Dj Kesayanganku

Dj Kesayanganku
DJK PART 72


__ADS_3

“Papa,” panggil kedua anaknya.


Pearl hanya diam sembari duduk di sofa yang ada di dekat kantor Theo, setelah itu ada kopi dan minuman anak-anaknya datang.


“Ibu ini minumanya,” kata ob.


“Makasih ya pak,” ucap Pearl.


“Baik ibu permisi,” kata ob.


Pearl hanya senyum setelah minum Pearl lebih membaik, Theo jalan ke arah Pearl dan merangkul Pearl sembari Pearl mendekap Theo.


“Kamu kenapa sayang masih capek?” tanya Theo.


“Tidak,” ucap Pearl.


“Terus kenapa kok mukanya bete gitu kayak di tekuk,” ujar Theo.


“Kata anak-anak aku beda, emang ya aku beda darimana?” ungkap Pearl.


Theo hanya tersenyum sembari mencubit kecil pipi Pearl, tidak lama Pearl bingung ada apa dengan Theo serius nanya malah di cubit.


“Kamu kenapa sih kok di cubit sakit tau,” pekik Pearl.


“Siapa suruh jadi wanita cantik-cantik,” jawab Theo.


Pearl hanya diam dan mengeleng kepala, setelah selesai acara akhirnya mereka pulang kerumah, Pearl meregangkan badanya Theo datang memijat pelan Pearl.


“Makasih sayang,” ucap Pearl.


“Nanti ada hadiahnya tidak,” jawab Theo.


“Kamu mau hadiah apa? Hadiah terus padahal kamu aja jarang kasih aku hadiah,” ucap Pearl.


“Oh perhitungan sekarang, baiklah kalau gitu,” sahut Theo.


Pearl hanya mengecup Theo, Theo bingung kenapa tiba-tiba Pearl menjadi manis, tidak lama Pearl merangkul Theo.


“Theo,” kata Pearl.

__ADS_1


“Iya,” jawab Theo.


“Kalau misalnya aku pergi jauh dari kamu dan anak-anak kita, kamu gimana?” tanya Pearl.


Theo sontak mendorong pelan Pearl dan pegang kedua tangan Pearl, tidak lama Pearl hanya ketawa kecil melihat reaksi Theo.


“Kamu bicara apaan sih tidak lucu tau,” tutur Theo.


“Haha, aku cuman bilang misalnya kenapa kamu panik gitu sih,” ucap Pearl.


“Tidak lucu soalnya hal itu tidak bisa di jadiin bercandaan banyak bercandaan lain, tidak harus itu ngerti tidak,” pekik Theo


Pearl hanya tertawa sembari mendekap kedua pipi Theo, Theo melepas dengan perasaan malas Pearl mendekap dari belakang.


“Iya-iya maaf aku janji tidak bakal bicara gitu lagi benaran sayang, maaf sayangku,” ucap Pearl.


“Kamu ada apa sih, Andi ganggu kamu lagi kali ini apa yang dia lakuin dia itu kayaknya harus di lenyapkan kali ya, biar tidak ganggu kamu terus,” kata Theo.


Pearl terdiam tidak lama Theo mengahadap ke arah Pearl dan Theo mengerti kenapa Pearl berkata demikian.


“Andi ancam kamu apa, kasih tau aku!” tegas Theo.


Pearl memberi handphonenya kepada Theo, tidak lama Theo mengertakan giginya merasa kesal saat ingin pergi ditahan oleh Pearl.


“Tidak! Masalah kamu itu masalah aku, Rachel harus tau apa perlakuan suaminya di belakang dia!” ujar Theo.


“Rachel lagi hamil, aku tidak mau dia kenapa-kenapa hubungan aku sama Rachel tidak baik, aku ngerti dia sebagai wanita, emang Andi tidak pernah cinta dia selama ini Andi hanya cinta sama aku,” kata Pearl.


“Apa! Terus kenapa kamu tidak bilang sama aku dari awal, biar langsung aku habisin dia berani mengambil ratuku berarti berani menghadapi rajanya,” tegas Theo.


Pearl hanya menundukan kepala dan terjatuh sembari bersujud kepada Theo, berlinang air mata Theo yang melihat itu kaget serta kesal sembari mengepal tangan memukul ke arah kaca.


