
“Sayang aku kangen banget dimanjain kayak gini sama kamu,”
Pearl hanya senyum sambil mengusap kepala Theo, Theo mendongak ke atas melihat ke arah Pearl.
“Pearl.”
“Apa?”
“Kamu masih marah sama aku?”
“Masih kenapa emang?”
Theo bangun dari dekapan Pearl, Pearl hanya diam sambil merapikan rambut Theo dan mengusap kepala Theo.
“Aku minta maaf ya sayang.”
“Emang minta maaf doang cukup, janji jangan gitu lagi dan biarkan anak kita bebas paham tidak?”
Theo hanya diam dan merasa kecewa melihat Pearl tidak satu kepala dengan dirinya tidak lama akhirnya Pearl mencubit kedua pipi Theo.
“Kenapa mukanya sedih? Tidak terima kalau aku bilang kayak tadi.”
“Tidak aku terima kok.”
“Bohong kamu kira aku tidak kenal kamu, kamu maunya gimana emang? Kamu suka kalau hidup kamu diatur-atur orang.”
“Kalau di atur kamu, aku mau tapi kalau di atur orang lain aku tidak mau.”
Pearl hanya menggelindingkan matanya ke arah atas, tidak lama handphone Theo berdering dari kantor, Theo mengambil handphone dan mengangkat telepon.
Pearl hanya menarik kepala Theo dalam dekapanya dan Theo membalas Pearl dengan dekapan tersebut, selesai teleponan.
“Sayang aku mandi ya?”
“Humm yaudah bye, aku mau masak dulu buat kamu, karena kamu udah sabar dan mau terima masukan akun, itu baru suami aku yang paling aku sayang paham sayangku,”
Theo hanya menganggukan kepala, tidak lama Theo pergi mandi, Pearl yang membereskan baju Theo, tidak lama Theo selesai mandi dan mendekap Pearl dari belakang.
“Makasih sayang kamu tau aja aku lagi pengen kamu pilihin bajunya kamu peka banget sayang.”
“Kalau bukan aku, kamu ngarep siapa lagi yang ambilin baju kamu hah!”
“Tidak ada sayang, aku cuman bicara kok yaudah aku pakai dulu ya.”
Pearl membantu Theo menggunakan kemeja dan semuanya, Pearl merasa semangkin tua Theo, semangkin bagus badan Theo, Theo melihat ke arah Pearl.
__ADS_1
“Kenapa sayang?”
“Tidak, emang aku kenapa.”
“Kamu kayak latin dan aku? Badan aku ada yang aneh ya? Sampai kamu liatin sayang?”
“Tidak ada kamu kepo banget sih heran aku sama kamu.”
Theo hanya tersenyum sambil mengecup pipi Pearl, tidak lama akhirnya mereka keluar kamar dan anak-anak mereka melihat ke arah mereka dengan senyum.
“Udah tau papa hanya bisa ditaklukan sama mama dewi rumah kita.”
“Haha kak Ivano bisa aja,”
Orangtuanya jalan ke arah meja makan sambil melihat dengan lirikan tajam, anak-anak hanya diam tetap makan.
“Hayo kalian bicara apa?”
Anak-anak pada diam tidak mau buka suara takut dimarahi orang tuanya sampai akhirnya mereka melihat ke arah makanan.
“Makanan hari ini enak ya, kalau setiap hari bisa makan sih senang banget, iya tidak?”
“Bik besok masak kayak gini lagi, sampai anak-anak bosan.”
Anak-anak hanya diam tidak bisa berkata apa-apa, tidak lama setelah selesai makan mereka hanya bisa diam dengan muka bodoh.
“Kenyang ma, mama mau hukum kita ya kasih kita banyak makan.”
“Tidak kan kata kalian suka, emang salah kalau mama minta bibik masak lagi.”
Theo hanya diam melihat jam tanganya sambil mendekap Pearl di depan anak-anak, mengecup kening Pearl.
“Sayang aku pergi dulu ya kalau ada apa-apa dirumah kasih tau aku ya, kalau kamu tidak mau kasih tau juga tidak apa-apa.”
