
"Maaf Mbak, gaun pernikahan yang ada dilorong sebelah sana, apa masih ada?" tanya Raga, saat ini dia dan Elira sedang berada di butik milik Bunda Anin.
Raga dan Elira menutuskan untuk mencari gaun pernikahan, bahkan Anin membebaskan Elira untuk memilih tanpa perlu membayar. Bunda Anin bilang kalau itu adalah hadiah pernikahan darinya.
"Sepertinya masih ada, mari saya antar Tuan," ujar sang karyawan wanita itu sopan
Raga pun segera mengikuti langkah wanita yang ada dihadapannya, dia bahkan tidak memberitahu Elira yang saat ini tengah melakukan fetting baju.
"Silahkan Tuan, anda bisa melihatnya sendiri, kalau anda butuh bantuan panggil saja." sang karyawan pamit pada Raga yang terlihat lebih tertarik menatap jejeran gaun pernikahan yang terpasang apik disetiap manekin.
Mata pria itu berbinar kala apa yang dia cari ternyata masih ada ditempatnya. Raga segera melangkahkan kedua kaki jenjangnya, mendekat pada manekin.
Satu tangannya terulur untuk menyentuh gaun, lalu perlahan Raga melepaskannya. Senyum terus saja mengembang kala melihat gaun indah dan berat itu sudah ada ditangannya.
"Akhirnya, aku bisa melihat kamu memakainya, Amor," ujarnya pelan
Dengan langkah cepat, Raga segera membawa gaun itu menuju Elira. Senyumnya mengembang, kala kedua matanya terus saja menatap pada gaun yang dia bawa.
"Amor, Abang bawain gaun cantik buat kam...," ucapan Raga terhenti kala melihat Elira tengah memegang dahinya, kedua mata Raga menajam kala melihat siapa yang ada dihadapan dia dan Elira saat ini.
"Apa yang sudah kalian lakukan, pada calon istriku?" suara rendah dan dalam yang dikeluarkan oleh Raga, membuat pria serta wanita itu menoleh padanya.
Rahang Raga semakin mengetat kala melihat dahi Elira memerah, dia yakin kalau dahi calon istrinya terbentur benda keras.
__ADS_1
"Abang, a-aku tidak apa apa, ayo kita cari ruangan lain buat fetting lagi,"ujar Elira pelan, dia segera mendekat pada Raga, yang sudah terlihat menatap pria yang tadi tiba tiba memeluknya tanpa izin.
Hingga membuat wanita yang ada di sebelahnya murka, lalu mendorongnya jatuh dan menabrak pinggiran sofa.
"Aku tanya sekali lagi, apa yang sudah kalian lakukan pada calon istriku?" tanya Raga lagi, tanpa memperdulikan rayuan Elira nya saat ini.
"Calon istri?" akhirnya pria itu bersuara, pria yang tidak lain tidak bukan adalah Arjuna, terlihat menatap tidak suka pada Raga.
"Jadi hanya karena pria yang usianya jauh diatasmu, kamu menolakku Lira? kamu lebih memilih pria tua ini dari pada aku? padahal kamu tahu sendiri, kalau hanya aku yang pertama kali menyen...," ucapan Arjuna terhenti kala Raga tiba tiba mencekik lehernya dengan sebelah tangan.
"Aku sarankan, agar kau tidak perlu melanjutkan ucapanmu! karena, kalau sampai Amor'ku menangis lagi karena ucapanmu ini, bersiaplah untuk lebih memperkuat MALIK GROUP mu, karena aku tidak bisa memastikan kapan virus masuk kedalamnya, lalu data data perusahaan kebanggaan keluargamu itu, wus menghilang seketika dalam hitungan menit. Apa kau dan keluargamu sudah siap untuk hidup dijalanan? atau bahkan pulang kampung ke negara asalmu, hm?" desis Raga tepat didepan wajah Arjuna.
Arjuna sendiri terlihat tengah berusaha melepaskan cekikan Raga dilehernya, sedangkan wanita yang tadi mendorong Elira terus saja memekik meminta Raga agar melepaskan tunangannya.
Sementara Elira terlihat tidak peduli, dia membiarkan Raga melakukan itu pada Arjuna, hatinya mati kala berurusan dengan pria yang sudah menghancurkan hidupnya.
"Hentikan saja sendiri, kalau kau bisa. Aku malah berharap pria ini mati tepat didepan mataku, saat ini juga," ujar pelan serta terkesan santai Elira, membuat Anjeli bahkan Arjuna membulatkan kedua matanya.
"E-lira," gumam Arjuna susah payah
Kedua matanya menatap sendu pada wanita yang sudah dia sakiti, Arjuna bisa melihat begitu banyak kebencian di kedua mata sayu wanita itu kala menatapnya.
"Sudah Bang, jangan kotori tangan kamu. Ayo kita cari ruangan lain, buat fetting baju pengantin kita." ucap pelan Elira pada Raga, bahkan wanita itu segera meraih lengan Raga, agar calon suaminya melepaskan cekikan dileher Arjuna.
__ADS_1
"Ini peringatan terakhir dariku bocah! kalau sampai kau mengusik calon istriku lagi, akan aku pastikan keluarga Malik tidak akan pernah bisa berdiri di negara ini, mungkin selamanya." ucap Raga penuh ancaman, Arjuna terbatuk bahkan pria itu segera menghirup udara sebanyak mungkin kala cekikan dilehernya terlepas.
"Arjun, kamu tidak apa apa?" tanya Anjeli kala melihat Arjuna terbatuk
"Minggir!" ucap dingin Arjuna pada wanita itu
Ucapan Elira masih terngiang ditelinganya, Arjuna segera keluar dari butik tanpa memperdulikan panggilan Anjeli.
'Aku malah berharap pria ini mati, tepat didepan mataku, saat ini juga'
Kata kata Elira itu terus saja berputar dikepalanya, bahkan Arjuna masih terbatuk karena cekikan Raga tadi.
"Sebegitu bencinya kah kamu padaku, Lira? apa dengan aku mati, kamu mau menerimaku lalu memaafkan aku?" monolog Arjuna terdengar sangat frustasi
**NENG OTHOR ANTER PULANG YUK JUN, KITA JALAN KAKI TAPI YA
YUHUUUUU JANGAN LUPA KLIK LIKE VOTE KOMEN HADIAH DAN FAVORITNYA
__ADS_1
SEE YOU NEXT TOMORROW
BABAYYYY MUUUAAACCHHH**