Dj Kesayanganku

Dj Kesayanganku
DJK PART 85


__ADS_3

“Namanya juga hidup sayang, semua harus diterima kalau tidak gitu, gimana Alice bisa jadi dewasa,”


Alice hanya diam dan menurut kepada suaminya, setelah itu berkumpulah ketiga saudara tersebut di mall.


“Luis,”


“Iya kak ada apa?”


“Udah ketemu kuliah belum?”


“Belum kak,”


Ivano yang lagi pegang handphone sontak berhenti memicingkan mata ke arah Luis, Luis seruput kopi melihat ke arah lain.


“Luis, kamu jangan bercanda ya kakak tidak suka hal penting dijadiin becandaan,”


“Aku serius kak, aku malas kuliah aku mau kerja aja boleh kan?”


“Luis, kamu udah 17 tahun mau kapan lagi main-main bentar lagi kamu jadi penerus perusahaan, tidak mungkin semuanya kakak yang pegang kan?”


Luis merasa kesal dengan perkataan Ivano yang kasar kepadanya, saat Ivano ingin mengejar Luis di tahan oleh Lia.


“Udah kak, biarin kaka Luis sendiri dulu dia butuh waktu untuk menenangkan dirinya, tidak baik juga kalau misalnya di tahan-tahan,”


“Makasih ya adik, tapi memang tidak apa-apa,”


“Aku percaya kok kak Luiz bisa mengobati dirinya sendiri asal kakak juga percaya sama dia,”


Ivano hanya senyum sedangkan Luis hanya mengepal tangan, saat hendak memukul tembok ditahan oleh tangan lembut dan wangi saat Luis melihat.


“Elina?” kamu kenapa ada di sini?”


“Aku liat kamu lagi sendiri aja jadi aku samperin kamu, maaf kamu baik-baik saja apa aku ganggu kamu?”


Luis sontak mendekap Elina, Elina hanya diam tidak berkata apa-apa tidak sedikitpun menolak pada tingkah Luis.


“Elina, pinjam dekapanmu ya 3 menit,”


“Iya, berapapun yang kamu butuhkan aku kasih kok,”

__ADS_1


Luis yang mendengar itu sontak menangis, Elina bingung ada apa dengan Luis, sontak mengusap kepala Luis.


“Luis kamu boleh nangis sepuasnya kok, aku tidak bakal ketawain kamu tenang aja ya aku tau kamu ada masalah yang mungkin kamu tidak bisa ceritain ke aku,”


“Makasih ya kamu perhatian banget, kalau aku beneran suka kamu, kamu bakal terima aku tidak,”


Elina hanya diam tidak bisa menjawab Luis melepas dekapannya kepada Elina, meraih kedua pipi Elina.


“Jawab Elina, kalau memang tidak bisa aku tidak bakal ngarep banyak sama kamu dan aku akan belajar melupakan kamu pelan-pelan,”


Elina yang mendengar itu hanya bisa diam melepas kedua tangan Luis dari pipinya, tidak lama Luis mendekap Elina dari belakang.


“Aku mohon jawab, aku beneran suka sama kamu dari pertama kita ketemu, maaf kalau aku terkesan bodoh di awal, aku tidak mau jauh dari kamu jadi aku mohon jawaban kamu ke aku apa?”


Elina hanya diam menundukan kepala, Elina tau seperti apa keluarga Luis, orang biasa seperti dia tidak akan bisa bersama dengan orang yang dari lahir udah hidup serba ada.


Elina mendorong Luis dan tersenyum sembari jalan, Luis hanya mengepal tangan sembari menangis dengan keras.


“Luis kamu kenapa?”


Luis mendekap Pearl dengan erat, Theo bingung ada apa dengan Luis sampai di kafe yang agak tenang dan tidak ada yang mengganggu.


“Aku berantem ma, sama kak Ivano,”


“Eh kok bisa sayang ada apa?”


“Hanya karena masalah kecil tapi kak Ivano marah banget sama aku,”


Pearl hanya menghela nafas sambil melihat ke arah Theo dan mendekap tangan Theo, Theo melihat ke arah Luis.