“Iya sayang, bye hati-hati ya.”
Theo pergi, anak-anak bingung ada apa dengan papanya tidak ada yang salah kan, kok ganteng banget ya.
“Lia kamu tidak ke sekolah.”
“Iya mi ini mau ke sekolah, ayo kak Luis.”
“Ayo.”
Saat Ivano ingin pergi ditahan Pearl sampai akhirnya Pearl menyert Ivano ke ruang kerja Ivano berada.
__ADS_1
“Ada apa ma?”
“Mama perhatiin kamu lihat handphone terus? Kamu ada pacar sekarang?”
“Pacar? Haha mana ada ma, mama ada-ada aja.”
Pearl diam dan memicingkan mata ke arah Ivano, Ivano hanya diam tidak lama Ivano akhirnya jujur kepada mamanya.
“Jadi ada wanita lucu di mall dia seumuran Luis kurang lebih, cuman dia imut aku suka sama dia, tapi kayaknya aku bukan tipe dia kan aku udah tua di mata dia mana mungkin dia bakal suka aku.”
Pearl hanya tersenyum mendengar perkataan Ivano, tidak lama Ivano mengerutkan dahi sambil melipat kedua tangannya.
“Maaf mama ketawa, habis anak mama lucu, sayang dengarkan mama ya kamu itu ganteng mana mungkin ada yang tidak suka sama kamu, kayaknya cuman orang aneh yang tidak suka sama kamu deh sayang.”
“Ma, ganteng itu belum tentu akan ada yang suka, udah deh ma aku pergi dulu ya bye ma.”
Pearl hanya mengeleng kepala dan penasaran siapa sih pacar-pacar anaknya diam-diam menyuruh pengawal mencari tau tentang wanita yang ditaksir oleh Luis dan juga Ivano.
Alice sampai di kuliah dan merasa malas walau sebenarnya tidak mau kuliah tapi harus, sampai di kelas tidak sengaja tertabrak karena kecilnya Alice.
“Eh anak kecil ngapain disini? Tidak punya mata ya? Ngapain coba anak kecil ke kuliah mau belajar apa di tanya.”
Luis yang melihat itu merasa tidak senang sontak menarik alice dari hadapan mereka,mereka cewe-cewe yang tergila dengan Luis, sampai di kelas Luis duduk bersama Alice.
“Makasih ya udah bantuin gua, tapi lu tidak harus begitu tau beneran deh.”
“Lu bicara apaan sih? Gua tidak suka kalau lu digituin sama orang-orang ngerti gak?”
“Humm makasih ya lu peduli banget sama orang yang tidak dikenal tapi gue terhibur sekali lagi makasih oh ya nama gua Alice, nama lu siapa?”
“Nama gua Luis.”
Mereka berjabat tangan dengan senyum saat ada dosen, Luis melihat ke arah Alice ketika ada pertanyaan dan dijawab oleh Alice, selesai kelas Luis pergi bersama Alice ke kantin kuliah.
“Lu mau makan apa?”
“Tidak tau, gua juga bingung mau makan apa, liat-liat dulu deh ya.”
Alice berkeliling dan tidak lama menabrak pria asing, Alice mendongak ke arah atas untuk melihat siapa yang ditabraknya.
“Eh pria mall? Kok ada di sini kuliah juga?”
“Buset ini cewe imut banget ya.”
Ivano hanya bisa diam melihat Alice tersenyum kepadanya tidak terasa sudah lama tersenyum, sampai akhirnya ada yang mencari Alice, saat Alice mau pergi Ivano menarik tangan Alice agar bisa lebih lama dengannya.
__ADS_1
“A- a tapi.”
Ivano membekap mulut Alice, Alice hanya diam dan patuh tidak berkata apa-apa tidak lama, Ivano terus menatap ke arah Alice, Alice hanya diam dan menundukan kepalanya Ivano yang melihat itu senyum sontak mendekap Alice, tidak lama suara yang mencari Alice menghilang disaat Alice ingin keluar ditahan oleh Ivano dan Ivano mengecup Alice, Alice hanya diam kaget tidak bisa berkata apa-apa.