
"Arjun aku ma..," ucapan Anjeli terpotong saat merasakan sebuah telapak tangan besar milik Arjuna mencekik lehernya.
Arjuna segera menyeret tubuh Anjeli kedalam kamarnya, kedua mata hazel milik Arjuna menatap dingin pada calon tunangannya.
"Apa yang kau bubuhkan pada minumanku tadi siang?" Arjuna menahan tangannya mati matian agar tidak hilang kendali.
"A-Arjun uhuk, a-aku tid...," Napas Anjeli tercekat kala cengkraman dilehernya semakin kuat
"Bohong!" desis Arjuna
"A-aku ti-dak be-ber...,"
"Jawab? atau aku patahkah lehermu!" ancaman Arjuna membuat Anjeli menyunggingkan senyumannya.
"La-kukan sa-ja." jawabnya santai
Arjuna menatap tajam pada Anjeli, dengan sekali hempasan Anjeli berhasil lepas dari cekikan calon tunangannya. Wanita itu sedikit terbatuk dan mulai menetralkan napasnya yang sempat tersendat.
"Keluar!" ucap dingin Arjuna
Namun bukannya takut, Anjeli malah semakin mendekat pada Arjuna yang tengah mengusap kasar wajahnya. Anjeli tahu kalau pria ini tidak akan pernah bisa menyakitinya selama Kakek Rohid ada dipihaknya.
"Kau butuh penenang hm?" Anjeli semakin mendekat pada Arjuna, bahkan wanita itu dengan berani membuka cardiannya dan hanya menyisakan tangtop berdada rendah yang membuat dua buah semangka kenyalnya terlihat jelas.
__ADS_1
"Kau mau menja*lang hm?" sarkas Arjuna, pria itu menatap rendah pada putri bungsu keluarga Rajendra.
Gerakan tangan Anjeli terhenti saat melihat Arjuna melemparkan cardian miliknya kearah wajahnya.
"Pakai dan segera keluar dari kamarku! kalau kau masih nekat, akan aku pastikan malam ini kau akan terjun bebas dari balkon kamarku! keluar!" Arjuna menujuk kearah pintu kamarnya, Anjeli menghentakan kedua kakinya kesal. Harga dirinya turun drastis saat Arjuna terang terangan merendahkannya.
💝
💝
💝
"Bagaimana hubungan mu dengan putri si Barata itu?" Rajasa yang tengah menyeruput kopi hitamnya bersama Radja dihalaman samping rumah mereka terlihat santai saat bertanya pada putranya.
"Ya ya ya terserah, Ayah lupa namanya. Bagaimana? apa si Barata menyulitkanmu? apa si menyebalkan itu meminta yang aneh aneh padamu sebagai syarat mengencani putri kesayangannya?" Rajasa terkekeh pelan kala membayangkan wajah kesal rivalnya itu.
"Papanya Queen tidak pernah meminta apa pun dariku Ayah." ucap Radja
Rajasa yang kembali menyeruput kopi hitam panasnya dengan hati hati hanya menganggukan kepalanya.
"Tapi Opanya meminta 100 hektar perkebunan pisang Raja sebagai mas kawin untuk Queen." lanjut Radja tenang
Lain dengan Rajasa, pria paruh baya itu menyemburkan kopi yang sudah diseruputnya kewajah Radja kala dia mendengar ucapan sang putra.
__ADS_1
"Ayah! astaga!" Radja mengusap kasar wajahnya yang terkena semburan maut sang Ayah.
"Queenza meminta itu padamu?" Rajasa melotot tidak percaya pada putranya.
"Bukan Queen yang minta Yah, tapi Opanya. Queen bilang Opanya hanya bercanda, tapi aku rasa Opanya serius. Soalnya Queen sangat menyukai pisang bukan? mungkin setelah menikah nanti dia akan menjadi pemasok pisang keseluruh negara bahkan dunia." Radja terlihat santai saat mengucapkannya, bahkan pria itu ikut menyuruput teh hijaunya.
"Semua wanita memang suka pisang, wanita mana yang tidak suka pisang. Bukan hanya kekasihmu itu yang suka pisang, tapi Ibumu juga sama." Ujar Rajasa tanpa dipikir terlebih dahulu
Kening Radja berkerut mendengar ucapan sang Ayah, namun seperdetik dia menggelengkan kepala setelah otak mesum kelelakiannya mulai berfungsi.
"Astaga Ayah, bukan itu maksudku. Ayah dan Ibu ternyata sama saja, kemarin Ibu membahas pisangku didepan Queen, sekarang Ayah pun sama! dasar gila!" Radja segera pergi meninggalkan Rajasa yang terkekeh melihat wajah putranya yang memerah.
"Kau berani mengataiku gila hei duda primitif!" ejek Rajasa pada sang putra
"Ayah tidak waras!" balas Radja
"Hei! kau ingin ku jadikan ulat lagi huh?!" seruan Rajasa menggema disana, bahkan Soraya dan Ambar pun bisa mendengar suara pria itu dari dalam rumah.
"Ayah dan Kakak bertengkar lagi Bu?!" ucap Ambaresa
BOLEH GAK SIH GELENDOTAN KAYAK ANAK MONKEY DI LENGAN KAMU DJA🙈🙈
__ADS_1