Dj Kesayanganku

Dj Kesayanganku
DJK PART 84


__ADS_3

“Kak kenapa senyum-senyum,”


“Tidak itu si mama lucu lagi telponan sama papa, pakai handpone kakak sampai tidur, tadi mama tidak mau tidur karena khawatir sama papa, eh pas kakak telepon papa, mama baru mau tidur,”


Ting dong ting dong


“Kamu pesan makan?”


“Iya kak, biar aku aja yang ambil kak,”


Ivano hanya senyum tidak lama, saat mengambil makan Luis mengambil makanan dan kaget melihat banyaknya Luis beli.


“Adik, kamu mau makan buat siapa? Banyak banget,”


“Buat kita kak, kenapa? Emang ini banyak,”


“Lumayan sih kakak kaget kamu makan banyak banget, kamu lapar apa gimana, kalau memang lapar kenapa tidak pesan makan dari tadi,”


“Tidak aku takut pada ada yang lapar,”


Ivano hanya menggeleng kepala melihat adiknya membeli makan yang banyak, sampai akhirnya Ivano melihat ke arah Luis.


“Luis, kakak tau kamu baik tapi jangan beli gini lain kali ya, namanya kamu rusa-rusa yang ngerti kan sayang,”


“Iya kak, aku minta maaf ya kak,”


“Ok kakak maafin lain kali jangan ya,”


“Baik kak,”


Setelah itu mereka makan, selesai makan sembari main game handphone Ivano berdering dari kerjaan, Luis berhenti main game tunggu kakaknya.


Selesai Ivano teleponan, Ivano balik ke arah Luis, Ivano tersenyum kepada Luis setelah menaruh handphonenya di atas meja.


“Kak,”


“Apa adik,”


“Kakak pernah capek tidak sih sibuk gitu,”


“Iyalah, kenapa?”


Luis hanya diam dan lanjut main, setelah selesai main Ivano melihat ke arah Luis, Luis diam aja sembari membalas liat kakaknya.


“Ada apa kak? Kenapa kakak liatin aku kayak gitu,”


“Lucu aja sama setiap pertanyaan kamu, kamu itu ya mikir sekolah dulu aja jangan kerja, kuliah sudah dapat belum?”


Luis hanya diam dan senyum tidak enak, seketika handphone Luis berdering dari teman luar negerinya, Ivano hanya menggeleng kepala.

__ADS_1


Ivano pergi ke kamar Lia, sampai di kamar Lia, Ivano menaikan selimut Lia dan mengecup kening Lia.


“Selamat tidur tuan putri,”


Ivano keluar dari kamar Lia, jalan ke arah ruang game Luis sudah selesai telepon, Ivano menghampiri Luis.


“Kamu telepon siapa adik?”


“Oh teman aku kak, yang ada di luar negeri,”


“Kenapa dia? Mau ajak kamu kuliah di sana,”


“Iya, tapi aku tidak mau, aku cari aja di sini malas kalau harus ke sanah, sanah enak cuman aku jadi pisah sama mama aku tidak mau,”


Ivano merangkul Luis, seketika Ivano menghela nafas kepada adiknya, Luis yang hanya diam tidak tau mau berkata apa.


“Luis, kalau kamu mau disana jangan mikirin orang lain, ini kan hidup kamu kita sebagai keluarga hanya bisa memberi fasilitas pilihan ada di kamu, ngerti,”


Luis hanya diam tidak lama Ivano merasa ngantuk sampai akhirnya Ivano mengusap kepala Luis pergi ke kamarnya.


Keesokan paginya Ivano menguap sembari jalan ke arah meja makan, Pearl hanya senyum melihat ke arah Ivano.


“Sayang, kamu kenapa?”


“Tidak apa-apa ma, aku ngantuk aja ada apa ma?”


“Tidak tau ma, kemarin aku main game sama Luis, oh ya Luis mana ma sama Lia?”


Pearl hanya mengeleng kepala sembari menaruh makanan di atas meja dan Ivano hanya senyum tidak nyaman.


“Kamu ini ya udah dewasa masih aja, dasar kadang keras kepala banget kalau di bilangin,”


“Maaf ya ma, mama tidak marahkan sama aku?”


