
“Iyaudah Ivano sayang, masuk sekolah ya kalau ada apa-apa telepn papa, papa akan langsung datang kok aman,” ucap papa Theo.
“Aku tidak mau ngerepotin papa, aku mau ngandalin diri aku sendiri pa, aku mau papa bangga,” jawab Ivano.
“Kamu selalu buat papa bangga kok, apapun yang Ivano lakukan papa senang asal hal baik bukan buruk, ok sayang,” ujar papa Theo.
Ivano hanya senyum sontak keluar dari mobil, tidak lama Theo mengirim pesan untuk pengawal datang 3 orang menjaga sekolah, agar kalau ada yang ganggu Ivano sontak beri pelajaran dan kasih tau siapa papa Ivano, walau Theo sudah memberi tahu pasti bagian sekolah selalu lalai.
“Murid-murid kenalin, ada anak baru kalian harus berbuat baik ya jangan ada yang main kucil-kucilan,” kata guru.
Ivano masuk ke kelas dan semua mata tertuju kepada Ivano, tidak lama para wanita jauth cinta kepada Ivano, tanpa sadar Ivano tersenyum kepada semuannya.
“Ivano, kamu boleh perkenalan diri kamu sayang,” ucap guru.
“Semuanya nama saya Ivano, senang bertemu dengan kalian,” ujar Ivano.
“Udah segitu aja Ivano, mungkin ada yang mau bertanya,” kata guru.
Semuanya diam dan memulai pelajaran sontak Ivano duduk dengan Wendy pria yang di asingkan di kelas selain kutu buku dirinya juga selalu bermain sendiri.
Ivano mengulurkan tanganya kepada Wendy tapi Wendy tidak dengar karena memiliki dunia sendiri, sontak Ivano menepuk pundak Wendy dan Wendy berteriak sontak lari.
“Sabar aja Ivano, dia emang gitu aneh anaknya hai nama gua Brollan panggil aja gua Bro,” ucap Brollan.
“Ok,” kata Ivano.
Ivano masih penasaran dengan Wendy sampai akhirnya, Ivano mengajak Wendy untuk ke kantin bersama tapi Wendy malah menjauh lalu terus mengikuti saat Wendy hendak pergi, Ivano menahan tangan Wendy.
“Wendy! Tunggu!” pekik Ivano.
“Apa!” sahut Wendy.
“Lu tidak mau temanan sama gua, gua tidak bakal jahatin lu kok, gua benaran mau temanan sama lu, gua segitu menjijikannya ya sampai lu tidak mau temanan sama gua,” tanya Ivano.
Wendy sontak melihat ke arah Ivano, disaat Wendy ingin menjauh Wendy memberi alasannya kenapa Wendy menjauhinya.
__ADS_1
“Maaf, bukan gua jauhin lu tapi menurut gua pria sempurna kayak lu tidak cocok temanan sama gua, gua lebih baik tidak punya teman daripada dimaanfaatin,” ucap Wendy.
“Alasannya apa gua tidak bisa jadi teman lu, kalau emang ada yang jahatin lu kasih tau gua, pasti besok mereka tidak bakal berani jahat sama lu,” ujar Ivano.
Wendy yang mendengar itu hanya senyum dan merasa Ivano seperti anak Theo si nomor satu yang bisa mengatur segalanya.
Wendy merasa Ivano hanya anak manja yang mengandalkan orangtuanya, Ivano merasa kesal sedangkan Brollan mendekati Ivano dan mau ajak Ivano menjadi tim basketnya dikarenakan Ivano tinggi dan jago basket.
“Ivano,” panggil Brollan.
“Iya, kenapa,” ucap Ivano.
“Lu mau tidak jadi tim basket gua,” ujar Brollan.
“Maaf Brollan boleh bahas nanti aja, gua mau kejar Wendy dulu bye, sampai jumpa besok ya,” kata Ivano.
Brollan merasa kesal dengan sikap Ivano yang terus berharap bisa jadi teman Wendy, tidak lama pengawal terus mematai Ivano sampai Ivano hampir kecelakaan dan di tolong pengawal dengan berbisik.
