
"Ra, kamu gak apa apa?" Cia menepuk pundak Elira saat melihat wanita itu terlihat tidak nyaman ditempatnya.
"A-aku tidak apa apa Miss Cia, tapi aku izin ketoilet sebentar ya." Elira menampilkan senyuman tipis untuk membuktikan kalau saat ini dia baik baik saja. Padahal kenyataannya tidak begitu, rasanya seluruh persendian tulangnya melemas saat melihat seseorang yang tidak ingin dia lihat lagi didunia ini.
"Jangan lama lama ya Ra!" kali ini giliran Berliana ikut angkat bicara saat melihat Elira bangkit dari duduknya.
Elira, wanita itu hanya menganggukan kepalanya pelan, setelah itu dia kembali melanjutkan langkahnya.
Kedua sudut matanya terus saja mengarah pada meja yang tidak jauh dari meja yang dia tempati tadi. Elira berharap orang itu tidak melihat kearah dirinya saat ini berada. Namun ternyata keinginan Elira tinggal angan angan belaka, kedua netra orang itu membulat saat melihat Elira melewatinya begitu saja dan menuju kearah toilet.
"Kau pesan saja, aku akan ketoilet sebentar!" orang itu meletakan buku menu dengan kasar, dia tidak peduli panggilan wanita yang sedang duduk beramanya.
"Arjun kamu mau pesan apa?" Seruan wanita itu membuat atensi Radja dan yang lainnya menoleh kearah mejanya.
"Anjeli?" gumam Radja, pria itu mengedarkan pandangannya kearah lain untuk mencari seseorang yang sudah dipastikan adalah Arjuna.
"Itu tunanganya Pak Arjuna kan? kenapa berteriak ditempat umum?" ucapan pelan Berliana membuat Cia menganggukan kepalanya, walaupun dia tidak tahu siapa itu Arjuna.
"Biarkan saja, kalau dia berulah baru kita menemuinya." ucap Radja santai, pria itu membenarkan jepitan rambut Berliana yang sedikit berantakan.
💝
💝
💝
__ADS_1
Elira mengatur napasnya setelah berada didalam toilet, wanita itu membasuh wajahnya agar terlihat lebih segar dan tidak terlihat pucat.
Gemuruh didalam dadanya masih dia rasakan, Elira benar benar tidak ingin lagi bertemu dengan orang itu.
Namun saat dia hendak memejamkan kedua matanya, suara gaduh dari luar toilet membuatnya urung untuk menutup kedua matanya. Elira segera meraih sapu tangan dari dalam tasnya untuk mengeringkan wajahnya yang basah.
Braak!
Napas Elira semakin terkecat kala pintu toilet wanita yang sedang dia pakai saat ini terbuka karena ulah seseorang yang saat ini tengah menatapnya penuh intimidasi. Elira meremas sapu tangannya saat melihat orang itu semakin mendekatinya dari kaca.
"Jangan mendekat!" suara Elira yang tadinya tercekat akhirnya bisa dia keluarkan, langkah orang itu pun terhenti. Namun ternyata tidak berlangsung lama, dua kaki jenjang itu melangkah dan semakin mengikis jarak dengan Elira.
"Aku bilang jangan mendekat!" kali ini Elira memberanikan diri untuk membalikan tubuhnya. Tatapan benci dan marah begitu terpancar dari kedua sorot matanya. Sementara orang yang saat ini tengah mengikis jarak dengannya terlihat menatap sendu padanya.
Napas Elira semakin tercekat kala orang yang sudah merenggut kehormatannya itu memanggil namanya. Elira benar benar membenci manusia ini disetiap aliran darahnya.
"Itu namamu, maaf aku sudah lancang membuka dompetmu." ucapnya pelan
Elira berdecih jijik pada pria yang tengah menampilkan wajah sendu padanya. Hanya membuka sebuah dompet, kenapa dia harus meminta maaf. Sementara setelah dia membuka segel kehormataannya pria itu membisu bagaikan bangkai.
"Itu hanya sebuah dompet yang kau buka dengan lancang, kenapa harus meminta maaf? sementara saat kau membuka paksa kehormatan sipemilik dompetnya, mulutmu membisu bagaikan sudah menjadi bangkai!" ucapan sarkas Elira membuat pria itu semakin menundukan kepalanya dalam.
"Maaf?" ucapnya pelan
Elira semakin berdecih tidak sudi saat kata maaf yang tidak berguna itu keluar begitu saja dari sipelaku.
__ADS_1
"Kau pikir kata maafmu itu bisa mengembalikan semua yang sudah kau renggut dariku, tidak kan?" Elira tersenyum sinis bercampur miris
"Jadi simpan saja kata maafmu itu saat bertemu Tuhan nanti!" lanjutnya
Elira segera melangkahkan kakinya melewati pria itu, namun langkahnya terhenti saat tangannya dicekal kuat.
"Maafkan aku Elira, namaku Arjuna. Kamu bisa memanggilku apa saja, yang terjadi kemarin itu diluar kendaliku. Ada seseorang yang memasukan perangsang kedalam minumanku, jadi aku tid...," ucapan Arjuna terpotong
"Kau pikir aku peduli! itu urusanmu, lalu kenapa kau melimpahkan semuanya kepadaku! kau brengsek! aku benar benar membencimu sialan! aku membencimu!" Elira terus saja memaki pria yang sudah merenggut kehormatannya secara paksa. Bahkan tas yang dipegang Elira jadikan pemukul untuk memukul tubuh Arjuna. Arjuna sudah terlihat pasrah saat wanita yang dia nodai itu memukulinya dengan brutal.
Bahkan Elira hampir saja ambruk kelantai kalau saja Arjuna tidak menopang tubuhnya karena terlalu emosi.
PLAK PLAK!
Arjuna memejamkan kedua matanya saat merasakan panas menjalar dikedua pipinya, Elira menampar keras wajahnya menggunakan tas yang sedari tadi dia gunakan untuk memukulinya.
"Lepaskan aku! aku membencimu! sangat sangat membencimu!" desis Elira sebelum dia meninggalkan Arjuna yang masih terdiam ditempatnya.
"Aku akan bertanggung jawab!" ucap Arjuna tegas
**OTHOR GATEL PINGEN NGASIH BONUS,
KENCENGIN KOMEN LIKE VOTE HADIAH DAN FAVORITNYA YAAAAAA**
__ADS_1