
"Amor?" Elira yang tengah membuat kopi menoleh, namun keningnya berkerut kala melihat wajah sayu Raga.
"Abang kenapa?" tanya Elira, kala Raga sudah berada didekatnya.
Wanita itu bahkan segera meletakan cangkir kopi yang tengah dipegangnya, satu tangannya terulur untuk mengusap dahi Raga yang sedikit berkeringat.
"Abang demam?" panik Elira.
Elira segera menarik Raga agar duduk dikursi, kedua mata sayu nan bulatnya menatap khawatir pada sang suami. Walaupun mereka belum melakukan hal intim, namun mereka berdua sudah cukup dekat, selama beberapa hari ini.
Raga pun memakluminya, dia tahu kalau sang istri masih trauma dengan kejadian yang pernah menimpanya. Maka dari itu, Raga perlahan memulainya, Dia tidak akan terburu buru, Raga akan membuat Elira nyaman terlebih dahulu didekatnya.
"Aku nau ngambil obat dulu, Abang tunggu disini!" ucap Elira, sebelum dia melangkah hendak meninggalkan Raga.
Namun langkahnya tertahan, kala salah satu tangannya ditarik oleh Raga, membuat Elira terhuyung kebelakang dan akhirnya duduk dipangkuan suaminya.
Kedua mata bulat Elira mengerejab, kala kedua tangan Raga melingkar dipinggangnya. Bahkan Elira semakin menahan napas, kala salah satu tangan Raga terulur untuk menyingkirkan anak rambutnya.
"Kamu cantik banget sih?" gumam Raga pelan, bahkan pria yang sudah berusia 41 tahun itu menatap tak berkedip pada Elira.
"Jangan bergerak! cukup diam aja, aku cuma pingin meluk kamu." ucap pelan Raga, pria itu menyandarkan kepalanya dengan nyaman didada Elira. Bahkan hembusan napas hangat Raga, bisa Elira rasakan hingga menembus kaos yang sedang dia pakai.
"Tapi kalau kamu gak nyaman, bilang aja." lanjutnya lagi, Raga mencoba semakin lebih dekat dengan Elira. Mendekatkan tubuh mereka, agar saat tiba waktunya, Elira tidak lagi mengingat kejadian mengerikan itu. Raga akan membuat Elira selalu mengingat sentuhannya, disetiap detik dan napasnya.
__ADS_1
Dikala Raga tersenyum tipis karena ternyata tidak ada penolakan dari Sang Istri, perlahan Elira menaikan tangannya untuk mengusap lembut kepala Raga.
Keduanya larut dalam dekapan hangat satu sama lain, tidak peduli dimana tempat mereka berada saat ini. Raga bahkan memejamkan kedua matanya menikmati sentuhan lembut Elira. Sementara Elira, wanita bermata bulat itu hanya menatap teduh pada wajah Raga, salah satu sudut bibirnya tertarik untuk membentuk sebuah senyuman.
Disaat satu tangannya memeluk kepala Raga, ternyata Elira kembali menaikan tangannya untuk menyentuh wajah suaminya. Jari jari lentik itu menyusuri setiap lekuk wajah tampan hot daddynya ini. Mulai dari rahang, alis, dahi, hidung, dagu dan berakhir dibibir tebal Raga.
"Aku mau kekamar, Amor," ujar pelan Raga.
Elira pun segera menarik tangannya kembali, saat mendengar gumaman Raga. Elira tidak ingin Raga menilainya sebagai perempuan yang agresif, karena sudah berani menyentuh wajahnya tanpa izin.
"Y-ya udah, aku nya turunin dulu." pinta Elira.
Namun ternyata, bukannya menurunkan Elira. Raga malah mengangkat tubuh wanitanya tanpa beban sedikit pun. Elira bahkan sedikit memekik dan segera memeluk leher Raga, saat pria itu menggendong tubuhnya didepan.
Raga hanya menggunakan kedua kakinya, untuk menyusuri satu persatu anak tangga yang dia pijak. Karena kedua matanya tengah sibuk, menatap ciptaan Tuhan yang maha sempurna.
"Kamu boleh menyentuhnya, saat aku membuka mata Amor." ucap pelan dan santai Raga, membuat kedua mata bulat itu membola.
Elira bahkan harus mengalihkan pandangannya kearah lain, kala Raga tidak juga berhenti menatapnya. Bahkan saking salah tingkahnya, Elira lebih memilih memeluk kepala Raga, dan menyembunyikan wajahnya di ceruk leher suaminya.
Entah kenapa, didalam hati Elira saat ini begitu tenang, kala dia berdekatan dengan Raga. Rasa khawatir serta takut bahkan traumanya perlahan memudar, rasa nyaman itu mulai menyelimuti hatinya. Hangat, saat ini yang tengah keduanya rasakan.
"Aku ingin, menjadi istri yang baik buat Abang." ucapan pelan Elira, membuat Raga mengerenyitkan dahinya
__ADS_1
Bahkan sebelum Raga menyahuti, Elira kembali berbicara.
"Jadikan aku, istrimu yang seutuhnya. Semoga kamu tidak kec...," ucapan Elira terhenti kala Raga menarik lehernya, dan tanpa aba aba mencium bibirnya.
"Aku akan melakukannya dengan senang hati, Amor. Tolong jangan berbicara yang tidak penting saat denganku!" ucap pelan Raga, namun terkesan tegas dan tidak ingin dibantah. Elira pun terlihat menganggukkan kepala, bahkan senyuman tipisnya terbentuk sebelum dia kembali memeluk kepala dan leher Raga.
**SENYUM LU BANG HEH! AWAS LU YAK GAK NGASIH PAJAK MA OTHOR
YUHUUUUU KAYAKNYA CERITA CIA BESOK INSYA ALLAH UDAH ON GOING
GAK SABAR YA
TAHAN TAHAN TAHAN HEMBUSKAN
OKE JANGAN LUPA LIKE VOTE KOMEN HADIAH DAN FAVORITNYA
SEE YOU TOMORROW
JANGAN TANYA KENAPA UPNYA CUMA 3 BIJI DOANG, OTHOR LAGI NULIS CIA MA SI LESUNG PIPI
__ADS_1
BABAYYYY MUUUUAAAACCCHHH**