Duku Mateng(Duda Kuat Mapan Dan Ganteng)

Duku Mateng(Duda Kuat Mapan Dan Ganteng)
Berjanji


__ADS_3

Setelah makan siang, Berliana meminta Radja untuk membawanya pulang kerumah. Bahkan Berliana meminta Radja untuk tidak bercerita apa pun pada Soraya dan Rajasa soal kemalangan yang menimpanya.


Sebenarnya Radja sempat protes,namun karena Berliana malah hendak menangis kala melihat Radja keluar dari mobil untuk memanggil Soraya Ibunya, akhirnya pria itu mengurungkan niat.


Dan saat ini, setelah Radja memutuskan untuk kembali kekantor, Berliana terlihat tengah mondar mandir didalam kamar. Wanita itu terus saja mengigit kukunya gemas, ada hal yang harus dia selidiki saat ini, namun masih ada keraguan didalam hati. Karena dia yakin, ada seseorang yang saat ini tengah mengincar nyawa dia atau bahkan Sang Radja


"Aku yakin, Disha pasti ninggalin sesuatu buat Lora atau Radja sebelum dia meninggal. Tapi kalau sampai dia gak ninggalin apa pun, parah banget tuh perempuan." Berliana terus saja bermonolog sendiri, kedua matanya mengarah pada lemari penyimpanan berkas penting milik Radja.


Dengan memantapkan hati, Berliana melangkah menuju lemari. Kedua tangan tidak sabaran untuk membukanya. Namun setelah lemari itu terbuka lebar, Berliana bingung harus mulai dari mana.


"Tapi, apa Disha pernah tidur dikamar ini? kenapa aku gak pernah tanya sama Radja." monolognya lagi sembari membolak balikan tumpukan map dihadapannya.


Berliana menghela napas lelah kala tidak menemukan apa pun disana, kedua matanya terus saja memindai seluruh sudut kamar ini. Dahinya berkerut kala kedua mata Berliana melihat sebuah kotak kecil diatas lemari pakaiannya.


Secepat mungkin wanita itu menarik kursi kecil yang ada dimeja rias. Dengan susah payah Berliana menggapai kotak berwarna coklat itu dari atas lemari. Karena tinggi lemari dan tinggi tubuhnya sangat jauh berbeda, Berliana harus berjinjit.


"Dikit lagi," bisiknya

__ADS_1


Tangan Berliana terasa kebas, namun dia terus saja berusaha menggapainya.


Grep!


"Dapat!" pekiknya pelan


Namun saat Berliana ingin menarik kotak itu, salah satu kakinya tidak menginjak kursi alhasil tubuhnya bergoyang dan Berliana jatuh kelatai bersama kotak yang berhasil dia raih tadi.


Brak!


Suara kotak kayu itu terjatuh, bersama suara ringisan Berliana. Wanita itu mengelus bok*ongnya yang sakit karena jatuh menimpa lantai.


Antara ragu dan penasaran, Berliana membuka kotak itu dengan sempurna. Dahinya berkerut kala melihat begitu banyak tulisan tangan seseorang.


"Surat? masih ada ya orang jaman sekarang mengirim surat?" Berliana membolak balikan kertas-kertas itu, perlahan Berliana membuka salah satu amplop.


"Untuk Saradha Lora Dewangga Malik, putriku." Berliana mulai membaca satu persatu kata yang tertulis disana.

__ADS_1


"Maafkan Ibu karena sudah membuatmu lahir kedunia kejam ini. Dunia yang tidak pernah mengingingkan kita. Bahkan keluarga dan Ayah kandungmu meninggalkan Ibu sendiri disini. Mungkin kalau saja tidak ada keluarga Radja, yang kini menjadi Ayahmu, Ibu tidak tahu bagaimana nasib kita. Hamil diluar nikah, ditingalkan Ayah kandungmu begitu saja tanpa sepatah kata pun, bahkan Ibu yakin kalau kita akan dikucilkan oleh keluarga kita sendiri saat mereka tahu, karena Ibu tengah menanggung aib untuk keluarga Malhotra." suara Berliana tercekat kala membaca satu persatu kata yang ada diatas kertas.


"Ibu hanya berpesan padamu, jangan pernah meninggalkan Radja, Ayahmu. Karena hanya dia yang akan menyayangimu dengan tulus, sama seperti dia yang mau dan sudi menerima Ibu mu yang sudah kotor ini. Maaf, Ibu tidak bisa menemanimu tumbuh besar hingga menikah, tapi Ibu yakin kalau nanti akan ada wanita baik yang akan menyayangimu serta Ayahmu dengan tulus. Tidak peduli apa pun status kalian, Ibu sudah tidak kuat Radha. Ibu tidak kuat menahan rasa bersalah Ibu pada Radja dan keluarganya. Apa lagi saat tahu kalau Ayah kandungmu meminta Ibu kembali padanya, Ibu tidak akan pernah menyerahkanmu pada pria itu, setelah apa yang dia lakukan pada kita berdua." Berliana membekap mulutnya sendiri saat isakanya tidak tertahan lagi.


Salah satu tanganya mengusap kasar air mata yang tiba tiba saja keluar dari kelopak matanya.


"Sekali lagi Ibu minta maaf, karena tidak bisa menemanimu. Ibu sengaja tak acuh padamu agar kamu tidak selalu bergantung pada Ibu, Ibu tidak mau kamu merasa kehilangan. Maka dari itu, Ibu selalu mengabaikanmu dan Radja. Untuk Radja, terimakasih sudah menjadi malaikat dalam hidup kami berdua, aku hanya berdoa agar kamu segera menemukan kebahagian mu yang sebenarnya. Berjanjilah, berjanjilah kalau kamu tidak akan pernah menyerahkan Radha pada siapa pun, termasuk pada keluargaku atau pun Ayah kandungnya. SALAM SAYANG, DISHA DEWANGGA MALIK" seluruh isi surat itu sudah Berliana baca, dadanya terasa sedikit sesak setelah mengetahui semua rasa yang pernah dirasakan oleh mantan istri suaminya.


"Aku berjanji, aku berjanji tidak akan pernah menyerahkan putrimu pada siapa pun Disha, termasuk pada Ayah kandungnya. Aku yang mewakili suamiku untuk berjanji padamu." monolog Berliana



**DISHA DAN RANVEER


YUHUUUU JANGAN LUPA LIKE VOTE KOMEN HADIAH DAN FAVORITNYA


SEE YOU NEXT TOMORROW

__ADS_1


BABAYYYY MUUUUAAACCHHH**


__ADS_2