Duku Mateng(Duda Kuat Mapan Dan Ganteng)

Duku Mateng(Duda Kuat Mapan Dan Ganteng)
Aku Sudah Kebal Di bohongi


__ADS_3

"Hei! kau tuli ya!" Anjeli kembali berseru kencang, dan kali ini seruannya berhasil membuat orang yang tengah membereskan belanjaan itu mendongak padanya.


Orang itu menepuk kedua tangannya yang terkena tumpahan tepung terigu, dia memajukan langkah untuk mengikis jarak, hingga hanya tersisa beberapa jengkal saja dengan wanita yang saat ini tengah menatap kesal padanya.


Byuuurrr


Dia melemparkan sisa tepung itu kewajah Anjeli, dengan tatapan tidak bersalahnya dia kemudian berjalan melewati sepasang kekasih sepihak itu.


Anjeli menjerit sejadi jadinya saat melihat kondisinya sekarang, sedangkan Arjuna hanya terdiam menikmati adegan yang tersaji secara live dihadapanya saat ini. Apa dia harus berterima kasih pada wanita  yang sudah menumpahkan tepung kewajah Anjeli? karena perbuatannya itu membuat dia memiliki alasan untuk bisa membatalkan acara tidak berguna Anjeli saat ini.


Ya orang yang bertabrakan dengan Anjeli adalah seorang wanita, hari ini dia harus belanja bahan bahan cake disalah satu minimarket yang tidak jauh dari area komplek perumahan Tantenya.


"Wanita sialan! kenapa kau malah menumpahkan tepung lagi padaku!" umpatan Anjeli sukses membuat langkah wanita itu terhenti dan kembali membalikan tubuhnya.


"Apa tepungnya kurang? mau aku tambah lagi?" ucapannya sukses membuat orang orang yang tengah menonton interaksi mereka itu tidak kuat menahan tawanya.

__ADS_1


Wanita itu sudah mengangkat coklat bubuk serta keju bubuk yang ada didalam kantong pelastiknya.


"Sudah Nona maafkan dia, jangan kau membuang belanjaan mu itu dengan percuma, sayangkan." Arjuna segera menghalangi wanita itu saat dia hendak melemparkan satu bungkus coklat bubuk pada calon tunangannya.


"Kau pikir dengan meminta maaf seluruh belanjaanku kembali utuh, terus Mak Cik ku bisa membuat banana cake pesanan saudaraku? tidak kan Tuan?" Wanita itu berbalik hendak meninggalkan tempat itu, namun Arjuna secepat mungkin mencekal pergelangan tangannya.


"Tunggu Nona, biar aku yang akan mengganti semua belanjaanmu!" Arjuna terlihat mengeluarkan sebuah kartu dari dalam dompetnya.


"Ini kartu namaku, nanti kau bisa kirim nomor rekeningmu ke sini." Arjuna menujukan kartu tanda pengenalnya, namun wanita itu malah menatap heran kearahnya.


"Jangan kau pikir karena aku orang miskin kau bisa membohongiku, dengar aku sudah kebal di bohongi, bahkan oleh Papa ku sendiri!" Wanita itu menatap sinis pada Arjuna, sementara Arjuna mengerutkan dahinya mendengar ucapan wanita galak itu yang terdengar seperti curhatannya.


"Dasar wanita bodoh, dikartu itu ada alamat kantor serta nomor ponselku, bukannya dia bisa menghubungi atau pergi langsung kesana." Arjuna memungut kartu namanya dan memasukan kembali kedalam kantung celana jeansnya.


"Arjun!" Pekik Anjeli dari arah belakang tubuhnya membuat pria itu memejamkan kedua matanya.

__ADS_1


"Astaga betina itu membuatku semakin muak!" Arjuna segera menarik lengan Anjeli dengan kasar dan membawanya pulang.


Sedangkan disisi jalan berlainan seorang wanita terus saja menggerutu kesal karena separuh belanjaannya rusak bahkan tepung yang dia beli tinggal satu bungkus lagi.


"Pasangan yang serasi, yang satu sombong yang satu angkuh. Beraninya pria itu mau menipuku, dia pikir kertas itu bisa membeli bahan bahan ini di minimarket? sabar Lira sabar, yang terpenting sisa bahannya masih bisa digunakan sama Mak Cik nanti." Wanita bernama Lira itu mengelus dadanya, untung saja dia tidak melemparkan sisa tepung yang dia punya kearah wajah wanita tadi.


"Orang kota ngeri ngeri ya, siapa yang bersalah siapa yang disalahkan." ujarnya lagi



ELIRA



ANJELI RAJENDRA

__ADS_1


__ADS_2