
Berliana mengerejabkan kedua matanya cepat, kala mendapatkan pesan dari sang Mama, kalau Elira dan Raga Om nya akan segera menikah.
Wanita cantik itu memukul kepalanya berkali, bahkan sedikit mengerok telinganya, saat mendengarkan pesan suara yang dikirimkan Agatha padanya.
"Mereka mau nikah? kapan jadiannya? kalau tau mereka jadiankan, bisa minta pajak dulu. Traktir makan apa belanja, gitu kan enak." oceh Berliana sembari meletakan ponsenya, lalu Berliana kembali sibuk menyiapkan pakaian tidur untuk Radja, yang masih mandi.
Berliana terlihat masih memikirkan kisah cinta Raga dan Elira yang terkesan, to the poin. Itu bagus sih, dari pada sok sok'an mau tanggung jawab, tapi nyatanya nol besar.
Elira berhak bahagia bukan, apa lagi ternyata Raga sudah mengetahui keadaan Elira saat ini dan pria itu menerima semua yang sudah terjadi pada Elira. Berliana salut pada Omnya, ternyata dibalik sikapnya yang terlihat manja kala bersama Mace Reina, Raga memang sosok pria yang dewasa. Keperawanan Elira bukan segalanya bagi dia, yang terpenting adalah hati.
"My Queen?" panggil Radja, yang ternyata sudah berada dibelakang tubuhnya. Bahkan Berliana sedikit terkejut kala dua buah lengan Radja membelit perut ratanya. Bahkan Radja memberikan sentuhan lembut disana, sedangkan bibirnya terus saja mengecup lembut ceruk leher Berliana.
Berliana yang memang selalu murahan kala Radja menyentuh tubuhnya, mulai terbuai. Berliana memejamkan kedua mata, sembari memeluk leher sang Radja dari belakang tubuhnya.
Rambut Berliana yang dicepol asal,membuat Radja leluasa menikmati setiap lekuk leher dan bahu mulus sang Ratu.
"Apa yang sedang kamu pikirkan,hm?" gumam Radja disela sela kegiatannya
Dengan sekali putar, Radja membalikan tubuh Berliana agar menghadap padanya. Satu tangan Radja terulur untuk menyentuh wajah sang Ratu, bahkan Radja tidak pernah lupa untuk selalu memberikan kecupan sayang didahi Berliana.
__ADS_1
"Om Raga mau nikah," ujar Berliana pelan, bahkan untuk membuka kedua matanya pun dia tidak sanggup.
"Menikah? bagus dong, berarti Om kamu tidak jomblo lagi." ucap Radja santai, tanpa mau menghentikan kegiatannya saat ini, yang tengah menyelusuri tengkuk hingga bahu Berliana menggunakan hidung mancungnya.
"Om Raga, menikah dengan Elira." ucapan Elira yang selanjutnya membuat Radja menghentikan kegiatannya.
Pria yang hanya memakai handuk membelit pingangnya itu, terlihat mengerenyitkan dahi. Tatapannya tertuju pada kedua mata hitam bening Berliana, yang tengah menikmati tubuh setengah nakednya. Bahkan dengan nakal, Berliana meraba dada bidang hingga perut berotot keras miliknya.
"Om Raga menikah dengan Elira?" tanya Radja lagi, namun dia membiarkan Berliana berbuat sesuka Sang Ratu pada tubuhnya.
Berliana menganggukkan kepala pelan, namun kedua mata hitam beningnya terus saja menatap lapar pada roti tanpa selai yang ada dihadapannya saat ini.
"Ini keras banget sih, aku gigit boleh gak?" gumam Berliana pelan, namun masih terdengar oleh Radja. Kedua mata Radja membulat kala melihat Berliana sudah membuka mulut, hendak menggigit perutnya.
"Queen?" panggil Radja sembari memundurkan tubuhnya kebelakang, alhasil gerakan yang diambil Radja secara tiba tiba itu, membuat Berliana hampir tersungkur mencium lantai, kalau saja Radja tidak cepat menahan tubuhnya.
"Kamu mau apa sih?" tanya Radja heran, apa lagi saat melihat wajah cemberut sang Ratu.
"Mau nyicip doang, masa gak boleh. Gigit dikit aja, tapi, ih udah gak mood akunya, udahlah sana pakai baju!" gerutu Berliana sembari mendorong pelan tubuh Radja yang tengah mendekapnya.
__ADS_1
Radja yang melihat wajah badmood Berliana, hanya mengulum senyum. Dia selalu menikmati wajah cantik itu ketika marah, apa lagi marah karena tidak mendapatka tubuhnya untuk Berliana nikmati.
"Kalau kamu mau bilang saja, My Queen? tidak usah badmood begitu, aku akan memberikan servis terbaik malam ini, bagaimana hm?" bisik Radja tepat didepan bibir Berliana, kedua mata Sang Ratu bahkan terlihat mengerejab cepat, kala mendengar bisikan sensual suaminya.
Bahkan Berliana bisa merasakan hembusan napas hangat Radja diwajahnya.
Radja semakin merengkuh pinggang kecil Berliana menggunakan sebelah tangan, agar wanita itu semakin merapat pada tubuhnya.
"Kamu bisa menikmati semuanya, diatas ranjang kita, Sayang." bisik Radja, yang sudah dirasuki malaikat pencatatan amal baik.
Berliana terdiam tak bersuara, namun kedua matanya tidak dapat berbohong, kalau saat ini dia mulai tergoda tawaran sang Malaikat yang mencatatan amal baik di malam jum'at dan malam malam lainya.
"Ayo, aku udah pingin gigit ini." ucap Berliana pelan, sembari membelai lembut perut Radja hingga batas bawah. Akhirnya jiwa lemah Berliana rontok juga, dia tidak akan kuat saat bersangkutan dengan sentuhan sang Radja, dan bersyukurlah saat ini Lora tengah tidur bersama Soraya dan Rajasa, jadi tidak ada satpam malam ini.
MATA RADJA, SAYU SAYU GIMANA GITU YA
__ADS_1