
"Pearl," panggil mama dengan suara yang bersalah.
"Sayang, kamu masih benci mama ya," tanya mama.
"Tidak ma, ada apa ma," ucap Pearl.
"Mama mau minta maaf sama kamu, tidak seharusnya mama jahat sama kamu, apalgi sekarang kamu udah hamil penerus keluarga, harusnya mama lebih memahami situasi kamu," kata mama.
Pearl terdiam sembari menghela nafas tidak lama, mama pegang kedua tangan Pearl dan Pearl hanya diam melihat ke arah mama.
"Mama harap bisa bawa anak-anak pulang kerumah, untuk mama didik sekaligus mama sekolahin ke tempat yang bagus," ucap mama.
"Maksud mama apa, Pearl tidak ngerti," ujar Pearl.
"Mama harap, kamu bisa lepasin Ivano untuk sekolah yang baik di tempat mama, di sini tidak baik Pearl kan kamu tau pendidikan itu penting," ketus mama.
Pearl yang mendengar itu menanggis, Ivano yang tidak sengaja lewat melihat mamanya menanggis pertama kali, membuatnya sakit hati setelah itu mendengar percakapan mereka.
"Aku tidak bisa tinggalin anak aku ke mama, aku sayang Ivano aku juga tidak mau Ivano ngerepotin mama," ucap Pearl.
"Sama sekali tidak keberatan justru mama senang Pearl, jadi nanti mama balikin Ivano ke kamu seketika Ivano udah menjadi orang sukses kayak Theo," kata mama.
"Cukup ma! aku tidak mau dengar lagi aku mau Ivano kayak anak normal lainnya, aku tidak mau dia belajar terus karena aku mau dia menikmati masa muda dia bukan kayak aku ataupun Theo," ujar Pearl.
Mama merasa kesal dengan Pearl, sontak mama menampar Pearl dan Pearl tetap tegar dan berani, Ivano yang melihat itu mengeluarkan air mata dan masuk ke dalam ruangan.
"Ma, mama tidak apa-apa," tanya Ivano dengan suara lembut.
Ivano sangat benci dengan nenek dari papanya Theo, saat neneknya ingin pegang Ivano, Ivano melepas dan mempapah mamanya ke kamar, setelah sampai kamar mamanya, Pearl masih bisa senyum walau pipinya merah menahan sakit, sembari menghelus Ivano.
"Sayang, kamu kenapa kok diam aja," tanya mama Pearl.
"Hati Ivano sakit, liat mama terluka begini lain kali, Ivano tidak bakal nanya soal nenek lagi," ucap Ivano.
Pearl sontak mendekap Ivano dalam pelukanya Ivano yang masih kaku, tidak bisa berkata apa-apa hanya menurut kepada mamanya.
__ADS_1
"Sayang, kamu jangan benci nenek kamu ya, dia emang didikannya keras dulu papa kamu juga begitu di ajarin dia, tapi mama tidak mau begitu juga dengan Ivano selagi mama mampu untuk jaga Ivano, mama akan selalu lindungin Ivano, ngerti sayang," perintah mama Pearl.
Ivano menanggis mengeluarkan air mata tanpa suara, Pearl yang melihat itu mengusap air mata Ivano dan tersenyum sembari Luis membuka pintu.
"Sayangnya mama, sini-sini peluk mama dong, biar mama tidak sedih lagi," ucap mama Pearl.
"Mama sedih kenapa, terus muka mama kenapa kok merah," ujar Luis.
"Ini, mama tapi makeup ketebalan makeupnya sayang, jadi begini," kata mama Pearl.
Ivano mangkin menanggis sontak Theo masuk ke dalam kamar Pearl, setelah kedua orangtuanya pergi dari rumahnya.
"Sayang, gimana kead-" ucap Theo yang belum selesai sontak mengepal tangan karena kesal.
Pearl menahan tangan Theo, sontak mengeleng kepala kepada Theo, tidak lama Theo berlutut di depan Pearl sembari menghelus kepala Pearl.
"Maafin aku sayang, aku tidak bisa lindungin kamu," ucap papa Theo.