“Tidak kok, tenang aja mana bisa mama marah sama anak mama, Lia sudah pergi sama Luis, Luis juga mau cari kuliah kayaknya dari kemarin tidak ketemu-ketemu kamu bantuin gih, daripada di nganggur-nganggur sayang lo  waktunya banyak kebuang,”


“Iya ma, nanti aku kasih tau dia mama tenang aja ya ma,


Pearl hanya mengambil nasi untuk Ivano, tidak lama Pearl mengambil makanan untuk dirinya, setelah selesai makan Theo pulang kerumah, sampai dirumah Theo mendekap Pearl dengan erat.


“Sayang kok kamu udah pulang?”


“Kenapa sayang aku tidak boleh pulang? Emang kamu tidak kangen aku?”


“Kangen kok tapi aku kaget kok cepat banget, tapi bagus deh aku kangen banget,”


ivano yang melihat itu hanya diam dan senyum sontak pergi ke mall, sampai di mall ada wanita yang tidak bawa uang tunai tanpa menggunakan kartu, tapi kartunya diblokir oleh pamannya bernama Alice.


“Maaf ya mba, saya gak jadi aja sekali lagi saya minta maaf,”

__ADS_1


Ivano menghampiri toko tersebut sontak membayar belanjaan Alice, Alice melihat ke arah Ivano dan Ivano tersenyum.


“Ini belanja kamu,”


“Makasih ya seharusnya kamu tidak usah bantu aku, aku tidak enak kalau harus nyusahin orang lain, no rekening kamu berapa nanti aku transfer,”


“Oh tidak perlu anggap saja ini hadiah dari aku buat kamu,”


“Serius? Kamu baik banget tapi lain kali kalau kita ketemu lagi aku traktir ya bye,”


Alice pergi tanpa nanya siapa nama Ivano, sontak saat Alice menghadap ke belakang semua orang memberi salam kepada Ivano, Alice bingung siapa pria itu sontak pergi dari situ.


“Papi,”


“Apa? Pasti kamu tidak bisa belanja kan?”


“Kata siapa? Aku tetap bisa belanja dong, ini ulah papi ya ngaku deh papi, kenapa sih papi selalu suka hukum Alice dengan kartu di blokir, jangan gitu dong pi kan Alice ada kebutuhan dan kebutuhan Alice banyak emang papa tidak tau bentar lagi, Alice mau masuk kuliah papi ini ya ih!”


“Eh kamu ya udah berani marahin papi, emang kamu kira dapat semua ini dari mana?”


Alice hanya eksal dan pergi dari kamarnya, tidak lama sampai di kamarnya mami mengetuk pintu kamar Alice.


“Sayang,”


“Iya mi, masuk aja,”


Mami masuk ke dalam kamar Alice, Alice hanya diam sambil menyeka air matanya agar maninya tidak  khawatir.


“Ada apa mi?”


“Kamu tidak perlu berlagak pura-pura sayang di depan mami,”


Alice kembali menangis sambil mendekap mamanya, sontak mami mengusap kepala Alice yang manja.


“Sayang, kamu kenapa ngelawan sama papa kamu,”


“Papi terlalu berlebihan ke akun mi, aku kesal dan marah emang aku salah,”


“Sayang, kamu itu masih banyak butuh papi kamu, kamu juga kalau belanja tidak masuk akal, makanya papi kamu blokir kartu kamu,”


“Jadi? Mami mau aku gimana?”


Mami melepas dekapan sembari membenarkan rambut Alice, mami menoel lembut hidung Alice dengan senyum.


“Kamu jangan ngelawan ya, kalau papi bilang apa nurut aja semua demi kebaikan kamu, kecuali kamu mau beroperasi di perusahaan papi, mami yakin papi tidak bakal marahin kamu siap tidak, jangan sampai putus kuliah intinya,”


“Humm terlalu berat kenapa sih semua keputusan yang aku ambil berat semua, kadang aku kesal deh dengan semua keputusan yang ada,”


Mami hanya tersenyum sembari mengecup kening Alice, Alice yang masih manyun tidur di pangkuan maminya.

__ADS_1


__ADS_2