“Tuan muda tidak apa-apa,” ucap pengawal.
“Tuan muda biar saya antar pulang, ini perintah dari bapak saya takut tuan muda ada kecelakaan lebih parah lagi,” kata pengawal.
“Saya tidak apa-apa,” ungkap Ivano.
Pengawal tetap tidak peduli dan mengantar Ivano pulang, sontak pengawal memberi informasi kepada Theo, sontak Theo menyuruh Ivano ke kantor.
Tok tok tok.
“Masuk,” ucap papa Theo.
Ivano masuk dengan muka kesal, tidak lama Ivano jalan ke arah papanya, papanya hanya tersenyum melihat tingkah anaknya.
“Ada apa anak papa yang ganteng kok cemberut?” tanya papa Theo.
“Papa bilang percaya sama Ivano, tapi papa kirim pengawal banyak banget maksud papa apaan sih! Malah pakai culik segala lagi kan jadi menonjol banget pa, justru aku tidak mau menojol,” ucap Ivano.
__ADS_1
“Iya mau gimana sayang kenyataanya gitu, emangnya kalau kamu menonjol salah?” ujar papa Theo.
“Tidak salah cuman aku kehilangan teman aku Wendy namanya, aku mau jadi teman dia tapi dia tidak mau jadi teman aku, kenapa ya pa padahal aku maunnya dia jadi teman aku, apa aku aneh pa kata dia orang sempurna kayak aku tidak cocok jadi teman dia,” kata Ivano dengan nada bingung serta kesal.
Theo sontak merangkul Ivano dan mengajak Ivano duduk, sembari itu memanggil pengawalnya untuk masuk ke dalam ruangan.
“Bikinin saya es kopi ya, Ivano sayang mau apa?” tanya papa Theo.
“Sama kayak papa aja,” ujar Ivano.
“Yakin, tidak mau susu coklat? Ada kok di sini kalau kamu mau, nanti kamu minum kopi tidak bisa tidur, salahin papa lagi,” ucap papa Theo.
“Tidak kok pa, bisa,” ujar Ivano.
Theo hanya senyum dan meminta es kopinya dua, setelah itu pengawal pergi dan akhirnya Ivano diam kembali, tidak lama Theo menghela nafas.
“Sayang, kalau dia tidak mau teman kamu, cari tau dong apa yang dia suka dan tidak suka siapa tau cara kamu salah, tunggu ini cowo apa cewe yang lagi kamu bahas,” tanya papa Theo.
“Cowolah pa, aku tidak mau dekat sama cewe, maksudnya aku masih kecil aku mau cari cewe yang kayak mama sikapnya, kalau tidak ada tidak mau,” ucap Ivano.
Theo terdiam saat tau tipe anaknya seperti ibunya seketika, Theo tidak mau berbicara dan Ivano merasa bersalah kepada papanya.
“Pa, papa jangan salah paham maksud Ivano, mau cari yang baik kayak mama bukan mama, duh tetap salah gimana ya jelasinya intinyaa Ivano, belum mau pacaran sampai Ivano udah kuliah baru cari pacar, gitu pa,” kata Ivano.
Theo hanya senyum sebenarnya Theo memahami siklus hidup Ivano, hanya saja takutnya apa yang ia rasakan berbeda dengan apa yang dia bicarakan.
“Iyaudah sayang, papa ngerti terus kamu mau bagaiaman sama teman cowo kamu itu?” tanya papa Theo.
“Jujur pa, aku sendiri juga bingung harus gimana, menurut papa harus gimana,” ujar Ivano.
“Iyaudah pakai cara papa aja, masa mau papa yang turun tangan nanti kamu marah lagi kalau papa bisa ngatasin semuanya,” kata papa Theo.
“Iyaudah pa, tidak usah kalau gitu biar aku pikirin aja,” ujar Ivano.
Theo hanya menghelus kepala Ivano, tidak lama Pearl mengirim pesan kepada Ivano dan handphone Ivano berdering sontak Theo melihat dengan senyum.
__ADS_1