
"Sudah selesai? apa masih ada lagi yang mau menambahkan?" Berliana menanggapinya dengan santai, walaupun sejujurnya dia sangat terkejut, namun Berliana sangat apik menyembunyikan keterkejutannya.
"Tidak ada yang mau menambahkan lagi?" Berliana kembali bertanya saat orang orang yang ada disana terdiam, bahkan Rayhan pun sedikit terkejut melihat respon Berliana yang terlihat biasa saja.
"Oke, sepertinya tidak ada. Kalau begitu tolong izinkan saya berbicara tanpa ada yang memotongnya. Anda tadi bertanya pada saya Tuan Rayhan, saya panggil anda Tuan saja ya. Karena menurut saya, panggilan Paman itu sama sekali tidak cocok untuk anda sandang." Berliana tersenyum pada Rayhan yang terlihat tidak terima dengan ucapannya.
"Eh eh, saya sudah bilang tadi, jangan ada yang memotongnya." Berliana menggerakan jari telunjuknya kekanan dan kekiri saat melihat Rayhan hendak membuka mulutnya.
"Tuan Rayhan tadi bertanya pada saya, bagaimana perasaan saya setelah mengetahui semua ini. Mengetahui yang mana dulu ya? perihal penyebab kematian Disha atau Radja dan Lora yang katanya pembawa petaka? kalau tentang pembawa petaka, it's oke saya tidak masalah. Kalau Radja dan Lora memang terkena kutukan dan pembawa petaka, biar saya yang akan mematahkan kutukan itu. Lalu perihal penyebab kematian si Disha, saya justru mau berterimakasih padanya karena sudah dengan suka rela meninggalkan pria setampan ini dan balita selucu Lora. Hanya wanita bodoh yang mau mengakhiri hidupnya dengan cara seperti itu, bukannya kalau kita sedang memiliki masalah itu dibicarakan, bukan ditinggalkan mati!" sarkas Berliana
Ucapan demi ucapan yang berliana cetuskan membuat semua orang menatap tidak percaya padanya. Bahkan Rajasa, Soraya dan Ambar, sedangkan Radja masih terdiam belum melakukan apa apa.
__ADS_1
"Jadi menurutmu Disha itu wanita yang bodoh begitu? wah berani sekali kau berbicara seperti itu pada tuan putri keluarga Malhotra. Kau tidak tahu kalau Disha adalah putri...," Ucapan Rayhan kembali terpotong.
"Bukan saya yang bilang Si Disha itu bodoh, tapi anda sendiri." Ujar berliana santai
"Memangnya kapan saya bicara seperti itu huh?!" Rayhan sepertinya mulai emosi menghadapi keturuan Barata yang satu ini.
"Turunkan nada bicaramu pada calon menantuku!"Rajasa kembali berseru kencang.
"Kau! kau benar benar sama menyebalkannya seperti Barata! Ayah ayo pulang! bisa gila kalau kita terlalu lama dirumah si pembawa petaka ini!" Rayhan segera membantu Rohid berdiri, diikuti oleh Tiara yang membantunya.
Sejak tadi Tiara dan Arjuna banyak diam sama seperti Soraya dan Radja. Radja diam karena mereka tengah membahas dirinya, bukan membahas Ratunya. Kalau Rayhan atau Rohid memojokan Berliana mungkin dia yang akan duluan maju. Namun ternyata, Rayhan dan Rohid malah memojokannya didepan Berliana. Bahkan mereka membongkar habis semua rahasia keluarganya, walaupun Berliana belum tahu tentang Lora yang sebenarnya, karena Rayhan dan Rohid tidak membahas asal usul putrinya tadi.
__ADS_1
"Jangan sampai kamu menyesal Berliana, ingat apa penyebab kematian Disha, jangan sampai kamu juga mengalami nasib sama sepertinya." ucapan Arjuna sukses membuat Berliana mendongak kearah pria itu.
"Memangnya siapa yang mau menjadi wanita bodoh Pak Arjuna, bukankah sudah saya bilang tadi, kalau ada masalah itu dibicarakan bukan ditinggalkan mati. Saya bukan Disha, yang sebegitu mudahnya meninggalkan orang yang dia cintai, nyawa saya terlalu berharga untuk disia siakan." Tanggapan santai Berliana membuat Arjuna menatap datar padanya, lalu setelah itu Arjuna pergi dari hadapan mereka tanpa satu patah kata pun.
Setelah Rohid dan yang lainnya pergi, Berliana menghembuskan napasnya kasar. Wanita itu berbalik menghadap Radja yang masih menatap kosong kearah depan.
"Apa ada yang mau kamu jelasin sama aku sekarang?" ujar pelan serta tenang Berliana pada Radja.
ARJUN, PULANG SAYANG, AKU GIGIT NIH RRRWWW
__ADS_1