Dj Kesayanganku

Dj Kesayanganku
DJK PART 55


__ADS_3

“Ada apa sayang?” tanya Theo.


“Mandi gih biar segar, jangan tidak mandi nanti kamu sakit, udah aku siapin kok air panasnya tenang aja ok sayang,” ucap Pearl.


“Hmm ok istriku yang cantik,” ujar Theo.


Theo jalan dengan malas tidak lama Pearl hanya senyum membantu Theo pergi ke kamar mandi, sontak tersenyum.


“Anak ganteng dan manis tidak boleh malas nanti tidak di sayang istrinya loh, emang mau abis capek-capek tidurnya di sofa,” tanya Pearl dengan nada ketawa kecil.


“Ok, siap sayang langsung mandi,” ucap Theo.


Theo pergi dari hadapan Pearl, Pearl hanya mengeleng kepala merasa Theo seperti anak kecil tidak lama handphonenya berdering dari Andi.


“Halo Andi, ada apa?” tanya Pearl.


“Hmm makasih ya lu udah banyak bantu perusahaan kita,” jawab Andi.


“Andi, gua bilang apa, punya lu bukan punya gua, terimakasih buat apa sih tidak ngerti,” ujar Pearl.


“Ya makasih aja lu selalu bantu gua dari semua segi dan gua senang intinya gua terimakash aja,” kata Andi.


Pearl hanya tersenyum Theo yang melihat itu merasa bingung, siapa yang Pearl telepon tidak lama mereka mengakhiri telepon tersebut, Theo mengecup Pearl.


“Siapa sayang, kok senyum-senyum cowo ganteng ya pasti aku kalah,” ucap Theo.


“Haha, kamu itu apaan sih tidak ada apa-apa kok emang kenapa juga, bingung aku sama kamu itu,” jawab Pearl.


“Iyaudah kalau tidak mau kasih tau aku juga tidak mau tau kok,” ungkap Theo.


“Itu Andi sayang, dia cuman bilang makasih karena kita udah bantu perusahaan dia itu aja, jadi kamu jangan marah paham tidak,” ucap Pearl.


Theo hanya diam dan tetap marah kepada Pearl, Pearl yang mendekap Theo dari belakang sembari menghelus kepala Theo.

__ADS_1


“Jadi gini, aku udah jujur aja kamu tidak percaya humm, gimana kalau aku bohong ya kalau aku jujur aja marah,” ucap Pearl.


Theo menghadap ke arah Pearl, Pearl yang menghelus pipi Theo, Theo yang melihat muka manis Pearl tidak tega untuk memarahinya sontak mendekap dengan erat.


“Makanya jadi cewe jangan cantik-cantik kan jadi banyak yang suka, klau banyak yang suka aku yang repot, paham tidak nyonya Theo,” pekik Theo.


Pearl hanya tersenyum sembari mendekatkan dahinya kepada Theo, sontak mereka tidur bersama kebesokan paginya, Ivano bangun dengan rapi jalan ke arah meja makan.


“Ivano, gimana kemarin di sekolah tidak ada yang ganggu kamu kan?” tanya papa Theo sembari seruput kopi.


“Tidak ada pa, tenang aja,” ucap Ivano.


“Iya bagus kalau gitu, kalau ada kasih tau papa biar papa tuntut sekolahnya biar besok tidak usah buka lagi, enak aja papa banyak invest sampai investnya sia-sia papa bikin bangkrut,” tegas papa Theo.


Ivano kaget dan mikir sekaya apa sih papanya sampai bisa melakukan semua hal dengan mudah, Theo hanya tersenyum licik sembari melihat ke arah Ivano.


“Kamu pasti mikir ya kenapa, papa bisa sekaya ini?” tanya papa Theo.


Ivano hanya terdiam yang mudah di baca oleh papanya, tidak lama Theo hanya menghelus kepala Ivano, sontka mengecup kepala Ivano.