“Papa tanya sekarang, kamu tujuan di sini mau kuliah atau apa?”


“Aku mau kerja di perusahaan papa,”


Theo melihat ke arah Pearl dan Pearl kaget sontak mendekap kedua tangan Luis, dalam genggaman tanganku.


“Sayang, mama tau ini pilihan yang sulit tapi jangan sampai pilihan ini buat kamu jadi gegabah sayang,”


“Tidak ma! Aku serius, aku tidak mau kuliah, kuliah hanya buang-buang waktu,”

__ADS_1


Theo batuk, keduanya melihat ke arah Theo, Pearl mendekap tangan Theo, Theo hanya senyum ke arah Pearl.


“Luis,  papa kurang setuju, kuliah itu merupakan suatu bentuk wawasan dan tidak cuman pendidikan yang di kejar, tapi dari segi semuanya jadi papa harap kamu renungkan lagi pilihan kamu, papa tidak akan maksa kamu kalau emang kamu mau kerja di perusahaan papa, tapi kamu jangan salahin papa kalau papa taruh kamu dari 0 bukan langsung jadi pemimpin perusahaan, maaf aja semua butuh proses gak ada yang instan,”


Luis yang mendengar itu sontak kesal sambil mengepal tangan tidak lama Luis pergi dari hadapan kedua orangtuanya, Pearl ingin menahan tetapi di tahan oleh Theo.


“Udah sayang biarin aja, dia sudah dewasa dia tahu jalan mana yang harus dia ambil, kalau dia tidak tahu berarti dia belum dewasa,”


“Tapi sayang Luis itu masih butuh bimbingan kalau kamu biarin, dia berbuat  hal gila gimana?”


“Kamu tenang aja, dia tidak akan begitu, aku percaya sama dia, dia dari dulu udah dewasa, dia pasti tau harus berbuat apa hal seperti ini hanya gertakan aja dari dia, biar kita lebih luluh tapi jangan mau, kalau kita luluh dia tidak akan jadi orang selamanya,”


Pearl hanya diam tertegun mendengar perkataan Theo, walau dalam hati tidak terima tapi Pearl akan memikirkan caranya harus bagaimana.


“Udah ayo kita pulang,”


Pearl hanya menurut kepada Theo, setelah sampai rumah ada Ivano yang sedang duduk di meja makan sembari mengepal tangan.


“Ivano, kamu kenapa?”


“Eh ma, pa tidak apa-apa kok,”


Pearl hanya senyum kepada Ivano, sontak menarik tangan Ivano masuk ke dalam kamar Ivano, Ivano bingung ada apa dengan mamanya.


“Sayang, jujur sama mama, kamu berantem sama adik kamu?”


“Iya ma, maafin Ivano, Ivano tidak bermaksud tapi Luis selalu menggampangkan semuanya kadang hal itu yang buat Ivano jadi benci sama Luis ma,”


“Eh Ivano, kamu jangan benci sama Luis dong, kamu itu kenapa sih kok bisa begini banget sama adik kamu, kamu sadar tidak sih pas bicara,”


Ivano hanya menutup wajahnya dengan kedua tanganya, tidak lama Pearl mengusap kepala Ivano sembari mendekap Ivano dalam pelukannya.


“Sayang jangan di pikirin lagi ya, yang benar itu kamu minta maaf sama Luis, kalian saling minta maaf ayo mama tidak suka liat kalian berantem sayang,”


Ivano hanya menghela nafas dan gemetar serta takut kalau Luis tidak mau memaafkan sikapnya yang sudah berlebihan.


“Kalau Luis tidak maafin aku, aku harus gimana ma?”


“Tidak kok Luis baik mama yakin dia juga rindu sama kamu sayang,”

__ADS_1


Ivano melihat ke arah mamanya sembari mengeluarkan jari kelingking untuk berjanji Luis tidak akan marah lagi akan Ivano, tidak lama Ivano mencoba mengetuk pintu kamar Luis, Luis udah tidur karena terlalu lelah berdebat dengan Ivano, Ivano mendekap Luis dari belakang sontak mengecup belakang kepala Luis.


__ADS_2