Dj Kesayanganku

Dj Kesayanganku
DJK PART 87


__ADS_3

“Bye ma, hati-hati ya ma,”


“Iya sayang kamu juga ya,”


“Siap ma,”


Luis keluar dari mobil, sampai akhirnya Luis jalan dan bertemu dengan guru cantik, Luis ingin pura-pura cuek di depan dirinya, Elina terus melihat ke arah Luis.


“Ibu guru cantik, kenapa lagi sakit ya?”


Elina hanya senyum sambil menggeleng kepala, Luis yang mendengar itu sontak khawatir tapi dirinya harus berakting bodo amat.


“Iya Sudah kalau begitu kalian main bebas ya, ibu mau duduk dulu di sana,”


“Baik ibu,”


Semua berlari dengan senang, Elina menghampiri Luis, jantung Luis terus berdegup kencang bingung harus gimana, tidak lama Elina melihat wajah Luis sambil senyum.


“Halo,”


Luis yang melihat itu merasa muka Elina imut banget dari dekat, tidak lama Luis menyapa dengan dingin, Elina paham alasan Luis marah.


“Kamu masih marah ya sama aku Luis?”


Luis hanya senyum dalam hati, siapa yang sanggup marah sama wanita cantik seperti Elina, Luis hanya menggeleng kepala.


“Kalau kamu tidak marah kenapa tidak mau liat muka aku,”


Luis merasa kalau dirinya melihat muka Elina, dirinya akan hilang kendali dan bisa lebih gila dari sekarang aktingnya sia-sia.


Elina menarik kedua bahu Luis, Luis melihat ke arah lain, Elina menekan kedua pipi Luis sembari melihat saling tatap.


“Apa?”


“Ih ketus banget sih Luis, kamu jangan marah lagi ya,”


Luis hanya diam tidak tega untuk lebih jahat kepada Elina, Luis hanya menganggukan kepala Elina senang dan mendekap Luis dengan erat.


“Makasih Luis, aku tau kalau kamu pria baik,”


Luis yang mendengar itu sontak membalas dekapan Elina, tidak lama Elina sadar dan melepas dekapan tersebut tetapi di tahan oleh Luis.


“Luis jangan gitu nanti di liat guru lain, aku malu emang kamu mau tanggung malu aku di depan semua guru,”


“Aku rela lakuin apa aja demi kamu, asal kamu tidak sedih dan selalu bahagia,”


Elina yang mendengar Luis berkata demikian, membuat jantungnya berdegup kencang tidak lama Ia Menghampiri mereka.


“Hai kak Luis, hai juga kak Elina,”

__ADS_1


Elina yang mendengar itu merasa ada kesenangan sendiri, sontak Lia mendekap Elina, Elina kaget sembari liat Luis, Luis hanya senyum kepada Elina.


“Kak, jagain kak Luis ya, kalian berdua cocok aku senang melihat kalian bersama,”


Elina diam tertegun tidak bisa berkata apa-apa, karena keluarga Luis semua baik kepadanya walau belum mengenal kakak pertama serta kedua orangtua, Elina sudah tahu dirinya tidak akan diterima.


“Kak Luis,”


“Iya Lia sayang?”


“Aku ke sana dulu sama teman aku, hibur dulu kak Elinanya ya jangan bikin nangis awas aja, kalau kakak bikin nangis aku bikin kakak nangis juga,”


Luis hanya senyum Lia pergi, Elina bingung apa yang dibicarakan Lia kepada Luis, Luis melihat ke arah Elina.


“Kenapa?”


“Kamu bicara apa sama Lia?”


“Kamu mau tau banget aku bicara apa sama Lia?”


Elina mengeleng kepala dan tidak mau tau lebih banyak, Luis hanya senyum sembari mengusap kepala Elina.


“Dia bilang aku harus bisa jaga kamu, kalau tidak bisa dia bakal buat aku nangis dan tidak bisa liat kamu lagi,”


Elina tertawa mendengar perkataan Lia, tidak lama Luis merasa bingung kenapa wanita kalau mendengar hal lucu pasti ketawa tapi saat Lia ketawa lebih imut daripada dirinya sedih, seperti Luis adalah alasan Elina untuk senyum, Luis sontak mengecup Elina, Elina terdiam melihat Luis.


