
Seorang pria dewasa terlihat berjalan memasuki area kediaman keluarga Barata, wajahnya terlihat awet muda dan tampan diusianya yang sudah menginjak kepala empat.
Kaca mata hitam yang bertengger di hidung mancungnya membuat dia terkesan lebih hot dan vibes sugar daddy sekali. Bahkan para pekerja wanita yang tengah mempersiapkan pernikahan Berliana dan Radja tidak mampu berkedip dibuatnya.
Ketika kedua kakinya mulai memasuki pintu utama, senyumannya mengembang kala suara suara yang sudah dia rindukan selama beberapa tahun ini terdengar olehnya.
Dia tanpa ragu kembali melangkah memasuki rumah mewah tiga lantai itu, senyumannya semakin mengembang kala melihat seluruh anggota keluarganya sudah berkumpul.
"Belum juga dikenalin sama Mace, kamu udah mau nikah aja sama dia Sayang. Astaga astaga seberapa hotznya dia sih sampai cucu cantik Mace ini ngebet banget nikah buru buru?" suara khas Mace Reina yang tidak asing dikedua telinganya semakin membuat senyumannya semakin mengembang.
"Ih Mace, bukan Bell yang ngebet tapi si Papa yang lang...," Ucapan Berliana terputus saat melihat seseorang tengah berdiri diambang pintu masuk antara ruang tamu dan keluarga.
"OM RAGA!" pekik Berliana membuat semua orang yang ada disana menoleh kearah pria yang tengah tersenyum sembari merentangkan kedua tangannya.
Tanpa menunggu lagi, Berliana Cia serta Yasmine segera bangkit dan berlari menuju Ragata. Ketiga wanita muda itu menubruk tubuh Ragata hingga membuatnya terhuyung kebelakang.
"Om Raga jam berapa sampai?" Berliana bertanya disela sela pelukan kempat orang itu.
__ADS_1
"Jam 3 sore tadi." jawab Raga seadaanya, namun jawaban seadanya pria itu membuat ketiga keponakannya melepaskan dekapannya lalu saling lirik satu sama lain.
"Oleh olehnya mana?" ketiganya kompak mengadahkan tangan pada Raga, mata berbinar dan berharap ketiga wanita itu membuat Raga tertawa.
"Om gak bawa." jawaban yang Raga berikan membuat ketiganya menampilkan wajah datar. Raga menggaruk kepalanya yang tidak gatal saat melihat para keponakan cantiknya menjauh sembari menampilkan wajah malasnya.
Ketiga wanita itu memang selalu menagih buah tangan padanya kala pulang, padahal Gavyn Davyn serta Galaska saja jarang memintanya untuk membawakan buah tangan. Tapi ketiga keponakan cantiknya tidak akan tersenyum sebelum kemauan mereka dituruti.
"Nanti Om kasih mentahnya aja, masing masing 25juta, tidak akan ada tam...," ucapan Raga terpotong
Raga mengerenyitkan dahinya melihat Berliana mendekat kearah seorang wanita muda yang Raga perkirakan usianya sama dengan Berliana.
"Ini personil baru kita, Lira kenalin itu Om Raga kita. Dia yang bakalan jadi sugar daddy kita nanti, ayo Ra aku kenalin!" Berliana menarik lengan Elira. Namun sebelumnya Berliana membantu Elira memasukan seluruh bunga mawar putih kedalam vas kristal.
Disaat Berliana membawa Elira mendekati Raga, Agatha, Mace Reina, Bunda Anin serta yang lainnya saling lirik. Entah apa yang tengah dipikirkan para ibu ibu itu, namun senyuman Mace Reina dan Bunda Anin terlihat terbit, dan perlahan Agatha pun ikut menyunggingkan senyuman tipisnya. Agatha menatap sendu pada Elira yang tengah ditarik oleh Berliana menuju Ragata.
Ibu dari dua orang anak itu bergumam dalam hati, dia berharap suatu saat nanti Elira akan segera mendapatkan kebahagian yang sebenarnya. Semoga akan ada pria baik yang mau menerima keadaannya saat ini, pria yang akan menjadi pelindung serta pendamping hidupnya.
__ADS_1
'Kamu anak baik, Mak Cik yakin Lira akan menemukan pria yang baik. Pria yang akan menerima keadaan Lira saat ini, kamu harus tetap semangat Lira, buktikan pada Papa serta pria brengsek itu kalau kamu bisa bahagia tanpa mereka.' gumam hati Agatha, senyumannya semakin lebar kala melihat senyuman tipis Elira saat dia menerima uluran tangan Raga saat mereka berkenalan.
"Hallo salam kenal, saya Ragata, Omnya Bell, Yas dan Cia."Raga memperkenalkan diri seadanya, pria itu tersenyum sampai menyipitkan mata.
"Salam kenal juga, saya Elira saudara sepupu Bell dari Bengkulu." ucap Elira seadanya, wanita itu pun segera melepas tautan tangan mereka.
"Wah keponakan baru, oke baiklah jatah kalian Om tambahin." ucap Raga santai, dan itu membuat ketiga keponakannya berteriak senang.
Sementara tatapannya masih terarah pada Elira yang tengah menundukan wajahnya, terlihat sekali tengah menghindar.
'Apa aku sudah jelek serta tua dimatanya, kenapa dia tidak mau menatapku seperti Bell dan yang lainnya.' gerutu Raga dalam hati
RAGA USIA 41 TAHUN, JELEKAH? TUAKAH? LAGI MIKIR KERAS DIA🙈🙈
__ADS_1