
“Maaf.”
Alice hanya diam mematung tidak bisa berkata apa-apa, sampai akhirnya Alice menanggis Ivano ingin menyeka air mata Alice, Alice menepis dan pergi.
Ivano mengepal tangan dan membenci dirinya sendiri seharusnya Ivano tidak melakukan itu, hingga membuat Alice menjadi takut akan dirinya.
Alice lari dan menabrak Luis, Alice mendongak ke arah yang ditabrak sontak saat tau itu Luis, Alice mendekap Luis dengan erat.
“Alice, kenapa?”
“Aku takut Luis,”
Luis membalas dekapan Alice sambil mengusap kepala Alice dan mengajak Alice pergi ke perpustakaan, Alice duduk dengan tenang dan Luis tersenyum sambil menyeka air mata Alice.
“Udah jangan nangis, gua tidak suka liat lu nangis.”
“Lu marah ya kalau gua nangis.”
“Tidak, bukan gitu gua cuman tidak mau lu jadi jelek kebanyak nangis.”
Alice memukul kecil ke arah Luis, Luis tersenyum melihat Alice yang sudah tidak nangis lagi, tidak lama Luis mengusap kepala Alice, Alice diam.
“Kata adik gua, kalau wanita lagi nangis usap aja kepalanya, biar hatinya tenang jadi gue lakuin ini ke lu, biar lu tenang.”
Alice terdiam tidak mau jawab apa-apa tidak lama ada bunyi bel masuk kelas, Luis jalan bersama Alice, Alice hanya diam.
“Alice? Kenapa? Gua ada salah ya,lu sampai diam gitu sama gua.”
“Tidak kok tidak ada, emang kata siapa lu ada salah sama gua, tenang aja lu itu orang baik mana mungkin ada salah sama gua.”
Luis yang mendengar itu senyum tidak lama jalan mendekat ke arah Alice lalu merangkul Alice sambil melihat ke arah Alice.
“Gitu dong, senyum lagi jangan nangis jelek, harus jadi orang yang kuat dan tegas ya.”
Alice menurut kepada Luis, sampai di kelas Alice masih memikirkan kejadian tadi yang membuatnya merinding dan menjadi benci dengan cowok itu.
Selesai kelas cowok itu menunggu Alice sampai keluar dari kelas, cowok itu jalan melangkah ke arah Alice, Alice gemetar takut.
“Alice aku minta maaf, aku tidak bakal sakitin kamu kayak tadi, cuman aku mau bicara sama kamu boleh kan?”
Alice hanya diam dan menurut kepada cowok itu, masuk ke dalam mobil Alice masih merasa takut sontak cowok itu memberi es krim kepada Alice.
“Ini makan.”
“Tidak, makasih.”
__ADS_1
“Haha kamu takut aku racunin ya? Mana mungkin aku racunin orang yang aku suka kamu itu ada-ada aja Alice.”
Alice yang mendengar itu diam sedangkan Luis yang mencari Alice, malah kehilangan jejak Alice sampai akhirnya Elina telepon Luis.
“Sayang kamu lagi dimana? Aku udah pulang, pulang bareng ayo.”
“Humm ok sayang, aku ke sana ya.”
“Iya aku tunggu sayang.”
Luis hanya menghela nafas dan bingung mau berbuat apa, tidak lama Alice makan berantakan di seka oleh Ivano.
“Kamu itu ya kayak anak kecil banget sih makan aja berantakan, jangan berantakan gitu dong malu sama usia.”
“Emang usia aku kenapa?”
“Iya kamu udah dewasa, kalau kamu makan begitu di depan umum emang kamu tidak malu?”
Alice tidak peduli dan tetap makan, saat melihat ada yang tersisa di pipi Alice, Ivano hanya menelan salivanya hampir aja tidak bisa menahan diri lalu melihat ke arah lain, Alice bingung ada apa dengan Ivano.
“Alice habis ini aku antar kamu pulang ya.”
“Ok.”
