
"Mereka keluarga mantan istri kamu?" Berliana bertanya tanpa menatap pada Radja yang tengah duduk disisi tempat tidur. Sedangkan Berliana terlihat lebih asik mengusap pipi gembul Lora yang tengah tertidur diranjang kecilnya.
"Iya, mereka Ayah serta Kakak pertama Disha." jawab Radja seadanya, pria itu terlihat masih kalut mendengar ucapan mantan Ayah mertuanya.
Berliana hanya menanggapi dengan mengangguk, dia tahu seberapa besar rasa sayang Radja pada Lora. Andai pun seumpanya suatu saat, datang sebuah rintangan didalam perjalanan cinta mereka, lalu Radja dihadapkan oleh dua pilihan antara nemilih dia atau Lora, Berliana sudah tahu jawabannya. Radja pasti akan lebih memilih Lora dari pada dirinya.
Berliana semakin menipiskan bibir, bukannya pesemis atau ragu dengan rasa cinta dan sayang yang Radja berikan padanya. Namun menyiapkan semua dari awal lebih baik bukan.
"Aku mau beresin baju dulu ya?" ucap Berliana pelan, kedua sudut bibirnya masih mengembang. Kedua kaki jenjangnya melangkah menuju tumpukan barang miliknya yang belum dibereskan.
Berliana menghela napas kasar, salah satu tangannya mulai membuka resleting koper. Namun saat dia hendak mengeluarkan salah satu barang pribadinya, sebuah tangan menahannya.
__ADS_1
Berliana mendongak, keningnya berkerut kala melihat Radja menatapnya dengan dalam. Bahkan suaminya sudah mensejajarkan diri dengannya.
"Jangan pernah ragu padaku Queen!" ucap Radja tiba tiba, bahkan salah satu tangannya terulur untuk mengusap kerutan di dahi sang Ratu, saat melihat Berliana mengernyit heran.
"Rasa sayangku padamu dan Lora itu sama saja, aku tidak akan pernah membedakan kalian. Bahkan mungkin kamu lebih spesial di hati serta mataku." lanjut Radja, kedua tangannya menangkub wajah Berliana.
Bahkan Radja memberikan kecupan lembut di dahi serta bibir sang Ratu. Dengan sekali tarik Radja berhasil membawa tubuh Berliana kedalam dekapannya.
Wanita itu melepaskan dekapan Radja, kedua netra hitam beningnya menatap kedua netra hazel yang tengah menatap lembut padanya. Tanpa ragu, Berliana segera meraih wajah Radja dengan kedua tangannya, Berliana mencium bibir Radja terlebih dahulu tanpa ragu. Sebuah ciuman lembut, tanpa terburu buru. Berliana ingin merasakan betapa lembut sentuhan bibir Radja.
Radja yang ikut terbuai pun, segera memangku tubuh Berliana. Kini wanita itu duduk diatas kedua pahanya, bibir mereka masih saling bertautan tanpa ingin mengakhirinya. Ini terlalu manis dan nikmat, bahkan sekarang salah satu tangan Berliana sudah menekan tengkuk Radja agar pria itu semakin memperdalam cumbuannya.
__ADS_1
"Kalau memang kamu tidak bisa memilih antara aku atau pun Lora, dan memilih mengorbankan diri untuk kita berdua, aku akan lebih memilih ikut dengan mu, Radjaku." bisik Berliana disela sela ciuman mereka.
Dengan napas yang tidak teratur, Berliana dan Radja kembali saling membelit lidah. Menyalurkan rasa yang sedang mereka rasakan saat ini.
"Dan aku, aku tidak akan pernah membiarkan Diamond ku tergores, apa lagi retak." bisik Radja tepat didepan bibir Berliana kala mereka sudah mengakhiri ciuman panas selama beberapa menit..
Keduanya saling tatap, perlahan kedua sudut bibir mereka terangkat membentuk senyuman lebar. Saking larut dalam dunia mereka sendiri, Radja dan Berliana tidak sadar kalau Lora sudah bangun, dan kini tengah bertepuk tangan sendiri sembari berdiri diatas tempat tidurnya.
"Papa, Bell na Ola." panggil Balita cantik itu.
__ADS_1