Duku Mateng(Duda Kuat Mapan Dan Ganteng)

Duku Mateng(Duda Kuat Mapan Dan Ganteng)
Diabaikan vs Mengabaikan


__ADS_3

Kedua netra Radja terus saja bergulir, membaca satu persatu kata yang ada diatas kertas. Sesekali pria itu menyugar kasar rambut gondrongnya, bahkan Radja terlihat menggigit bibir kala membaca salah satu curahan hati Disha diatas kertas yang tengah dia pegang.


Begitu pun Soraya dan Rajasa, mereka tidak menyangka kalau mantan menantunya itu merasa tertekan selama ini. Padahal mereka sudah ikhlas menerima semuanya, namun ternyata Disha masih menyimpan rasa bersalahnya tanpa mereka ketahui, termasuk Radja suaminya.


Bahkan ternyata, hal yang membuat Disha memutuskan untuk bunuh diri itu karena Ranveer Mehra, sang mantan kekasih selalu menerornya, dan meminta Disha kembali padanya.


Bahkan rencana bunuh diri yang dilakukan Disha sudah diatur apik olehnya. Disha melakukan aksinya saat Radja pergi jauh, dia melakukan itu agar keluarga Malhotra tidak akan pernah membawa Radja dalam masalahnya nanti.


Namun prediksi Disha salah, keluarganya malah semakin menyalahkan Radja dan Lora setelah kepergian yang tragis.


"Ai?" panggil  Berliana, wanita itu meraih lengan atas Radja. Berliana mendongakkan wajah untuk menatap Radja yang masih memandang kosong ada kertas yang tengah dipegangnya.


"Apa bukti ini udah cukup kuat, saat di pengadilan nanti?" lanjut Berliana kala Radja belum menyahuti panggilannya.


"Dari mana kamu mendapatkannya?" bukannya menjawab, Radja malah balik bertanya pada sang istri.


"Tidak peduli dari mana Menantu Ayah mendapatkannya, yang terpenting sekarang adalah, kertas-kertas ini bisa menjadi bukti kalau selama ini Ayah biologis Lora selalu meneror Disha, dan menjadi penyebab kematiannya." Rajasa segera menyela Berliana yang baru saja akan menjawab pertanyaan Radja.


Soraya dan Ambar mengangguk setuju mendengar ucapan Rajasa, sedangkan Radja masih terdiam. Sementara Berliana, wanita itu masih menunggu Radjanya bersuara.

__ADS_1


"Kamu marah sama aku, Ai?" akhirnya rasa gatal Berliana untuk bertanya pada sang suami akhirnya tercetus juga.


Kedua mata hitam bening itu menatap lekat pada wajah sempurna Sang Radja. Perlahan Berliana menampilkan senyuman tipis, dia pun terlihat menegakan tubuhnya.


Berliana segera pergi dari sana tanpa kata sedikit pun, dia tidak peduli dengan teriakan Soraya yang memanggil namanya berulang kali. Berliana tidak suka diabaikan, sekalinya dia diabaikan maka dia pun akan mengabaikan.


Dengan berjalan pelan, Berliana memutuskan untuk pergi kelantai atas. Dia lebih memilih untuk tidur, dari pada memikirkan orang yang tidak memikirkannya.


Sementara dilantai bawah, Radja masih terdiam ditempatnya. Tanpa berniat mengejar Berliana yang sudah pergi darinya. Kalau saja Rajasa tidak menggeplak kepala bagian belakangnya, sudah bisa dipastikan kalau Radja tidak akan sadar hingga besok pagi.


"Kenapa Ayah memukul kepalaku?" protes Radja pada Rajasa Ayahnya.


"Kenapa Ayah memukulku lagi?" Radja kembali protes, dan kali ini merasa kesakitan.


"Kenapa kau malah diam saja, susul ratu mu sana! aku tidak mau kalau besok pagi melihat kau di kubur hidup hidup oleh Mama mertuamu! kau pikir si Barata akan membiarkan mu hidup tenang saat dia tahu kalau kau sudah membuat Berlian mereka mena...,aaaww kau menginjak kaki Ayah, bodoh!" Rajasa mengumpat kasar pada Radja diakhir kalimatnya, saat Radja tidak sengaja menginjak kedua kakinya saat pria itu bangkit untuk segera mengejar Berliannya.


"Astaga putramu Sora, bisa bisanya dia menginjak kaki ku yang tersandung kemarin." keluh Rajasa pada Istrinya


"Itu bibit mu juga." balas Soraya tidak mau kalah, sedangkan Ambar hanya tersenyum melihat interaksi antara Ayah dan Ibunya.

__ADS_1


Disaat kedua orang tuanya tengah adu kata, Radja saat ini tengah berlari menuju kamarnya. Dia terlalu shock tadi hingga mengabaikan Sang Ratu yang akhir akhir ini memang sedikit sensitif.


Clek!


Tanpa menunggu lama Radja segera membuka pintu kamar, kedua mata Radja membulat kala melihat Berliana tengah duduk diatas tempat tidur, sembari memotong kuku kakinya. Tidak lupa, saat ini Berliana hanya memakai pakaian dal*amnya saja yang berwarna hitam, kontras dengan kulit putih susunya.


Radja yang masih berdiri dibalik pintu hanya mampu menelan saliva kasar. Apa lagi saat melihat Berliana hanya melirik padanya tanpa minat, Radja semakin gila dibuatnya.


Pria itu menyugar rambutnya kasar, Radja semakin kelabakan kala melihat Berliana bangkit dan berjalan kearahnya.


Tangan Radja yang masih menyugar kepalanya, kini terulur untuk meraih wajah Berliana yang semakin dekat dengannya. Namun ternyata Berliana malah menghindar darinya, wanita itu ternyata hanya meraih handuk kecil yang ada dibelakang pintu. Bukan karena ingin menggodanya seperti biasa, dan itu semakin membuat Radja frustasi. Padahal dia sudah membayangkan kalau Berliana akan menyerangnya duluan, tapi ternyata kenyataan tidak sesuai ekspetasi.


Tanpa Radja ketahui kalau saat ini Berliana tengah menyunggingkan senyuman tipis kala melihat wajah frustasi Sang Radja.


'Emang enak, makan tuh dicuekin, turn on turn on deh.' kekeh Berliana dalam hati.



YAKIN KUAT BANG😂😂😂

__ADS_1


__ADS_2