
“Sayang, kalau mama tidak dirumah kamu jaga kak Ivano ya dan selalu ingatin papa kamu untuk makan, mama pergi dulu sayang bye bye,” ucap Pearl.
Pearl mengecup Luis dan mendekap Luis dengan erat, Luis tidak berkata apa-apa karena dirinya tidak tau apa yang terjadi, usai menjelas 10 tahun Pearl pergi dan mereka berpisah Theo masih tau apa kabar Pearl, Pearl tinggal di dekat desanya dulu sebagai direktur dari tanaman hias, Pearl suka dengan tanaman hias dan bertemu pria bernama Leo, Leo merupakan tangan kanan Pearl selama 10 tahun.
“Pagi Ibu Pearl,” ucap Leo.
“Pagi Leo, gimana keadaan Lia?” kata Pearl.
Lia adalah anak Pearl bersama Theo, selama 10 tahun Pearl sendirian mengurusi Lia dari cuaca cerah hingga hujan, bertemulah dengan Leo anak yang di buang oleh papanya sendiri, dan di biayai hidup oleh Pearl hingga sekarang.
“Baik-baik aja ibu seperti biasa selalu bermain dengan alat makeup dan juga videonya, sepertinya nona Lia ingin menjadi artis ibu,” kata Leo.
“Iyaudah biarin aja itu hak dia, saya suka kok sama apa yang dia lakukan,” jawab Pearl.
Pearl selesai dengan tanaman hiasanya, sontak jalan ke arah kamar Lia, tidak lama sampai di depan kamar Lia menguping bikin video atau tidak.
Tok tok tok.
Lia sontak beranjak dari kursiny yang lagi bete, karena alat makeupnya susah di blend sembari membuka pintu.
“Kak Leo, kan aku udah bilang jangan ganggu aku dulu,” kata Lia.
Lia melihat ke arah yang ada di depanya bukan pria, melainkan wanita yang selalu di cintanya selalu menjadi panutan dalam hidupnya.
“Mami, yaampun maaf aku tidak tau aku kira kak Leo masuk mami,” kata Lia.
“Mami ganggu Lia ya? Maaf ya kalau gitu sayang,” jawab mami Pearl.
“Tidak kok, kak Leo yang ganggu kalau mami mah selalu jadi kesayangan aku hehe, ada apa mami,” ujar Lia.
“Kamu lagi apa sayang, udah makan belum makan ayo, mami mau ajak kamu makan di luar mami lagi malas masak, bibik juga butuh istirahat kasihan kan kalau bibik masak terus, sesekali bibik libur gimana?” ajak mami Pearl.
__ADS_1
Lia menganggukan kepala dengan perasaan senang, tidak lama membereskan semua alat makeupnya usai rapi semuanya, keluar dari kamar Lia.
“Bibik, saya sama Lia keluar dulu ya bibik istirhat aja dirumah kalau ada apa-apa telepon saya bye bik,” kata Pearl.
“Baik ibu,” ucap bibik.
Theo yang sedang di perusahaan hanya bisa diam bekerja tanpa henti, sedangkan Ivano selalu mengingatkan papanya untuk makan masakannya.
“Pa, ayo makan udah siang papa jangan kerja terus, nanti kalau papa sakit, Ivano gimana?” tanya Ivano.
Theo hanya senyum, Ivano menyodorkan makananya yang mirip dengan Pearl, seketika Theo menanggis sembari itu Ivano mendekap Theo.
“Pa, papa kangen mama ya aku tau kok ini berat buat papa, berat juga untuk aku, kau harap papa bisa sealu sehat untuk cari mama pa,” kata Ivano.
“Masakan kamu mirip banget sama mama kamu, ditambah rasanya juga sama karena itu papa suka sedih kalau ingat lagi,” ujar papa Theo.
