
Satu jam berlalu, mobil Alphard putih milik Radja masih terparkir dibahu jalan. Hujan mulai reda, hanya menyisakan gerimis kecil yang lumayan bisa membuat basah saat kita diluar.
Didalam mobil, sepasang sejoli itu masih memejamkan kedua mata mereka. Berliana tertidur sangat lelap didalam pangkuan Radja, dan Radja tertidur sembari menyenderkan tubuhnya dikursi mobil.
Keduanya masih terlelap, belum menyadari kalau hujan tidak sederas tadi. Berliana terlihat menggeliat, wanita itu menduselkan hidungnya pada leher Radja. Menghirup aroma musk yang begitu tercium oleh hidungnya saat ini. Berliana bahkan terlihat menggesekan hidung kecil nan mancungnya pada ceruk leher Radja.
Karena ulah Berliana yang belum sadar sepenuhnya, Radja pun sedikit terusik. Keningnya berkerut, kedua kelopak matanya berkedut lalu tidak lama Radja perlahan membuka kedua matanya.
Awalnya Radja sedikit terkejut saat melihat dirinya tengah memangku seorang wanita, namun rasa keterkejutannya hilang seketika saat melihat siapa wanita yang tengah menduselkan wajah pada ceruk lehernya.
"My Queen?" Radja berbisik pelan ditelinga Berliana, salah satu tangannya terulur untuk menyingkirkan anak rambut yang menghalangi mata wanitanya.
"Lima menit lagi." Tawar Berliana, wanita itu semakin mengeratkan kedua tangannya dileher Radja.
"Mimpinya nyata banget sih?" Berliana berguman pelan, kedua sudut bibirnya terangkat. Entah apa yang sedang dia mimpikan saat ini, yang jelas senyuman Berliana terlihat tengah bahagia.
"Queen bangun! hujannya sudah reda. Kamu mau pulang atau kamu mau kita digedor sesorang sebentar lagi?" Radja masih berusaha membangunkan kekasihnya yang ternyata lumayan susah saat di bangunkan.
"Radja?" Bukannya membuka mata, Berliana malah memanggil nama pria yang tengah memeluknya erat.
"Apa hm?" Radja sedikit menundukan wajahnya untuk melihat Berliana yang tengah menempelkan wajahnya didada bidangnya.
"Kamu bisa jawab lagi, sebenarnya ini mimpi apa real sih? kok nyata banget suaranya?" Berliana terus saja berbicara tanpa mau membuka kedua mata hitam beningnya.
__ADS_1
"Makanya bangun, buka mata kamu Queen! lihat ini nyata apa cuma mimpi kamu saja." Radja membelai sebelah pipi Berliana dengan lembut, perlahan naik dan berakhir di kedua kelopat mata Berliana yang masih menutup.
Perlahan kedua kelopak mata Berliana berkedut, keningnya mengernyit, lalu perlahan kedua netra hitam bening itu terbuka. Pemandangan pertama Berliana saat membuka mata adalah Radja yang tengah tersenyum tipis padanya. Berliana pun tertular senyuman kekasihnya, bahkan sepertinya Berliana belum sepenuhnya sadar.
Satu tanganya terulur untuk mengusap rahang tegas Radja yang mulai ditumbuhi rambut rambut halus. Hingga akhirnya Berliana menegakan tubuhnya menghadap kearah Radja, dia kemudian menaikan sebelah tangannya lagi untuk menangkub kedua rahang Radja.
Sadar atau tidak Berliana mulai mendekatkan wajahnya pada wajah Radja, kedua kening serta hidung sepasang sejoli itu pun bersentuhan. Berliana mengumbar senyuman manisnya sembari kembali memejamkan kedua matanya.
Sedangkan Radja, pria berdarah India Indonesia dan Turki itu terlihat mati matian menahan sesuatu yang mulai memberontak dari dalam dirinya.
Radja mengumpat berkali kali saat Berliana menggesekan ujung hidung miliknya pada hidung Radja. Bahkan saat ini napas Radja sudah terlihat senin kamis, antara ada dan tiada gara gara ulah Berliana. Radja pria normal, dia juga butuh sentuhan seorang wanita setelah Radja memberikan nafkah batinya pada Disha beberapa bulan sebelum wanita itu melakukan bunuh diri.
Radja melakukan itu hanya karena dia tidak ingin Disha merasa diabaikan olehnya. Itulah terakhir kalinya dia menyentuh seorang wanita, hanya menyalurkan hasrat kelelakiannya, tanpa ada cinta, tanpa ciuman, atau pun sejenisnya. Sejujurnya, kalau saja Lora tidak ada diantara mereka mungkin Radja sudah mengakhiri hubungannya dengan Disha. Namun karena dia tidak ingin Lora merasakan kehilangan sosok Papa, Radja lebih mengorbankan perasaannya. Dia berusaha menerima Disha hatinya, mungkin kalau dihidupnya Radja sudah menerima Disha, namun tidak dengan hatinya. Hingga peristiwa itu terjadi, Disha menghilang dari hidupnya bahkan sebelum wanita itu menempati hatinya.
"Queen?" Radja memanggil dengan suara parau
"Hm?" sahut Berliana
"Maaf!" Ucap Radja
Cup
Belum sempat Berliana mengeluarkan suaranya, Radja sudah terlebih dahulu membungkam bibir wanita itu. Berliana membelalakan kedua matanya saat merasakan benda kenyal, lembab dan manis tengah mengobrak abrik bibir tipis merah mudanya.
__ADS_1
Berliana tidak tahu harus berbuat apa, wanita itu hanya terdiam, dia membiarkan Radja menguasinya bahkan pria itu sudah menekan pinggul serta tengkuk Berliana untuk mempedalam ciumannya.
Radja terus saja mengecap setiap inci bibir sang kekasih, marasakan betapa manis serta kenyalnya bibir itu.
"Udah, aku gak bisa napas!" Berliana menarik diri membuat tautan bibir mereka terlepas.
Napas keduanya tersengal, Radja menempelkan keningnya pada kening Berliana yang berkeringat dingin.
"Maaf, a-aku...," ucapan Radja tersendat
Belum sempat Radja melanjutkan ucapannya, Berliana kembali membungkam bibirnya. Kini Berliana yang menguasinya, gerakan bibirnya masih kaku karena ini adalah pertama kalinya dia berciuman lip to lip dengan seorang pria.
"I love you, My King." Gumaman Berliana disela sela ciuman amatirnya.
"Love you more, My Queen." balas Radja
**HOLLA MET PAGI EPRIBADEH
JANGAN LUPA BUAT LIKE VOTE KOMEN HADIAH DAN FAVORITNYA
__ADS_1
SEE YOU NEXT PART MUUUAAACCHH**