghampiri Pearl dan mengecup pucuk kepala Pearl, Pearl melihat dengan tatapan dingin kepada Theo.
“Apaan sih kamu, diam deh pria jahat yang ingin menjauhi aku dari anak-anak aku.”
“Aku tidak pernah bermaksud begitu sayang.”
“Alah, alasan.”
Theo hanya bisa diam dan tidak berkata apa-apa, sudah saatnya Theo untuk rapat Pearl tidak tega dengan Theo, tapi sifat Theo udah keterlaluan.
“Kak Ivano, tidak pergi hari ini?”
“Iya kak, biasa kakak pergi.”
“Kak Luis juga tidak pergi tidak kangen sama kak Elina.”
Luis hanya diam dan menggeleng kepala, Ivano hanya senyum melihat ke arah Luis, Luis diam tidak berkata apa-apa.
“Loh kenapa, kakak gak putus kan sama kak Elina?”
__ADS_1
“Apaan sih dik, tidak kok tenang aja, kakak kan bucin akut sama kak Elina, mana mungkin kakak lepas cuman tidak mau ganggu dia aja, kuliah kakak juga padat banget, jadi kakak harus pintar bagi waktu itu aja Lia sayang.”
Lia hanya menganggukan kepala, tidak lama akhirnya mereka main bersama, Alice mengirim pesan kepada Ivano.