
"Kamu beneran mau nikah sama duda Bell?" pertanyaan itu kembali terucap dari mulut Gentala, entah sudah berapa kali bapak dari dua orang anak itu bertanya.
"Ya beneran lah Om Talla, kan dari dulu Bell maunya nikah sama duda. Kata Om duda itu lebih mantap, pengalamannya banyak, duitnya seabrek bisa buat beli kebon pisang seratus hektar." Berliana menyomot cake pisang kesukaannya, ucapannya terkesan santai namun bisa membuat Gentala mengelus dadanya dramatis.
"Ternyata..., Ah sudahlah. Sekarang mana si duda kamu itu, suruh kesini Om sama Opa mau ketemu!" Gentala terlihat serius sekarang.
Berliana yang tengah mengunyah cakenya sedikit memiringkan badan untuk melihat jam dinding yang tergantung ditembok. Waktu baru menunjukan pukul 4 sore, berarti Radja sudah selesai bekerja, Pikirnya
"Bentar Bell tanya dulu dia sibuk apa enggak hari ini." Berliana meraih ponselnya dan terlihat mengetik sesuatu.
"Mi, siapin kantong kresek deh sebelum Duku Matengnya Kak Bell datang." ucapan Yasmine membuat orang orang disana menatap kearah gadis cantik itu.
"Kenapa? kamu mau bungkus si Duku Matengnya?" Tiur tergelak mendengar ucapan sang putri yang menurutnya ada ada saja.
"Astaga dragon ball, bukan buat bungkus Si Duku Mateng, tapi buat nampung iler kalian nanti. Yas yakin kalau Mami sama yang lainnya bakalan ngiler, sengiler ngilernya pas lihat si Duku." Yasmine memasang wajah menyebalkannya, membuat Gentala mengusap wajah putrinya itu dengan kasar.
Oma Anin dan yang lainnya hanya tersenyum kecil melihat kelakuan gadis remaja itu, bahkan Elira dan Rina yang sedari tadi menyimak terlihat tersenyum tipis.
__ADS_1
"Udah nih, Radja otw kesini. Yas sana ambil kantong kresek didapur." Berliana tergelak sendiri mendengar ucapannya.
💝
💝
💝
Radja menghela nafas lalu membuangnya berkali kali, setelah dia mendapatkan pesan dari Berliana, yang menyuruhnya untuk datang kekediaman Prayoga, Radja segera meluncur tanpa ingin membuang waktu lagi.
Dan sekarang dia sudah berada didepan rumah mewan tiga lantai yang terlihat seperti mansion ala eropa modern.
Tapi dia tidak peduli, Radja terus saja melangkah bahkan setelah dia sudah berada depan pintu utama, Radja masih menyempatkan diri untuk menghirup udara sebanyak mungkin.
"Oke jangan gugup Dja, hanya Opa dan Pamannya Queen yang ingin bertemu denganmu dan itu biasa saja bukan. Oke kita mulai!" monolog Radja
Satu tangan kekarnya terulur untuk menekan bell rumah yang ada disamping pintu, tidak lama pintu besar itu terbuka. Radja tersenyum tipis saat melihat siapa yang membukakan pintu untuknya.
__ADS_1
"Hai Queen?" Radja segera menyapa wanita yang sejak tadi menghantui pikirinnya.
"Hai King, ayo masuk! Opa, Oma , Onty Tiur sama Om Talla udah nungggu." Berliana segera meraih lengan Radja dan menariknya masuk kedalam rumah. Sedangkan Radja terlihat menggelengkan kepalanya mendengar panggilan baru yang disematkan oleh Berliana untuknya.
Senyuman Berliana terus saja mengembang, kedua tangannya memeluk lengan Radja dengan posessive. Wanita itu tersenyum pada kekasihnya saat Radja mengusak kepalanya gemas.
"Opa Oma, Radja udah datang!" Semua mata yang ada diruangan itu kini teralihkan pada Berliana dan Radja. Oma Anin dan Tiur membekap mulutnya sendiri saat melihat Duku Mateng milik Berliana, sedangkan Gentala hanya bisa menatap tidak berkedip pada pria yang tengah digandeng oleh keponakannya.
Damar? pria yang bergelar Opa Kece itu membulatkan matanya saat melihat siapa pria yang tengah digandeng oleh sang cucu kesayangan.
"Astaga, jadi kau yang...,"
"Astaga dragon ball, ini mah beneran Duku Mateng Bun!" Pekikan Tiur membuat Gentala tersadar, pria itu segera menutup kedua mata sang istri dengan kedua telapak tangannya.
"Nah kan, udah dibilangin suruh nyiapin kresek, pada bengal sih!" Yasmine terkikik geli melihat wajah Papinya yang terlihat kesal melihat Sang Mami terpesona oleh si Duku Mateng.
__ADS_1