
Suara ketukan pintu membuat Ambar yang tengah bermain bersama Lora, segera menuju pintu utama.
Dahinya berkerut kala melihat ada seorang kurir didepan pintu. Perasaan dia tidak memesan barang online atau sebagainya. Atau mungkin salah satu orang dirumah ini yang pesan?
"Maaf, ada apa ya Mas?" tanya Ambar
"Ada paket dari pengadilan untuk Bapak Radja Dewangga Malik, silahkan tanda tangan disini sebagai tanda bukti." kurir itu menyerahkan pena pada Ambar, tanpa bertanya lagi wanita itu segera membubuhkan sebuah tanda tangan disana.
"Terimakasih, kalau begitu saya permisi." pamit sang kurir dan hanya diangguki oleh Ambar.
Setelah kurir itu pergi, Kedua mata Ambar menyorot pada bungkusan coklat yang ada ditangannya. Keningnya berkerut kala melihat ada logo pengadilan diluar bungkusannya.
Tanpa menunggu lagi, Ambar segera membawa masuk paket itu. Kebetulan Radja dan yang lainnya sedang berada dirumah. Jadi Ambar tidak harus menunggu orang yang bersangkutan lama lama.
"Kakak Ipar?" panggil Ambar pada Berliana yang tengah ikut membantu Soraya memasak, setelah Radja dan Berliana menikah Ambar memutuskan untuk memanggil Berliana dengan panggilan Kakak. Walaupun usia mereka terpaut 2 tahun lebih tua Ambar, tapikan kasta dikeluarga Radja lebih tinggi, jadi Berliana pun berkasta sama dengan Radja sekarang.
"Ya Res."jawab Berliana pelan
__ADS_1
"Ini, ada paket untuk Kak Radja, katanya dari pengadilan." ucap Ambar tenang, namun tidak untuk Berliana dan Soraya. Kedua wanita itu berhenti menggerakkan kedua tangannya setelah mendengar ucapan Ambar.
Berliana bahkan segera meletakan pisau, lalu berjalan mendekat pada Ambar. Berliana segera meraih paket berwarna coklat itu dari tangan Adik iparnya. Dahinya berkerut kala melihat logo pengadilan diluar bungkusan.
Bahkan Soraya pun ikut penasaran, wanita paruh baya itu mendekat pada menantu serta putrinya.
"Apa aku harus manggil Kak Radja?" usul Ambar, Berliana tidak menjawab namun Soraya mengangguk menyetujuinya.
Ambar yang melihat sang Ibu mengangguk, tanpa berlama lama lagi dia segera memanggil Radja dan Rajasa yang tengah mengobrol ditaman samping.
"Kak Radja?" panggil Ambar
"Ada paket dari pengadilan untuk Kakak!" ucapan Ambar membuat Radja dan Rajasa saling tatap, dan tidak lama mereka bangkit dari duduk.
π
π
__ADS_1
π
"Surat apa itu?" tanya Soraya pada putranya yang tengah menatap dalam pada tiap aksara yang ada dikertas itu.
"Surat gugatan hak asuh Lora Bu!" jawab Radja pelan, bahkan secara tidak sadar Radja meremas keras kertas itu hingga tidak berbentuk lagi.
"Gugatan hak asuh? apa Malholtra benar benar menginginkan Lora?" Rajasa kini ikut bersuara, pria itu pun segera merebut kertas kusut yang ada didalam genggaman putranya.
"Bukan Malhotra Ayah, tapi Mehra. Ayah biologis Lora, pria itu menuntut hak asuh Lora. Dia membawa masalah ini kepengadilan, bagaimana menurut Ayah?" Radja terlihat bingung saat ini, pandangannya kosong. Radja sudah menduganya kalau Mehra akan melakukan ini cepat atau lambat.
"Mau bagaimana lagi, kita akan hadapi keluarga Mehra di pengadilan, dan sepertinya mulai saat ini kita butuh bukti bukti untuk memperkuat kita disana nanti. Ayah juga akan menghubungi Satria untuk membantu kita nanti," ujar Rajasa tenang, pria itu bersikap tenang agar putranya juga tenang, tidak mengambil tindakan gegabah. Mau bagaimana pun, Mehra adalah keluarga kamdung Lora. Tes DNA sudah pasti bisa membuktikannya, namun Rajasa tidak akan membiarkan Mehra mengambil hak asuh Lora dengan mudah.
"Apa ini bisa membantu kita dipengadilan nanti?" suara tenang Berliana membuat Radja dan yang lain menoleh kearahnya.
Dahi mereka berkerut kala melihat Berliana membawa sebuah kotak kayu ditangannya.
"Semoga ini bisa membantu nanti," ujarnya tenang
__ADS_1
TATAPANNYA SAYU SAYU BIKINππππ