“Makasih ya pa, Ivano akan belajar lebih berani lagi kedepannya,” ucap Ivano.


“Iya sayang, tidak apa-apa pelan-pelan aja papa ngerti kok, semua butuh proses dan tumbuh sayang,” ujar papa Theo.


Ivano hanya senyum setelah selesai dengan sarapannya papanya mengantar Ivano ke sekolah, jadinya Pearl bisa beristirahat bersama Luis.


“Ma, hari ini kita tidak antar kak Ivano?” tanya Luis.


“Tidak sayang, kenapa kamu mau antar kakak kamu,” jawab mama Pearl.


“Tidak, nanya aja,” ucap Luis.


Pearl sontak mengganggu anaknya setelah itu main bersama, selama di perjalanan Ivano selalu takut ingin menanya lebih lanjut kepada papanya, takut papanya merasa tersinggung atau marah.

__ADS_1


Theo yang mengerti sontak menghelus kepala Ivano dan Ivano merasa senang saat papanya bisa sedekat ini kepadanya, karena yang dia tau papanya selalu sibuk tanpa memikirkan dirinya.


“Pa,” ucap Ivano.


“Iya sayang, kamu mau nanya apa hayo, nanya aja papa janji tidak bakal marah kok,” jawab papa Theo.


“Kok papa tau kalau aku mau nanya,” ujar Ivano.


“Keliatan banget di wajah kamu, makannya papa bicara begitu, kenapa sayang?” kata papa Theo.


Ivano merasa itu bukan hal yang penting tapi semangkin dirinya tidak mau tau semangkin dirinya penasaran sampai akhirnya.


“Pa, Ivano mau nanya kenapa papa bisa sekaya itu dan kuat banget, dan kata teman Ivano papa itu nomor satu loh di semua negara, itu benar tidak sih pa,” tanya Ivano.


Theo hanya senyum dan menghelus kepala anaknya, Ivano bingung mengapa papanya tidak menjawab apa yang di katakan Ivano.


“Kamu coba buka di hp kamu cari papa, itu benar apa tidak nanti kalau papa yang bilang, kamu tidak percaya dan malah merasa papa kepedean lagi kan tidak enak di hina anak sendiri,” kata papa Theo.


Ivano sontak mencari apa yang papanya suruh Theo, diam-diam melirik apa yang dia suruh tanpa sadar udah sampai sekolah.


“Pa, aku percaya cuman aku mau tau kenapa papa bisa,” ucap Ivano.


“Sayang, semua orang punya mimpi dan keyakinan kalau semuanya berjalan dengan bersamaan pasti semuanya bisa dan papa percaya suatu saat Ivano lebih sukses dari papa, karena Ivano mirip papa jadi papa harap Ivano harus berpikiran luas kekuasaan tidak segalanya, tapi kamu jangan pernah lupa jati diri kamu sayang,” ujar papa Theo.


Ivano tidak mengerti apa yang papanya katakan tapi kenapa ketika papanya berkata demikian membuka pintu hatinya dan merasa kalau dia harus melampaui papanya.


“Iyaudah masuk ke kelas gih nanti telat, atau mau papa antar?” tanya papa Theo.


“Tidak usahlah pa, aku malu kan aku udah gede nanti kalau teman aku minta tanda tangan papa gimana,” ucap Ivano.


“Hum jadi anak papa malu karena papanya itu, papa Theo semua orang mau jadi anak papa kenapa kamu tidak mau sayang,” ujar papa Theo.


“Bukan aku malu, aku tidak suka kalau papa lebih sayang anak orang di banding anak sendiri, aku juga tidak mau mamerin papa ke siapapun, karena papa harusnya jadi milik mama tidak boleh ada wanita lain,” ketus Ivano.

__ADS_1


Theo hanya senyum mendengar perkataan Ivano sontak Theo mendekap Ivano dengan erat dan mengecup kening Ivano.


__ADS_2