
“Kamu mikir apa istriku yang cantik,”
“Tidak kadang usia muda membuat aku kepikiran pas aku di jodohin kamu,”
“Apaan emang umur kamu pas di jodohin sama aku berapa,”
“Masih muda tapi lupa berapa,”
Theo hanya ketawa kecil kepada Pearl, Pearl merasa kesal dengan Theo sampai akhirnya handphone Theo berdering, keduanya melihat ke arah handphone.
“Bentar ya aku jawab dulu,”
Pearl hanya menganggukan kepala tidak lama Theo mengangkat telepon itu di depan Pearl, Pearl tidur di bahu Theo, Theo mengusap Pearl, setelah selesai telepon Pearl tertidur Theo menggendong Pearl ke kamar.
“Kebiasaan setiap temenin kerja, pasti dia yang tidur duluan, selamat malam ratuku,”
Theo ingin melanjutkan kerja di tahan oleh Pearl, Theo hanya tersenyum dan terpaksa tidur daripada Pearl bangun.
Kebesokan pagi Pearl bangun melihat ada Theo di sebelahnya, Pearl hanya tersenyum tanpa berkata apa-apa.
“Pagi ratuku,”
“Pagi, kamu udah bangun semalam tidur jam berapa?”
“Bareng kamu kok, kenapa sayang,”
“Kamu tidak lagi bohong kan,”
Theo mencubit kecil pipi Pearl, tidak lama Pearl bingung ada apa Theo, Theo bangun dari tempat tidurnya.
“Udah ah, aku pergi kerja dulu kamu tunggu aku pulang ya kalau ada apa-apa hubungin aku, kalau kamu bosan pergi sama anak-anak kalau sendiri aku takut bahaya,”
“Apaan sih kamu sejak kapan kamu peduli sama aku, yaudah makasih ya sayang,”
“Iya aku duluan bye istriku yang cantik,”
Theo mengecup kening Pearl, Pearl hanya diam selesai itu Pearl mengikat rambutnya dan jalan ke arah luar kamar.
“Pagi maa,”
“Pagi sayangnya mama,”
Pearl duduk ke arah meja makan, bibik memberi kopi kesukaan Pearl, Pearl hanya senyum sedangkan Ivano hanya serius sembari seruput kopinya.
“Sayang, kamu lagi apa Ivano?”
“Lagi kerja ma,”
“Hmm mall kamu ramai sayang?”
“Lumayan ma,”
Luis dan Lia bingung apa yang dimaksud dengan mall, dan siapa yang punya mall tidak lama Ivano mengusap kedua kepala adiknya.
“Kalian kenapa sih lucu banget, bingung kakak sama kalian,”
Pearl dan Ivano juga ketawa bersamaan sedangkan Luis dan Lia, saling melihat bingung apa ini salah mereka yang terlalu tidak mengerti apa-apa Lia membisik kepada Luis.
“Kak Luis aku salah ya?”
“Tidak sayang, kakak yang salah Lia tidak pernah salah tenang aja,”
__ADS_1
Luis mengusap kepala Lia, Lia tersenyum akan Luis dan pearl tersenyum melihat kedekatan kedua anaknya.
“Ma,”
“Apa Ivano sayang?”
“Kalau lihat mereka akur begitu lucu ya ma,”
“Iya mama senang liatnya kamu sendiri gimana sayang,”
Saat ingin menjawab handphone Ivano berdering dari Katy, Ivano merasa malas akhirnya mengakhiri telepon.
“Siapa sayang?”
“Mantan tidak jelas!”
“Sabar ya, mama tau gimana kesalnya kamu, sayang dia cantik tapi hatinya tidak baik,”
“Iya ma, tidak mau cari cewe cantik lagi, kapok mending aku jomblo aja seumur hidup capek,”
Pearl seketika menepuk pelan Ivano, Ivano hanya tertawa kecil dengan mamanya, Theo yang melihat itu sontak mendehem.
“Semuanya pada tidak ada kerjaan kok, kayaknya papa liat senggang banget,”
“Eh, papa bukannya papa udah pergi ya? Kok masih ada di ruang kerja,”
“Hari ini papa tidak ke kantor kok, papa diruangan papa jahat banget ini pada ketawa-ketawa tidak ngundang papa,”
“Aku mau antar Lia sekolah pa, bye pa,”
Lia menghampiri papinya dan Theo melihat dengan tertegun, sembari Lia mendekap papinya dengan erat.