Elina hanya diam dan menjauh dari Luis, Luis sontak menyesal dan menjauh juga dari Elina, Elina menarik tangan Luis ke lorong sekolah yang jarang ada yang lewat.


“El, aku minta maaf ya aku-”


Elina membalas kecupan yang tadi saat dilakukan Luis, Luis diam tidak lama akhirnya Elina melepas kecupan dan pegang kedua pundak Luis.


“Maaf, aku senang kamu lakukan itu tapi,”


“Tapi apa?”


“Aku tidak bisa sama kamu,”


“Alasanya?”


Elina pergi menjauh dari Luis, ditahan oleh Luis, Luis mendekap Elina ke dalam pelukannya sontak mendekatkan wajahnya kepada Elina.


“Bicara di sini aja, aku mau dengar kamu bicara apa jangan jauh-jauh aku tidak dengar,”


“Aku tau kamu beda sama aku, tapi aku tidak bisa bersanding sama keluarga kamu,”


“Kata siapa?”


“Barusan aku yang bilang,”

__ADS_1


Luis hanya senyum tidak lama Luis mengusap pipi Elina, Elina hanya diam tidak bisa berkata apa-apa.


“Sayang, kamu itu ya terlalu banyak mikir keluarga aku semuanya baik kok, terus apa yang perlu kamu takuti,”


“Aku tidak bisa sama kamu Luis, kan kamu tau aku cuman guru,”


“Kata siapa tidak bisa? Semuanya bisa sayang,”


Elina hanya diam dan mengalihkan pandangnaya ke arah lain, Luis menahan dagu Elina untuk melihat ke arahnya.


“Semangkin kamu tolak aku, semangkin aku mau bawa kamu ke keluarga aku tau,”


Elina hanya kesal dan menginjak kaki Luis, Luis merasa kesakitan tidak lama Elina merasa tidak enak lalu luis mengecup Elina.


“Aku tidak apa-apa kok, obat aku kan kamu,”


Elina hanya mengerutkan dahi sontak melihat jam, Luis terus memandang ke arah Elina, Elina bingung harus ngapain kepada Luis.


“Sayang, aku ngajar dulu ya,”


“Kamu pulang jam berapa?”


“Jam 5, kenapa?”


“Aku jemput, oh ya aku belum tembak kamu loh, kamu udah panggil aku sayang,”


Elina mendekap kedua tangan Luis sembari mengecup punggung tangan Luis, Luis yang melihat itu diam.


“Yaudah tembaklah, kalau tidak aku pergi dan tidak usah ketemu lagi bye,”


Luis menahan Elina dalam dekapan, sembari Elina ketawa melihat ke arah Luis, Luis memandang Elina.


“Elina, mau tidak kamu jadi istri aku?”


“Dih, apaan sih serius jangan main-main,”


“Aku beneran sayang, tapi tunggu aku lulus pendidikan aku dulu dan udah bisa cari uang buat kamu, untuk sekarang jadi pacar aku dulu gimana? Mau ya jangan sedih pacaran sama bocah kayak aku ya,”


Elina hanya tersenyum sambil menekan kedua wajah Luis dan mengecup hidung Luis dan Luis merasa di sayang dengan Elina.


“Kamu ini ya, ya aku mau jadi pacar kamu tapi kalau orangtua kamu tidak terima aku, aku harap kamu putusin aku ya sebelum aku benar-benar terlanjur sayang sama kamu,”


“Tidak boleh ada orang yang pisahin aku sama kamu sayang, karena bagi aku, kamu segalanya untuk aku paham,”


“Hmm emang kamu bisa apa untuk hubungan kita?”


“Dih, kamu nantangin aku ok, aku akan aku kasih tau kamu,”


Saat Luis ingin bercanda dengan Elina, handphonenya berdering dari rumah tidak lama, Luis mengangkat telepon tersebut sembari jauh dari Elina, wajah Luis sudah berubah dari senyum menjadi lebih anteng Elina mendekap Luis dari belakang, setela selesai telepon.

__ADS_1


__ADS_2