
Elira berkedip cepat kala melihat Raga sudah mengukung tubuhnya, wanita bermata bulat itu meremas seprai hingga kusut.
Gugup,takut, dan masih banyak lagi kata yang tidak bisa dia ungkapkan saat ini. Kedua matanya berusaha menatap berani pada Raga, bahkan Elira semakin menahan napas, kala salah satu tangan Raga naik untuk mengusap lembut wajahnya.
"Kalau kamu belum siap, gak apa apa. Kita masih punya waktu, yang terpenting sekarang, kamu nyaman itu sudah cukup buat Abang. Tidurlah, ini sudah malam, Abang mau ngurus perjalan kita ke Spanyol lusa." ucap lembut Raga, bahkan sebelum pria itu melepaskan kukungannya, Raga masih nenyempatkan diri untuk memberi kecupan didahi istrinya.
"Abang?" panggil Elira, saat melihat Raga hendak menjauh darinya. Bahkan wanita itu segera meraih lengan sang suami. Kedua mata bulat sayunya, menatap Raga lembut. Bahkan Elira terlihat bangun, dengan keberanian yang dia miliki, Elira maraih salah satu telapak tangan Raga.
Kedua mata bulat sayunya, terus saja menatap pria itu. Perlahan kedua sudut bibir Elira tertarik keatas, membentuk sebuah senyuman tipis. Apa lagi saat Elira membawa telapak tangan Raga kearah pipi dan bibirnya.
"Terimakasih, sudah mau menerima aku dan segela kekurangan aku. Maaf, aku belum bisa memberikan kebaha...,"
Grep!
Ucapan Elira terhenti kala Raga menarik tubuhnya, pria itu segera memeluk tubuh Elira erat. Bahkan Raga memberikan banyak kecupan dipucuk kepala Elira.
"Abang kan sudah bilang, jangan bicara yang macam macam saat kita berdua. Abang juga banyak kekurangan, ingat!" ucap Raga tenang.
Pria itu semakin mengeratkan pelukannya, kala Elira juga semakin erat memeluknya.
"Aku sudah siap!" ucap Elira pelan, namun menyiratkan begitu banyak makna didalamnya.
__ADS_1
Perlahan Raga melepaskan dekapannya, kedua matanya menatap netra bulat sayu wanitanya. Kedua sudut bibirnya tertarik membentuk senyuman tipi, dan senyum itu menular pada Elira.
"Saat kamu mengingat hal yang menakutkan nanti, ingat! Abang selalu ada untuk kamu, Amor. Bahwa saat ini, Abang yang sedang menyentuh kamu, jangan ingat siapa pun, mengerti," ujar lembut Raga, kedua telapak tangannya menangkub kedua pipi Elira, dan mengusapnya lembut.
Elira terlihat menghirup napasnya dalam, lalu menganggukan kepalanya yakin. Dia akan berusaha menyingkar rasa traumanya, demi Raga dan keluarga kecilnya nanti.
"Iya,aku janji!" ucap Elira yakin, dan itu membuat senyuman Raga mengembang.
Perlahan pria itu mendekatkan wajahnya, hingga dahi serta hidung mereka bersentuhan. Bahkan napas hangat keduanya, bisa mereka rasakan diwajah masing masing.
Sampai akhirnya, entah siapa yang nemulai duluan, kedua bibir itu sudah saling bersentuhan. Bahkan Raga dengan lembut mulai menyesap bibir atas dan bawah Elira. Kedua tangannya sudah menekan tengkuk serta pinggang sang istri.
'Kalau aku tau ciuman seenak ini, kenapa gak dari dulu kawinnya.' monolog hati Raga disela sela cumbuannya.
Raga mengembangkan senyum, kala melihat Elira semakin terlena oleh sentuhannya. Walaupun istrinya sempat mengigit bibirnya, kala mereka berciuman tadi, namun itu bukan masalah bagi Raga.
Pria itu tahu dan mengerti, kalau saat ini Elira masih merasa takut, namun dia berusaha untuk melawannya, dan setelah Elira rileks, Raga akan melanjutkan ketahap selanjutnya.
"Abang mulai ya?" bisik Raga tepat didepan bibir Elira, setelah membuat Elira rileks dan siap untuk meretas seluruh area tubuh wanitanya.
Elira tidak menjawab, namun menganggukan kepalanya pelan, bahkan dia tidak berani untuk menatap wajah serta tubuh full naked suaminya.
__ADS_1
Salah satu tangan Elira meremas seprai, dan satunya lagi, Elira gunakan untuk mencengkram erat lengan Raga.
"Pelan pelan!" protes Elira, entah kenapa rasanya lebih sakit dari pada saat Arjuna menodainya.
"Iya Amor," ujar serak Raga.
'Astaga, kenapa rasanya lebih sakit, bukannya aku sudah tidak perawan. Harusnya kan mudah saja masuknya.' suara hati Elira mulai berteriak.
"Astaga Amor, kenapa susah sekali masuknya! apa mungkin kebesaran?" oceh Raga disela sela kegiatan mereka yang terlihat begitu kesulitan, kala Raga mulai meretas masuk kedalam jaringan keamanan Elira
"Besar? emang sebesar apa?" sahut pelan Elira, bahkan dia sedikit merasa ngeri, namun semakin lama semakin bertambah nikmat.
**HOLLA MET PAGI EPRIBADEH
JANGAN LUPA BUAT LIKE VOTE KOMEN HADIAH DAN FAVORITNYA
SEE YOU NEXT PART MUUUUAACCHHH**
__ADS_1