"Tidak apa-apa ada Ivano tadi, Ivano hebat ngelindungin aku makasih ya kesayangan mama," ucap mama Pearl.
Ivano hanya diam saja dan tidak berkata apa-apa, sontak Theo mendekap semua keluarganya, kemudian mereka juga membalas dekapan.
"Aku udah tau kok," ujar mama Pearl dengan suara berat.
"Tujuan mereka ke sini apa sih sayang," tanya papa Theo.
"Mereka mau ambil Ivano dari kita, terus mau sekolahin Ivano di tempat mereka, setelah Ivano sukses kayak kamu baru di balikin ke kita, kalau balik," kata mama Pearl.
Pearl menahan tanggisnya, Ivano yang melihat itu mengenggam erat tangan mamanya, tidak lama Ivano mendekap mamanya kembali.
"Ma, kalau mama emang mau nangis ya nangis aja ma aku tidak bakal tahan mama untuk nangis, liat mama nangis juga aku sakit hati ini pertama kali Ivano melihat mama nangis, selama sama papa walau papa sibuk mama tidak pernah nangis," ucap Ivano.
"Mama udah memendam ini selama 10 tahun Ivano, mama udah kuat punya kamu,papa kamu dan juga Luis semuanya juga buat mama kuat, jadi tenang ya jangan terlalu membebani mama, ingat pertauranya mama yang melindungi kamu dan Luis, kamu lindungin Luis paham sayang," perintah mama Pearl.
Ivano hanya menurut kepada mamanya sembari menganggukan kepala, tidak lama akhirnya masalah selesai, balik ke Andi yang mengantar ke sekolah Valen.
__ADS_1
"Sayang, sampai sini ya papa tidak bisa antar kamu ke dalam papa ada urusan," ucap papa Andi.
"Ok pa," ujar Valen.
Valen keluar dari mobil papanya, tidak lama Iria menghampiri Valen, sontak mereka ke kelas bersama setelah itu duduk di tempat yang sama.
"Valen," ucap Iria.
"Hmm, kenapa," jawab Valen.
"Papa lu kerja apa," ujar Iria.
"Kenapa lu tanya soal papa gua, aneh," ketus Valen.
Iria merasa tidak senang mendengar jawaban Valen, tidak lama akhirnya Iria mencoba mendekatkan diri agar bisa mendekatkan papanya Valen.
"Tidak, siapa tau bisa kerja sama dengan mama gua, nama mama gua Bella," ucap Iria.
Valen hanya diam tidak peduli dengan perkataan Iria, sontak mengabaikan Iria tidak patah semangat dan terus menganggu Valen akan hal-hal kecil.
Selesai kelas sontak Iria masih mengejar Valen, tidak lama akhirnya sampai di kantin mereka akhirnya, Valen merasa muak dengan perkataan Iria.
"Iria! cukup menurut gua, tidak perlu di bahas lagi gua udah cukup dengarnya dan gua lelah," ujar Valen.
Iria tidak akan menyerah setelah selesai sekolah, akhirnya Valen buru-buru masuk ke mobil papanya, Andi bingung ada apa dengan anaknya.
"Sayang, kamu kenapa sih papa liat sikap kamu aneh banget, kalau ada ap-apa bilang sayang," ucap papa Andi.
Valen hanya diam mengeleng kepala, sontak meminta papanya cepatan jalan, Andi merasa ada yang tidak beres dengan Valen, sampai di kafe baru.
"Sayang, papa mau bicara ada apa sama kamu sayang," ujar papa Andi.
"Teman aku si Iria pa, najis banget cara dia," ucap Valen.
"Loh, kamu kasar banget bicaranya ada apa sih sayang, papa tidak pernah dengar kamu bicara kasar gitu," kata papa Andi.
__ADS_1
"Dia kayaknya mau niat buruk sama aku, makanya aku kesal sama dia pa," ketus Valen.
Andi hanya tersenyum sembari mengeleng kepala sontak Andi menghelus kepala anaknya Valen, tidak lama Valen melihat ke arah papanya Andi.