“Sayang, tangan kamu,” ucap Pearl.


“Tangan aku tidak apa-apa,” jawab Theo.


“Tapi tangan kamu memar dan merah,” ujar Pearl.


“Aku bilang tidak apa-apa, ini tidak lebih sakit dari yang kamu rasakan, liat kamu begini buat aku lebih sakit kenapa kamu tidak bilang dari awal, pasti aku tidak akan bantu perusahaan Andi biar aja dia bangkrut dan tidak mampu kejar kamu lagi!” pekik Theo.

__ADS_1


Pearl hanya diam tidak bisa berkata apa-apa, Theo kesal melihat tatapan sendu Pearl, akhirnya dirinya memilih untuk keluar Pearl menahan Theo dan mengobati tangan Theo.


“Tangan kamu di obatin dulu biar tidak mangkin parah,” tegur Pearl.


“Tidak usah, biarin aja dan aku suka lakuin ini biar perlu aku lakuin lagi di sebelahnya,” ucap Theo.


Pearl mengecup tangan Theo yang memar, Theo hanya diam dan tidak berontak lagi, tidak lama Theo mendekap Pearl.


“Kamu suka sama Andi?” tanya Theo.


“Sama sekali tidak,” ucap Pearl.


“Kenapa kamu diam aja di terror begini sama dia, dia itu kehilangan akal sehat ya dia lupa kamu miliknya siapa, kenapa dia berani banget sama kamu,” ujar Theo.


“Aku sendiri juga tidak tau makannya itu aku berantam sama mereka, sebenarnya aku udah senang tidak ada hubungan, tidak lama kamu sleesaiin masalah ini Andi berulah lagi dan dia mau cerai sama Rachel karena Rachel banyak nuntut dia dan dia menunggu aku menjadi janda,” tutur Pearl.


Theo semangkin mendengar perkataan Pearl membuatnya semangkin murka, Theo mendorong pelan Pearl.


“Pearl cukup jangan bahas ini lagi, aku kecewa sama kamu, aku kira selama ini kita udah saling jujur dan tidak ada rahasia di antara kita tidak taunya kamu masih berani rahasia sama aku, terus peran aku apa sebagai kepala keluarga lebih baik kita bercerai aja!” perintah Theo.


Theo pergi dengan langkah kaki penuh kecewa, sedangkan Pearl hanya bisa diam dan menanggis sembari mengunci diri sendiri, kedua orangtuanya bertengkar sampai Theo tidak pulang kerumah yang ada istrinya.


“Bik, mama sama papa mana?” tanya Ivano.


“Tidak tau bibik tuan muda, coba tanya ibu,” jawab bibik.


Ivano hanya diam dan menghela nafas, baru kemarin mereka melakukan hal baik sekarang mereka berantam lagi, tidak lama ada yang mengantar surat di buka oleh Ivano.


Ivano kaget saat melihat dokumen tersebut, ternyata surat cerai antara Pearl dan juga Theo, Ivano mengetuk pintu kamar Pearl.


“Masuk,” ucap Pearl.


Ivano jalan melangkah dengan langkah takut sembari bergetar dengan menahan air matanya, memberi dokumen kepada Pearl.


“Humm, udah datang ya sayang, mama sama papa mau cerai kal-” ucap mama Pearl terputus.


“Tidak boleh! Kalian orangtua yang aku punya, kalau tidak ada kalian aku sama siapa!” pekik Ivano yang menanggis hingga tidak tertahankan.


“Ivano, tenang ya semua ini salah mama sayang maafin mama, kamu tinggal sama papa kamu aja ya kalau mama, udah jadi orang sukses kamu baru sama mama, ok sayang,” kata Pearl.

__ADS_1


“Tidak, aku benci kalian berdua aku harap tidak ketemu kalian berdua lagi, aku tidak mau tinggal sama kalian!” ujar Ivano.


Pearl yang mendengar itu menanggis setelah Pearl selesai tanda tangan, akhirnya Pearl menaruh dokumen di atas meja sembari mengecup dokumen itu, keluar dari kamar dan melihat ke arah Luis.


__ADS_2