Alice hanya diam sedangkan Ivano merasa gelisah sedari tadi tidak lama, akhirnya sampai dirumah Alice dan Alice melihat ke arah Ivano dengan senyum andalannya.
“Eh kok jadi om sih, nama saya Ivano panggil saya terserah kamu aja.”
“No makasih ya.”
Ivano yang mendengar Alice memanggil namanya membuat wajahnya memerah sontak tidak bisa menahan diri kepada Alice.
“No, kamu mau ngapain jangan bikin aku takut lagi sama kamu.”
“Maaf, setiap sama kamu, aku tidak bisa tahan diri.”
Ivano menghempaskan badanya ke bangku setiranya sembari menutup kedua matanya, Alice yang melihat itu sontak mengecup pipi Ivano, Ivano teridam.
“No, aku turun ya maaf.”
Ivano menahan tangan Alice menarik dalam dekapanya, sehingga Alice hanya tersenyum Ivano yang masih ingin lama dengan Alice tidak bisa menahan diri.
“No, jadi kamu kasih aku masuk ke dalam rumah apa tidak?”
Ivano hanya mengeleng kepala, tidak lama Alice membalikan badanya dan pegang kedua wajah Ivano dalam dekapan tangan mungilnya.
__ADS_1
“Aku harus masuk ke dalam rumah, aku banyak pr kecuali kamu mau bantu aku, paham?”
“Kamu mau aku bantu, bisa kok tapi hadiah aku apa.”
“Serius? Ajarin aku sampai pintar nanti aku baru kasih kamu hadiah apapun yang kamu mau gimana?”
Ivano hanya senyum dan merasa wanita yang disukainya sangat menarik, Ivano berlagak sombong kepada Alice.
“Tidaklah, kalau hadiahnya tidak jelas tidak mau, keluar gih aku masih sibuk mau urus pekerjaan.”
Alice mengecup Ivano, Ivano terdiam melihat ke arah Alice dan membalas kecupan itu kepada Alice, Alice hanya diam.
“Iyaudah kalau kamu maksa ayo kita belajar.”
Alice merasa senang ada Ivano, Ivano hanya tersenyum saat masuk kerumah, Ivano mengajari Alice dengan benar sedangkan kedua orangtuanya bingung ada apa dengan Alice tidak biasanya Alice rajin belajar.
“Sayang, ini siapa? Guru les kamu.”
Alice bingung mau jawab apa, di lain sisi dirinya sudah bertindak jauh apa itu bisa dibilang guru les, Ivano hanya senyum melihat ke arah mama Alice.
“Iya tante, aku guru les Alice salam kenal ya tante, nama aku Ivano.”
“Kamu ganteng ya, emang kamu tidak sibuk?”
Alice merasa aneh dengan mamanya dan sedikit cemburu Ivano dekat dengan mamanya, tidak lama mamanya pergi Alice terus mengerjakan tugas yang sama, Ivano melihat ke arah Alice dan mengusap kepala Alice.
“Cantik, kenapa di soal itu terus kamu tidak mau soal lain.”
Alice hanya diam tidak lama Ivano bingung ada apa sambil melihat kanan dan kiri mengecup pipi Alice, Alice diam tertegun.
“Makanya di tanya di jawab angan diam aja.”
Alice tetap tidak peduli Ivano mengusap kepala Alice, sedangkan Luis yang lama menunggu Elina, Elina datang dengan nafas terengah-engah.
“Luis maaf aku lama.”
“Aku habis ngapain sih terus nafas kamu kenapa kayak gitu?”
“Aku- aku,”
“Eh mau lari kemana lu!”
Suara teriakan dari arah sanah, elina yang mendengar itu sontak merasa gelisah dan pergi tanpa berkata apa-apa, tidak lama Elina hanya diam setelah diam melihat ke arah Luis dan malingnya sudah pergi.
“Kamu jelasin ke aku ada apa?”
__ADS_1
Elina masuk ke dalam mobil Luis sontak mendekap Elina, Elina hanya gemetar dan menangis tidak lama Luis melihat ke arah Elina dengan rasa tidak enak tadi udah memaksa Elina untuk menjelaskan.