Duku Mateng(Duda Kuat Mapan Dan Ganteng)

Duku Mateng(Duda Kuat Mapan Dan Ganteng)
Rasa Bersalah


__ADS_3

Arjuna terus saja menatap lekat pada kartu tanda pengenal wanita yang sudah dia nodai. Tangannya mengusap lembut, namun sekejab dia mencengkramnya erat.


"Elira Dianty?" Arjuna menggumankan nama itu berkali kali, bahkan panggilan dari luar kamarnya sama sekali tidak bisa membuatnya terusik.


"Arjun? Sayang, makan malam dulu Nak!" suara Tiara sang Mama membuat pria itu mengusap kasar wajahnya.


Arjuna kembali memasukan kartu tanda pengenal itu kedalam sling bag, dan menyimpannya di bawah bantal.


"Ya Ma!" sahut Arjuna


Dengan malas pria itu keluar dari dalam kamarnya, dia tidak ingin membuat sang Mama khawatir. Namun rasanya dia malas sekali bertatap muka dengan wanita sialan yang sudah membuatnya melakukan kesalahan besar pada wanita yang tidak berdosa.


"Hai Arjun!" Anjeli tersenyum manis pada Arjuna yang baru saja turun, senyuman manis yang ditampilkan oleh Anjeli membuat Arjuna ingin sekali menyiramkan air mendidih kewajah Anjeli. Kalau saja ada kesempatan, mungkin Arjuna akan mencobanya.


"Kenapa dia ada disini?" Arjuna tidak menanggapi Anjeli yang terus terusan tersenyum padanya, dia terlalu muak menghadapi iblis betina ini.


"Pertunangan kalian kan akan dilaksanakan minggu depan, jadi mulai saat ini Anjeli akan tinggal bersama kita disini Sayang." Tiara membelai punggung putra tunggalnya saat Arjuna menatap tidak suka pada calon menantunya.


"Terserah! kalian memang selalu memutuskan segalanya tanpa persetujuan Arjun bukan!" Arjuna dengan malas melahap makan malamnya, tenggorokannya terasa tercekat kala teringat dengan wanita yang sudah dia nodai. Tangisan pilu nan lirihnya terus saja terngiang ngiang diotaknya, bahkan Arjuna hampir saja tersedak karena pikirannya sedang tidak tenang.


'Elira?' gumamnya dalam hati

__ADS_1


Arjuna menatap kosong kedepan, dan itu tidak luput dari Anjeli yang diam diam menatapnya.


'Aku penasaran, dengan cara apa Arjun menuntaskannya? obat yang aku beri terlalu kuat, aku yakin Arjun tidak akan kuat menahannya. Apakah dia bermain dengan ja*lang? atau bahkan..., tidak tidak! aku tidak akan membiarkan wanita manapun datang lalu mengaku ngaku kalau dia tengah mengandung darah daging Arjunaku!' Anjeli terus saja bermonolog sendiri didalam hatinya, kedua netranya tidak lepas sedikit pun dari gerakan bibir calon tunangannya.


'Sial! aku cemburu saat membayangkan Arjuna bercinta dengan wanita lain! awas saja kau!' teriak hati Anjeli


"Apa kau bisa kenyang dengan terus memandangi begitu?" suara Arjuna membuat Anjeli tersadar, wanita cantik itu mengerejabkan matanya berkali kali saat Arjuna menatapnya heran.


"Ah iya, kamu terlalu mempesona untuk dilewatkan Arjun." Anjeli tersenyum kikuk padanya, dan itu membuat Arjuna berdecih didalam hatinya.


'Kalau saja yang tersenyum manis itu Berliana atau wanita yang bernama Elira, mungkin aku akan terpeso...,' Arjuna menggaruk kepalanya frustasi kala dia kembali teringat dengan wanita itu. Bahkan bisa bisanya dia membandingkan sang Berliana dengan wanita itu.


Tak!


"Kau baik baik saja, Arjun?" Rohid ikut angkat bicara saat dia melihat kekalutan cucunya. Sebenarnya sedari tadi Rohid sudah melihat gelagat Arjuna, namun pria berusia 65 tahun itu masih diam.


"Em ya, aku baik Kek. Mungkin karena perkerjaan kantorku yang masih nenumpuk jadi aku butuh sedikit istirahat. Kalau begitu aku permisi kekamar dulu Kek Ma Pa!" Arjuna mendorong pelan kursi yang tengah dia duduki kebelakang. Pria itu segera meninggalkan anggota keluarganya yang masih mengerutkan dahinya melihat sikap Arjuna.


"Ada apa dengan cucuku? apa kau terlalu memforsirnya untuk bekerja Ray?" Kini Rohid menatap penuh selidik pada Putra keduanya.


"Tidak ada yang memforsir Arjun Ayah, mungkin Arjun sedang lelah, sudahlah biarkan saja." ucap Rayhan santai, dan itu ditanggapi anggukan oleh Rohid.

__ADS_1


"Biarkan dia istirahat beberapa hari ini, aku tidak ingin cucuku sakit saat pesta pertunangannya nanti dengan Anjeli!" tegas Rohid


"Ya ayah!" Rayhan menurut saja apa yang dikatakan sang Ayah.


"Em Paman, Bibi, Kakek, aku ingin melihat keadaan Arjun terlebih dahulu." Anjeli menyeka mulutnya menggunakan tissue, setelah berpamitan wanita itu segera meninggalkan calon anggota keluarga barunya.


Anjeli melangkah yakin saat menaiki satu persatu anak tangga yang mengarah kekamarnya dan kamar Arjuna.


Sesampainya dia didepan pintu kamar Arjuna, Anjeli tidak ragu untuk mengetuk pintu itu. Senyumannya mengembang kala dia mendengar suara handle pintu diputar seseorang dari dalam.


Cleek!


"Arjun, aku ma...,"


Grep!




ANJELI

__ADS_1


HAYOLOH, NANGIS KAN


__ADS_2