
"Ciee yang mau jalan sama duda." Gavyn yang biasa pendiam tiba tiba saja meledek Berliana yang baru saja turun kelantai bawah.
Bara dan yang lainnya mengerenyitkan dahinya mendengar bocah sepuluh tahun itu meledek sang Kakak.
'Tumben sekali?' pikir mereka
"Wah kesurupan apa si kulkas 35 pintu bisa ngeledek Kakak pagi pagi, muuuaacch!" Bukannya marah Berliana malah mengecup gemas pipi adik satu satunya.
"Beliin Gavyn PS 5 ya." Gavyn membalas kecupan Berliana dipipi sang Kakak, bocah itu menampilkan senyumannya yang biasa dia tunjukan kalau sedang ada maunya.
Dan benar saja, pagi ini Gavyndra meminta sebuah PS 5 pada Berliana, bahkan senyuman Berliana surut setelah tahu akal bulus si Putra Mahkota.
"Minta sana sama Papa!" Berliana memutar bola matanya malas, adiknya kesayangnya itu memang selalu membuatnya gemas gemas pingin nabok.
"Katanya, Papa udah gak punya duit, Gavyn suruh minta sama Kakak, kalau gak Gavyn minta sama Kak Duku saja, kata Papa." Gavyn berkata dengan polos dan apa adanya membuat Berliana menatap sang Papa sembari mengelengkan kepalanya.
__ADS_1
"Astaga dragol ball, belum jadi suami aja duda gondrong Bell udah kalian porotin, jangan lah kasihan, kalian tega banget sih sama Duku Mateng kesayangan Bell. Udah nanti Kakak beliin, Papa udah bangkrut kali makanya duitnya abis!" Berliana mengigit gemas roti isinya, bahkan dia mengunyahnya dengan cepat.
Barata yang melihat interaksi kedua anaknya hanya terkikik geli, dia hanya jahil pada sang putri. Ternyata segitu cintanya Berliana pada Radja, Bara pun sempat tertawa saat Agatha menceritakan bagaimana pertemuan antara Radja dan Damar sang Ayah kemarin.
Saat Agatha menceritakan kalau Damar menyarankan untuk memberikan 100 hektar perkebunan pisang Raja untuk mas kawin Berliana, Bara tidak kuat untuk menahan tawanya. Ayahnya itu memang ada ada saja, Bara yakin kalau kekasih putrinya itu tertekan oleh ulah sang Ayah dan Gentala adiknya.
"Ma Pa Bell berangkat dulu ya, kayaknya Radja udah didepan." Berliana memasukan setengah potong roti milik Gavyn kedalam mulutnya.
"Bell, Elira gimana? bukannya dia mau jadi asisten Cia?" Agatha mengingatkan Berliana kalau Elira bekerja hari ini di DIAMOND QUEEN.
"Hush, anak ganteng gitu dibilang bencong, pamali." Agatha memperingati Berliana yang sudah berlari kecil meninggalkan mereka semua.
"Mau PS 5 aja harus berkorban susu coklat sama roti isi dulu, Mama Gavyn masih lapar!" Gavyn menyodorkan piring dan gelas kosongnya pada Agatha.
"Sebentar ya Sayang Mama bikinin dulu," Agatha mengelus kepala putra bungsunya, sementara Bara terkekeh sembari merangkul Gavyn saat melihat wajah memelas bocah 10 tahun itu.
__ADS_1
"Buat Lira, karena si Owner sudah bilang kalau Juan asistennya bakal jemput kamu, jadi tunggu saja dirumah." Ujar Bara yang terkesan penuh wibawa.
"Iya Pak Cik, nanti Lira nunggu asisten Berlian saja." Wanita yang usianya lebih tua beberapa bulan dari Berliana itu bangkit dari duduknya, dia meraih piring piring kosong bekas sarapan keluarganya lalu membawanya kearah dapur.
"Ibu sama Bapak cuma bisa bilang terimakasih sama kamu, Tata dan Berlian, karena sudah mau memberi perkerjaan buat Lira. Kalian tahu sendirikan seperti apa hidupnya selama ini, semenjak Alvian menikah lagi saat Lira berusia 2 tahun, Alvian tidak pernah sekali pun peduli dengan putrinya. Alvian lebih fokus pada keluarga barunya, bahkan Elira harus kerja serabutan saat dia SMA karena tidak mau merepotkan Ibu sama Bapak. Ibu sama Bapak cuma mau berpesan, kalau seandainya nasib baik tidak berpihak pada kami, tolong jaga Elira. Karena hanya kalian keluarganya saat ini, keluarga Papa nya tidak ada yang mau mengakuinya, bahkan Pak Aryo pun sudah tidak pernah melihat Elira lagi selama beberapa tahun ini." Rina menyeka air matanya yang lolos begitu saja, dia tidak pernah bisa membayangkan betapa malangnya nasib anak itu.
Ibunya meninggal saat melahirkannya dan Papanya tidak lagi memperdulikannya. Bahkan Elira pernah berkata, dia sangat malu pada Tantenya Agatha kala dia mengingat kelakuan almarhum sang Ibu yang diceritakan oleh para tetangga rumah padanya, dan rasa malu itu timbul kala Elira bertemu dengan keluarga Barata. Maka dari itu Elira memilih diam dan menghindar saat Berliana mengajaknya bicara atau pun bermain saat mereka berkunjung ke Bengkulu.
"Ibu tenang saja, Aku dan Atta akan memberikan kehidupan layak untuk Elira, dia akan berdiri dikakinya sendiri, dan apa bila Ibu atau Bapak bertemu dengan Ayahnya Elira, tolong sampaikan padanya, jangan pernah ada penyesalan dikemudian hari, karena semua itu sudah tidak berarti." ujar Bara penuh penegasan
**YUHUUUUU JANGAN LUPA BUAT LIKE VOTE KOMEN HADIAH DAN FAVORITNYA
SEE YOU NEXT TOMORROW
__ADS_1
BABAYYY MUUUUUAAAAACCCHHHH**