“Kan emang di ajarin mama pa, mau bagaimana lagi aku minta maaf ya dulu tidak bantu papa cegat mama, malah kabur ke kantor papa sekarang aku jadi ngerti, betapa cintanya papa sama mama, papa juga diam-diam suruh orang buat jaga mamakan, namanya Leo,” tegas Ivano.
“Kok kamu tau, kamu dapat dari mana semua informasi itu sayang,” ucap papa Theo.
“Akhirnya makanan papa habis juga, nah sekarang ayo kita pergi ke mall pa, ada yang mau aku tunjukin ke papa,” ucap Ivano.
“Apalagi sih van, kamu udah gede kamu udah umur 22 loh van, kenapa masih suka main-main,” kata papa Theo.
“Siapa suruh papa suruh aku cepat gede, sekarang anaknya udah gede bertingkah anak kecil di marahin udah papa ikut aku dulu, ok pa,” ajak Ivano.
Theo hanya mengeleng kepala, tidak lama mereka pergi dari situ, sedangkan Lia dan Pearl masih di jalan ke arah mall yang baru buka.
“Mami, Lia mau ke sini boleh ya,” kata Lia.
“Iya sayang boleh, ayo kita masuk dulu ya cari tempat parkir,” ucap mami Pearl.
__ADS_1
“Mami itu terbaik banget sih parah,” ujar Lia.
“Bisaan aja kamu, kamu pasti mau beli makeup ya,” ungkap mami Pearl.
Lia menganggukan kepalanya, tidak lama Pearl menghelus kepala Lia setelah selesai parkir, akhirnya mereka keluar dari mobil sembari bergenggaman tangan masuk ke mall.
“Mami, ini mall yang lagi hitz tau mami tidak tau ya,” ucap Lia.
“Tidak tau, kan kamu tau mami selalu sibuk sama tanaman hias kita, mana pernah mami mikir untuk senang-senang, senang-senangnya mami yang liat kamu senang sayang,” kata mami Pearl.
Lia mengecup pipi Pearl, Pearl hanya senyum sontak Lia mendekap Pearl, tidak lama bergenggaman tangan kembali.
“Kamu mau kemana sayang?” tanya mami Pearl.
Tidak sengaja Lia lari ke arah dua pria yang ada di depan, dan dua pria itu melihat seperti mamanya, tidak lama Theo hanya diam dan merasa jantungnya sakit melihat anak kecil ini, Ivano melihat ke arah anak kecil ini.
“Dek, kamu tidak apa-apa,” ucap Ivano.
“Wah kakak ganteng, mau jadi pacarany eh aku tidak apa-apa kak, maaf ya kak tadi aku bandel lari-lari jadi kena kakak, jangan marah ya kak sekali lagi aku minta maaf,” kata Lia.
“Tidak apa-apa sayang, kamu sama siapa ke sini mama kamu mana?” tanya Ivano.
Lia melihat kanan dan kiri, akhirnya Lia meminta undur diri dan pergi dari hadapan kedua pria tersebut, Ivano sontak kaget melihat papanya.
“Pa, papa kenapa?” tanya Ivano.
Ivano sontak membawa Theo kerumah sakit, tidak lama Lia mengageti Pearl, Pearl melihat ke arah Lia.
“Sayang, kemana aja sih kenapa tadi sembunyi gitu lain kali tidak boleh gitu ya, mami jagi khawatir loh sama Lia,” ucap mami Pearl.
“Iya mami, Lia minta maaf ya mami marah ya?” tanya Lia.
__ADS_1
“Iya sayang tidak apa-apa, ayo sekarang kita beli makeup suka kan, tapi janji jangan begitu lagi ya kalau sampai kamu gitu mami hukum tidak boleh makeup lagi,” kata mami Pearl.
Lia hanya diam dan harus lebih menurut kepada maminya, maminya tau ini hal yang salah tapi demi keamanan anak terkadang Pearl harus tegas jangan sampai dirinya kehilangan anak lagi, karena sekarang dia orangtua tunggal yang tidak bisa berharap oleh siapapun.