“Papi, Lia pergi dulu ya papi jangan terlalu capek kerja, Lia tidak mau papi sakit,”
“Iya papi bye, ayo kak Luis,”
Lia mengenggam erat tangan Luis, Theo hanya mengeleng kepala jalan ke arah Pearl, Pearl merangkul Theo.
“Kamu kenapa sayang?”
“Aku tidak nyangka ada anak yang kecil lagi, malah cantik lagi kayak kamu,”
“Lah, emang papanya jelek papanya juga ganteng kok,”
Ivano yang melihat kedekatan kedua orangtuanya membuat nya sadar terkadang bersama orang tua juga ada baiknya daripada memaksa keadaan.
“Ma, pa Ivano pergi dulu ya ke mall biasa,”
“Iya sayang hati-hati nanti mama mau ke sana juga sama papa kamu,”
“Eh ngapain?”
“Jalan-jalan sekalian sama Lia dan Luis, boleh kan sayang,”
Ivano hanya senyum dan menganggukan kepalanya tidak lama Ivano mengecup pipi Theo dan juga Pearl.
“Sayang,”
“Iya,”
“Kalau aku tidak bisa kamu aja ya, tidak apa-apa kan,”
__ADS_1
“Iya tidak apa-apa kok aku juga tau kamu sibuk jadi tidak masalah,”
Pearl hanya diam sembari mengganti baju, setelah selesai rapi Theo meninggalkan secarik kertas di atas kasur.
“Sayang, aku ada kerjaan mendadak yang harus buat aku pergi ke luar negeri sekarang, sekali lagi aku minta maaf sayang,”
Pearl hanya tersenyum membaca secarik surat dari suami tercintanya, sontak mengecup surat itu.
“Hati-hati sayang, aku tidak mau kamu kenapa-kenapa,”
Pearl pergi dari rumah ke arah mall Ivano, sembari mengabari kepada Luis untuk menunggu adiknya Lia.
“Luis, mama titip Lia ya, awas jangan sampai kehilangan Lia,”
“Iya ma, siap nanti ketemuan di mall kak Ivano kan,”
“Iya sayang baru mama mau bilang, sampai ketemu nanti ya,”
“Ok ma,”
Luis mengakhiri pesan bersama mamanya, tidak lama ada guru cantik yang menuntun anak kecil keluar dari kelas, dan ada yang tersandung di tangkap oleh guru itu.
“Kamu tidak apa-apa sayang?”
“Tidak apa-apa ibu Elina, makasih ibu,”
“Iya sayang lain kali hati-hati ya,”
Luis merasa tertarik akan guru cantik itu, Luis terus menatapi guru cantik itu, tidak lama ada anak kecil yang menghampiri Luis.
“Kakak, liat guru kita ya tidak boleh itu calon masa depan aku,”
“Eh anak kecil kamu belum 17 tahun tapi udah klaim dia sebagai masa depan kamu, emang dia mau sama kamu?”
Guru cantik menghampiri mereka, tidak lama guru cantik berkata kepada Luis, sontak Luis tertegun diam melihat betapa cantiknya guru ini saat berada di dekatnya.
“Halo maaf ya murid aku ganggu kamu, kamu tidak apa-apa kan?”
“Iya tidak apa-apa kok, Luis,”
“Elina, kamu di sini ngapain?”
“Tunggu adik aku,”
Lia memanggil dari jarak jauh, Luis hanya senyum tidak lama Elina hanya diam ternyata ini kakanya Lia yang sering di ceritain sama Lia.
“Ibu Elina,”
“Hai sayang,”
“Ibu ini kakak aku yang kedua,”
Elina terdiam tidak lama murid-muridnya menjadi kesal melihat kehadiran Lia dan juga Luis, sampai akhirnya Elina tersenyum tidak enak.
“Maaf ya Lia, ibu harus balik ngajar kamu tidak apa-apa kan?”
“Iya ibu aku juga mau pulang, bye ibu semangat mengajarnya,”
“Bye Lia,”
Luis hanya diam tertegun melihat ke arah guru cantik, sampai di mobil Luis masih senyum akan guru cantik itu.
__ADS_1
“Kakak, suka sama bu Elina?”
Luis terdiam dan tidak berkata apa-apa, sedangkan Lia terus mengacau kakaknya hingga sampai di mall Luis masih memerah wajahnya.