
"Queen?" Radja berbisik didekat telinga Berliana, kedua matanya menyorot setiap mata yang tengah melihat kearahnya dan Berliana. Namun sepertinya Berliana masih menikmati dekapan itu hingga dia enggan melepaskannya.
"Queen, lampunya sudah menyala." Radja kembali berbisik, dan kali ini bisikannya membuat kedua mata Berliana terbuka lebar selebar lebarnya. Wanita itu mendongakkan kepalanya untuk menatap wajah Radja.
Benar saja saat dia menoleh lampu sudah menyala kembali, posisi dia dan Radja berada tepat ditengah tengah lantai dansa, dan itu membuat semua mata menuju pada mereka berdua tidak terkecuali. Bahkan Bara dan Agatha pun menatap tidak percaya apa yang sedang mereka lihat saat ini. Arjuna yang tengah duduk disalah satu meja tamu terlihat menatap tidak suka pada sepupunya.
"Kenapa mereka ngelihatin kita?" pertanyaan itu keluar begitu saja dari bibir Berliana.
Wanita itu bahkan masih mencengkram ujung jas yang dipakai oleh Radja karena gugup. Apa lagi saat melihat Bara Papanya terlihat berjalan kearahnya dengan raut wajah yang tidak dapat terbaca.
"Papa?" Berliana semakin mengencangkan cengkeramannya pada jas Radja.
Sedangkan Radja terlihat tengah menutupi wajah Berliana yang sangat dia yakini kalau wanita ini tengah gugup. Percaya atau tidak, Radja sebenarnya merasakan hal yang sama. Dia juga gugup namun Radja berusaha menutupi semua itu dengan wajah tenangnya. Bisik bisik para tamu pun mulai terdengar dikedua telinga mereka, ada yang mengagumi ada pula yang berbicara sinis.
"Papa Bell bisa jelasin, ini gak seperti yang Pa... ," Ucapan Berliana terputus
Plaak!
"Papaa!" Pekik Berliana
__ADS_1
"Mas!" Seruan Agatha
Satu tamparan keras dilayangkan oleh Barata di wajah Radja, namun sepertinya tamparan Bara hanya menyebabkan bekas merah dan kebas di wajah Radja, tidak fatal.
"Bawa Queenza pulang!" suara Barata sudah terdengar berat, namun Agatha tidak beranjak sedikit pun dari tempatnya. Dia tidak ingin suaminya melakukan hal yang tidak tidak pada pemuda itu.
"Agatha?" Bara kembali menginstruksikan sang istri untuk membawa Berliana keluar dari pesta.
Agatha menghela nafasnya kasar, dia mulai melangkah mengikis jarak dengan suaminya dan sang putri.
"Ma, Bell gak mau pulang. Ini gak seperti yang kalian lihat, tadi Bell reflek meluk Radja pas lampunya mati, Mama taukan kalau Bell takut sama gelap. Tolong bilang sama Papa kalau Radja gak salah, Bell yang salah Ma." Berliana segera meraih lengan sang Mama saat wanita bergaun hitam itu sudah berada didekatnya.
Sedangkan disudut ruangan sana, Arjuna terlihat menyunggingkan senyuman mengejeknya pada Radja. Walaupun sedikit terkejut saat dia mengetahui kalau Berliana adalah putri dari Barata pemilik ADAM CORP.
"Sudah aku bilang kali ini kau tidak akan menang, Kakak Sepupu." Arjuna meneguk win nya dengan tandas, senyuman tipis di bibirnya tidak surut sedikit pun.
"Ayo pulang!" Agatha menarik pelan lengan Berliana, sebenarnya Agatha tidak tega melihat wajah sang putri yang terlihat serba salah.
"Ma tapi Papa sama Radja...,"
__ADS_1
"Pulanglah Queen, aku tidak apa apa!" Radja menyela ucapan Berliana, pria itu menampilkan senyuman baik baik saja pada Berliana.
"Tapi...," Suara Berliana tercekat
" Ayo sayang!" Agatha segera merangkul pundak sang putri, dia harus segera membawa Berliana pergi dari sana agar para tamu undangan yang tengah menggunjing mereka jangan sampai terdengar oleh kedua telinganya bisa bahaya nanti. Bahkan Agatha dapat melihat Berliana selalu menoleh kebelakang seakan dia tidak rela meninggalkan pemuda itu bersama Papanya.
Kini setelah Berliana dan Agatha pergi, kini tinggallah Bara dan Radja yang tengah berhadapan.
"Kau terlalu berani anak muda, jangan hanya karena DEWANGGA GROUP dan ADAM CORP bekerja sama, dengan mudahnya kau memeluk putriku tanpa status yang jelas! enak saja, kau pikir Berlian ku apa huh, bantal guling. Kutunggu kau dikediaman Prayoga, kalau sampai kau tidak datang, maka keekk!"
Bara memperagakan menyayat lehernya sendiri pada Radja lalu meninggalkannya, sedangkan Radja pria itu masih terdiam ditempatnya. Radja masih mencerna kata kata Barata tadi, otaknya terlalu lemot saat dia mengetahui kalau Berliana adalah putri dari Barata.
"Dia menyuruhku untuk datang ke kediaman Prayoga, apa maksudnya? tidak mungkinkan kalau dia menyuruhku untuk...," Senyuman Radja perlahan mengembang saat otak tampannya berfungsi kembali seperti sediakala.
Sedangkan Arjuna mengerenyitkan dahinya saat melihat senyuman samar Radja, Arjuna berpikir kalau sepupunya itu mulai gila karena ditolak oleh orang tua Berliana.
"Kasihan sekali nasibmu Kak Radja."
__ADS_1