Duku Mateng(Duda Kuat Mapan Dan Ganteng)

Duku Mateng(Duda Kuat Mapan Dan Ganteng)
Frontal


__ADS_3

Berliana dan Radja terlihat tergesa saat memasuki loby rumah sakit, setelah mendapat informasi dimana Ranveer berada, mereka berdua segera meluncur ke lokasi.


Radja yang tengah menggendong Lora, terlihat tidak sabaran kala lift yang mereka tumpangi mulai bergerak. Bahkan salah satu tangannya, terus saja merangkul pinggang Berliana.


Tidak lama lift berdenting dan berhenti, Radja dan Berliana segera keluar saat pintu lift terbuka lebar. Berliana bahkan menghirup napasnya dalam, kala melihat begitu banyak orang didepan ruangan rawat Ranveer.


"Mereka keluarganya?" bisik Berliana pada Radja


Radja menoleh, lalu menganggukkan kepalanya. Pria itu semakin mengeratkan rangkulannya dipinggang Berliana. Kedua mata hazel itu terus terarah pada orang orang yang juga tengah menatapnya dan Berliana.


"Maaf, apa benar ini ruangan rawat Tuan Ranveer Mehra?" tanya Radja tanpa basa basi


Kedua matanya bergulir untuk melihat seseorang yang tengah ditangani oleh dokter, didalam ruangan sana lewat kaca transparan yang ada dipintu.


"Benar, dan maaf apa anda yang bernama Radja Dewangga?" pria tua itu menatap Radja dari atas hingga bawah, seakan tengah memindai Radja.

__ADS_1


"Iya, saya Radja, ini istri saya dan ini Lora putri saya. Juga putri kandung Ranveer," ujar Radja tenang, karena dia tahu kalau pria ini pasti mengetahui masalahnya dengan Ranveer beberapa waktu yang lalu.


"Iya, aku sudah tahu. Ranveer sudah menceritakannya padaku beberapa hari yang lalu. Semenjak persidangan itu Ranveer terlihat lebih diam dari biasanya, aku sebagai Pamannya hanya prihatin. Aku berharap, semoga Ranveer akan selamat, luka yang dia alami cukup parah, itu yang dikatakan dokter tadi," ujar pelan pria yang mengaku sebagai Pamannya Ranveer.


Radja menatap Ranveer dari balik pintu kaca, didalam sana dokter dan para suster terlihat tengah memasang berbagai alat medis ditubuh Ranveer. Berliana yang penasaran pun, mengikuti tatapan Radja, wanita itu berkali kali menahan salivanya kasar.


Dia tidak bisa membayangkan kalau disana adalah sang Radja, mungkin saat itu juga dia akan kehilangan separuh jiwanya. Berliana benar benar tidak akan sanggup, kalau sampai melihat Radja terluka.


"Ayah?" seruan seorang perempuan membuat Radja dan Berliana menoleh, termasuk juga pria yang mengaku sebagai Pamannya Ranveer


"Bagaimana keadaan Kak Veer, Ayah? apa dia baik baik saja? maaf, aku baru saja mendapatkan kabar dari sekeetarisnya." ucap wanita itu, terlihat khawatir.


Bahkan wajahnya tidak dapat berbohong, kalau saat ini dia memang khawatir pada pria yang tengah ditangani oleh dokter didalam sana. Namun wajah khawatir itu berubah berbinar, kala dia mengalihkan pandangannya kearah lain.


"Pak Radja? anda disini?" tanyanya antusias, bahkan sadar atau tidak wanita yang bernama Meera itu mengikis jarak dengan Radja dan Berliana.

__ADS_1


"Tunggu, apa anda orang yang beberapa hari yang lalu digugat oleh, Kak Veer? aku benarkan?" tebak Meera berbinar, tanpa memperdulikan tatapan sinis wanita yang ada disisi Radja saat ini.


"Wah, aku tidak menyangka kalau anda adalah Ayah tiri keponakanku. Apa dia Saradha? putri kandung Kak Veer?" lanjutnya lagi sok akrab, bahkan wanita ini tidak memberikan ruang untuk Radja, atau pun Berliana menimpali ucapannya.


"Benar." sahut Radja singkat, dia tidak berminat untuk berbicara panjang lebar, dengan wanita yang selalu mencari perhatiannya.


"Loh kamu sama Radja saling kenal? Radja, ini putri tunggal saya namanya Meera." pria tua itu merangkul pundak Meera putrinya, yang tengah tersenyum manis pada Radja.


"Lalat buah, tidak tahu malu!"sarkas Berliana, yang sudah tidak tahan untuk mencabik cabik wajah gatal Meera, kala melihat Radja dengan wajah berbinar.


Meera dan sang Ayah segera mengalihkan pandangan mereka, pada Berliana yang tengah menaikan sebelah alis saat ditatap oleh sepasang Ayah dan anak itu.


"Apa maksud kamu?" tanya pria tua itu


__ADS_1


__ADS_2