
Berliana memijit keningnya yang mulai terasa berdenyut, kejadian ini membuat dia harus semakin selektif dalam memilih partner kerja.
Berliana tidak menyangka kalau Anggun bisa melakukan semua itu, padahal kalau dilihat lihat gadis yang berusia satu tahun lebih muda darinya itu tidak menunjukkan gelagat yang aneh sedikit pun. Tapi untunglah Berliana cepat mengetahui hal ini, dan itu tidak lepas dari bantuan Ragata, Omnya yang berprofesi sebagai hacker di Spanyol.
Raga masih memantau keluarganya di Indonesia, walaupun hanya didalam virtual. Bahkan Raga pun menjaga data base, perusahaan saudara saudaranya, dari tangan tangan jahil para pesaing mereka, termasuk DIAMOND QUEEN.
Bahkan Raga sampai tidak ingin menikah hingga saat ini, alasannya karena dia tidak ingin dipusingkan oleh makhluk yang bernama wanita. Padahal saat itu begitu banyak wanita yang mengejarnya, tapi pria yang sudah berusia 40 tahunan itu lebih memilih untuk hidup sendiri.
"Udah jam 1 siang? aku harus pulang, si Mama pasti udah nungguin." Berliana meraih tas selempangnya, setelah mengirimkan pesan pada Cia kalau dia harus pulang terlebih dahulu.
Karena sepertinya Cia masih mengurus masalah Anggun diruangannya sendiri. Berliana tidak akan ikut campur lagi apa lagi harus bertemu dengan si wanita pengkhianat itu, bisa bisa Berliana hilang kendali nanti.
💝
💝
💝
__ADS_1
Brakk!
Berliana menutup pintu mobilnya lumayan kencang, keningnya mengernyit saat melihat mobil Alphard hitam milik sang Mama berada diluar garasi. Tumben sekali, tidak biasanya si mobil hitam itu keluar dari kandangnya. Karena biasanya Agatha hanya akan mengeluarkan mobil itu kalau dia dan Bara akan pergi, kalau mereka tidak pergi ya mobil itu pun akan terkurung disana.
"Si Mama dari mana sih, tumben mobilnya dikeluarin dari kandang?" Berliana mempercepat langkahnya, rasa penasaran yang ada didalam hatinya saat ini begitu besar.
Sayup sayup Berliana mendengar beberapa orang, terdengar tengah mengobrol dan sesekali tertawa kecil.
"Kalau Lira tidak mengajak Ibu, mungkin Ibu sama Bapak juga gak berani buat datang kesini sendiri Ta."
Kernyitan di dahi Berliana semakin berlipat, saat mendengar suara seseorang yang sudah lama tidak dia dengar secara langsung. Wanita itu melangkah semakin cepat menuju ruang keluarga rumahnya.
"Berlian Nenek, sini sayang! aduh Nenek bener bener kangen sama kamu." wanita paruh itu merentangkan kedua tangannya, meminta pelukan pada Berliana.
Keduanya saling melepas rindu satu sama lain, Agatha yang melihat interaksi antara putri dan sang Ibu hanya tersenyum tipis.
"Kenapa Nenek gak bilang sih kalau mau kesini, kan Bell bisa jemput di bandara." Berliana mendudukkan dirinya disebelah Rina. Kedua wanita beda usia itu terlihat lupa dengan sekitar, bahkan saking lupanya Berliana belum menyadari kalau ada wanita lain dibelakang tubuhnya.
__ADS_1
"Nenek kesini sama Elira, jadi Berlian Nenek gak usah jemput." Rina mengusap lembut rambut panjang cucunya, Rina begitu menyayangi Berliana walaupun mereka jarang bertemu secara langsung. Rina bahkan membeli sebidang kebun pisang untuk Berliana, karena dia tahu kalau cucunya yang cerewet ini suka sekali dengan buah Pisang.
"Elira?" senyuman Berliana surut saat mendengar nama sepupu tirinya, sepupu tirinya yang jarang sekali berbicara dengannya. Entah kenapa Berliana juga tidak tahu, setahunya Elira bukan orang yang pendiam, tapi saat dia bersama atau bertemu dengannya, wanita itu seakan enggan sekali untuk membuka mulut.
"Oh iya, Nenek bawa sesuatu dari Bengkulu buat kamu." Rina segera mengalihkan pembicaraan mereka, dia paham kalau Berliana dan Elira tidak terlalu dekat. Dulu Rina juga sering melihat Berliana kecil di acuhkan oleh Elira disaat Berliana mengajaknya bermain tanah, saat Agatha dan Bara mengajaknya ke Bengkulu.
"Wah apa tuh?" Berliana terlihat begitu bersemangat kembali.
"Taraaaaaaa, buah pisang kesukaan Berliannya Nenek." Rina mengangkat satu sisir buah pisang dihadapan wajah Berliana.
"Pisang? wow besar sekali epribadeh, ini pisang apa Nek?" Berliana begitu berbinar, melihat ukuran buah pisang yang tengah berada didepan kedua matanya. Bahkan dia mengelus lembut buah kesukaannya itu.
"Ini namanya Pisang Raja." Ucap Rina
"Hah! Pisang Raja?" Wajah Berliana pucat pasi, mendengar nama pisang itu, bahkan berkali kali dia menelan salivanya kasar.
'Pisang Raja? kenapa namanya harus pisang Raja sih, kenapa bukan pisang Kevin, Samsul, atau pisang Arifin aja gitu, kenapa harus Raja sih?' Batin Berliana berteriak, dia yang tadinya berbinar menatap pisang itu, kini berubah menatap ngeri.
__ADS_1