Duku Mateng(Duda Kuat Mapan Dan Ganteng)

Duku Mateng(Duda Kuat Mapan Dan Ganteng)
Bicara Empat Mata


__ADS_3

"Siapa Bik?" tanya Elira yang baru saja turun dari lantai atas, sedari tadi wanita itu memilih berbagai macam model make up dari mulai korea hingga ala timur tengah, yang ditawarkan oleh Bunda Anin, dari para MUA profesional.


"Kita lihat saja langsung!" sahut Agatha, wanita itu bahkan segera mendahului semua orang yang tengah saling tatap, bahkan Agatha pun meninggalkan Bara yang masih bersusah payah menghapus make up tebal diwajahnya. Begitu pula dengan Genta dan Damar sang Ayah, Radja pun mendes*ah lega kala melihat Berliana menjauh darinya, mengikuti langkah Sang Mama mertua.


"Saya mohon, saya hanya ingin bertemu dengan wanita yang bernama Elira, saya ingin berbicara empat mata dengan dia." seorang wanita paruh baya terlihat memohon pada Pak Rahmat, sopir keluarga Prayoga sekaligus suami Bik Sari.


"Mohon sabar ya Bu, istri saya sedang memanggil Non Lira. Silahkan Ibu duduk dulu disini," ujar Pak Rahmat pelan, bahkan pria paruh baya yang sudah memiliki tiga orang cucu itu menggeser satu kursi untuk wanita itu.


Agatha mengerenyitkan dahi, kala mendengar serta melihat Pak Rahmat, tengah berinteraksi dengan wanita yang tidak asing baginya.


"Pak Rahmat?" panggil Agatha


Seakan sudah mengerti, Pak Rahmat segera menganggukkan kepala pelan pada Agatha, lalu meninggalkan sang Nyonya dan wanita tadi.


"Ada yang bisa saya bantu, Nyonya?" tanya Agatha, dia membuka pembicaraan terlebih dahulu, Agatha juga ikut mendudukkan diri dikursi kosong yang sudah tersedia.


"Saya ingin bertemu dengan Elira!" jawab sang wanita

__ADS_1


Agatha menaikan sebelah alis mendengar ucapan wanita yang berpenampilan glamor dihadapannya saat ini.


"Maaf, ada perlu apa, anda ingin bertemu dengan keponakan saya?" tanya Agatha lagi, kali ini raut wajahnya terlihat begitu sangat penasaran.


"Saya ingin berbicara empat mata, dengannya!" sahut wanita itu yakin


"Baiklah, Nyonya...,"


 


"Tiara!" potong wanita itu cepat


Sedangkan, salah satu tangannya bergerak seolah tengah mengkode seseorang untuk mendekat kearahnya. Benar saja, tidak lama Elira dan Berliana mendekat, kedua wanita itu saling berpegangan tangan dengan erat.


Bahkan Elira terlihat menghembuskan napas kasar berkali kali, sedangkan Berliana, wanita muda itu menatap penuh selidik pada wanita paruh baya yang tengah bersama sang Mama.


'Bukannya, itu tante tante yang memarahi aku dulu di Supermarket, dia juga Ibu si Junaedi kan?' monolog Berliana dalam hati

__ADS_1


'Ngapain dia kesini? mau ketemu Lira lagi, ngapain coba?' lanjutnya lagi masih didalam hati.


"Ada apa Mak Cik?" tanya pelan Elira pada tantenya.


Agatha mendongak untuk menatap Elira, yang juga tengah menatap satar wanita paruh baya dihadapannya. Elira bahkan segera mendudukkan diri diatas kursi, kala melihat Agatha mengkodenya untuk duduk.


"Ada yang ingin berbicara dengan kamu, Mak Cik tinggal dulu, kalau ada apa apa Panggil saja,"ujar pelan Agatha pada Elira, sembari menepuk pundak wanita muda itu.


Agatha sengaja memberikan ruang pada Elira dan Tiara, walaupun tidak sepenuhnya Agatha melepaskan Elira, dari pengawasannya. Agatha segera merangkul lengan putrinya, dan membawa wanita itu ketempat lain.


"Ada perlu apa, anda ingin bertemu dan berbicara dengan saya, Nyonya?" Elira segera membuka pembicaraan mereka berdua, kala melihat Agatha dan Berliana menjauh darinya.


"Tolong temui putraku Elira, aku yakin kalau kau adalah gadis baik.  Arjunaku saat ini begitu terpuruk saat mendapatkan undangan pernikahanmu." ucap panjang lebar Tiara, membuat Elira semakin menatap datar pada Ibu dari pria yang sudah Elira lupakan dari seluruh ingatannya


"Apa peduliku?" ucap dingin Elira semakin membuat Tiara tersudut dan tidak tahu harus berbuat apa saat ini.


__ADS_1



YASMINE ALORA PRAYOGA


__ADS_2