
Kedua kelopak mata Berliana berkedut, saat Agatha mengoleskan sedikit minyak angin diujung hidungnya. Perlahan kedua mata hitam bening itu terbuka, Berliana mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan yang tengah dia tempati saat ini.
'Kamar?' batinnya
Berliana mengerenyitkan dahinya saat dia menyadari kalau saat ini tengah berada didalam kamarnya sendiri. Bukannya tadi dia berada dilantai bawah, dipanggil oleh Papanya, lalu disana dia juga bertemu...
'Radja?' batin Berliana kembali berbisik.
Kedua matanya membulat sempurna saat melihat Radja ternyata juga ada didalam kamarnya saat ini. Duda gondrong itu tengah menatapnya khawatir, bahkan selama Berliana tidak sadarkan diri Radja terus saja berdiri dibelakang Barata.
"Kamu kenapa sayang? kamu di apain sama Papa tadi?" Agatha segera mencecar Berliana dengan pertanyaan saat wanita itu sudah mampu untuk duduk.
"Bell?" panggil Agatha kembali.
"B-Bell gak apa apa Ma, Papa gak ngapa ngapain kok, cuma ngasih tau semua keburukan Bell ke Radja aja." Berliana menundukkan wajahnya, kedua tangannya meremas selimut tebal bermotif pisang dan berwarna kuning cerah.
"Radja?" Agatha mengerenyitkan dahinya, ibu dari dua orang anak itu menoleh pada Bara yang tengah berdiri dibelakangnya.
"Jadi pemuda itu namanya Radja?" Agatha kembali bersuara, namun kali ini dia menampilkan senyuman jahil pada Berliana. Apa lagi saat melihat putri kesayangannya ini menganggukkan kepalanya malu malu.
__ADS_1
"Oke sekarang Mama paham, kenapa kamu gak ngebolehin kita makan buah pisang yang ada di dapur." Agatha bangkit dari duduknya, senyuman jahil masih terpatri apik dikedua sudut bibir miliknya.
Sedangkan Berliana segera menatap memelas pada Mamanya, ayolah jangan bahas Pisang Raja saat ini. Apa lagi ada Radja saat ini, bisa bisa Radja tambah ilfil padanya nanti.
"Ada yang mau kalian jelaskan pada kami berdua?" Agatha menaikan sebelah alisnya pada Radja, kini wanita tangguh si sexy milik Barata itu menatap penuh tuntutan pada si duda gondrong.
Radja pun terlihat mendekat beberapa langkah pada Agatha dan Bara, pria berambut gondrong berkulit sedikit coklat itu menyempatkan diri untuk melirik pada Berliana yang tengah menggigit boneka pisangnya gemas.
"Saya Radja Dewangga, pria berstatus duda beranak satu. Mungkin itu salah satu kekurangan saya, diantara kekurangan saya yang lain, dibandingkan dengan Queen yang lebih dari kata sempurna. Saya mencintai putri kalian, apakah saya diizinkan untuk mencintai dan membahagiakan Queenza?"
Radja menatap kedua orang tua Berliana dengan dalam, dikedua mata hazel miliknya sama sekali tidak ada keraguan saat mengatakan semua isi hatinya.
Agatha menghela napasnya kasar, dia tidak tahu harus menjawab apa. Apakah dia akan mengizinkan Berliana menjalin hubungan bersama Radja? lalu kalau memang dia mengizinkannya, apa mungkin Bara juga akan mengizinkan Radja menjadi kekasih Berlian mereka?
"Tidak ada manusia yang sempurna di dunia ini, Berlian kami tidak sesempurna yang kamu kira. Dia banyak kekurangannya sama seperti wanita lain, kebiasaan buruknya yang belum kamu ketahui akan menjadi poin minus di matamu suatu saat nanti, kalau kamu sudah mengenal dia lebih dekat lagi. Saya sebagai Mamanya Berlian, hanya ingin yang terbaik untuk kalian berdua. Tidak usah terburu terburu, kalian jalani saja terlebih dahulu, lebih mengenal satu sama lain lebih dalam lagi."
Agatha mengeluarkan apa yang ada didalam hatinya saat ini. Agatha juga tidak bisa langsung menolak atau pun mengiyakan permintaan Radja. Mungkin kalau keduanya diberi kesempatan untuk lebih dekat lagi, tanpa mengungkit status satu sama lain lebih baik bukan.
"Jadi, saya diizinkan untuk lebih dekat lagi dengan Queenza?" Radja bertanya kembali, dia hanya ingin memastikan kalau kedua orang tua wanita yang sudah memporak porandakan hatinya itu memang benar benar memberi kesempatan untuknya.
__ADS_1
Bara bahkan menghela napasnya pelan mendengar Radja bertanya untuk kesekian kalinya.
"Manfaatkan kesempatan ini, dan jangan buat kami berdua kecewa, terutama berlian kami. Karena sekali saja kau membuatnya tergores atau retak, aku tidak segan segan untuk menjauhkan kalian berdua, apa lagi kalau sampai kau membuat Berlianku pecah. Aku pastikan kau tidak akan pernah lagi bertemu dengan Berlian seumur hidupmu!" Peringatan Bara terdengar tidak main main, Bara masih belum percaya sepenuhnya pada pemuda yang tengah tersenyum tipis padanya.
"Anda bisa melakukan apa pun pada saya, kalau saya berani membuat Berlian anda terluka, anda bisa langsung membunuh saya ditempat." Radja melirik Berliana lewat sudut matanya, namun nada bicaranya terlihat tidak main main.
"Bukan suamiku yang akan membunuhmu Tuan Dewangga, tapi aku sendiri yang akan menggali kuburan mu." Agatha tersenyum tipis pada kekasih putrinya.
Kekasih? apa mereka sudah menerima satu sama lain? Entahlah kita lihat saja nanti
**HOLLA MET PAGI EPRIBADEH
PADA NUNGGUIN YA, SAMA🙈🙈🙈
JANGAN LUPA LIKE VOTE KOMEN HADIAH DAN FAVORITNYA
SEE YOU NEXT PART MUUAACCHH**
__ADS_1