
Berliana menatap takut takut pada pria yang tengah memperhatikannya penuh intimidasi.
Berliana tidak menyangka saat dia dan Elira menggosipkannya didapur, pria yang terkenal dengan kata kata super pedasnya itu sudah berada diambang pintu sembari bersidekap dada.
"Sekarang diem, mana yang nyalinya sok gede tadi. Beraninya cuma ngomongin pas gak ada orangnya, udah ada orangnya gak punya nyali. Makanya kalau mau ngebacot lihat kanan kiri, bodoh!" ucap enteng pria itu
Berliana hanya mengelus dadanya dramatis, pria ini memang tidak memiliki filter dipita suaranya. Galaska Gavy Renendra pria sejuta pesona yang membuat begitu banyak wanita patah hati karena sikap serta ucapannya.
Gala paling anti berdekatan dengan gadis atau wanita asing. Hanya para kaum hawa keturunan Damarta lah yang mampu menjangkaunya.
"Apa kau lihat lihat?! kau juga tadi ikut membicarakan aku bersama si Batu ini kan? berasa cantik kau huh?" Gala menampilkan wajah songongnya pada Elira yang sedari tadi sudah merapatkan tubuhnya pada Agatha.
Lovy dan Mace Reina menepuk dahinya sendiri kala melihat sikap Gala yang benar benar galak. Lovy rasa putra tampannya itu akan menjomblo samapai waktu yang tidak bisa ditentukan oleh waktu.
__ADS_1
"Bang, jangan galak galak ngapa sih heran. Tolong sehari aja jangan judes sama orang apa lagi sama cewek, Cia doain Abang dapet cewek yang galaknya ngalahin Abang, terus Abang bucin sebucin bucinnya sama dia gak ada obat!" Cia menyumpah serapahi sang Kakak yang memang terlalu menyebalkan untuknya.
Namun apa tanggapan Gala, pria itu mengangkat bahunya tak acuh mendengar ucapan sang adik.
"Oh iya, Mace denger Bell udah punya ehem ehem ya?" Mace mulai menyairkan suasana, wanita paruh baya itu melirik pada Berliana yang tengah pura pura mengotak ngatik ponselnya kala Gala terus saja mengintimidasinya.
Berliana mengangkat kepalanya, kedua matanya malu malu saat melirik pada Mace Reina. Namun tak urung juga dia menganggukan kepalanya pelan.
"Siapa? kenapa gak dikenalin sama Mace? ih padahal Mace udah nungguin lama banget sampai kamu punya pacar Bell." Mace Reina berdecak
"Mace juga udah kangen sama si bujang lapuk, kapan coba dia mau nikahnya? dideketin sama cewek diSpanyol aja dia lari kayal dikejar bencong taman lawang." Reina menggelengkan kepalanya miris, entah kenapa putra bungsunya itu memilih untuk tidak menikah sampai sekarang. Kalau berpacaran, Reina sangat tahu kalau Raga pernah menjalin cinta dengan banyak wanita saat sekolah, bukan sekarang.
"Itu karena Om Raga gak mau ribet sama kayak aku, cewek itu ribet bikin pusing. Mending jomblo tapi happy, dari pada punya pacar selalu makan hati." sudut mata Gala melirik pada Berliana dan Cia yang tengah menatapnya malas.
__ADS_1
"Jomblo kok bangga." sahut Cia
"Gak laku kok bangga." Berliana pun ikut menyahuti
"Keburu expayer tuh pisang, kalo udah tua gak enak, kematengan." tambah Berliana makin menjadi
Cia tergelak mendengar ucapan kakak sepupunya, Berliana memang tidak pernah menerima kalau Gala menang saat mereka berdebat.
"Setidaknya punyaku masih tersegel rapih!" ucap Gala tidak mau kalah
"Rapih dari mananya, kalau tiap hari dicabulin sama sabun!" timpal Berliana tidak mau kalah.
Kedua orang itu saling balas tidak mau ada yang mengalah. Tanpa mereka sadari Elira terasenyum miris kala mengingat kondisinya saat ini. Akankah nanti akan ada pria yang mau menerima dirinya yang sudah cacat ini.
__ADS_1